KELOMPOK
1
1.
Metformin
dan Amlodipine
|
Score: 3
|
1.
Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai
interaksi ini pada manusia?
Tidak ada karena dalam jurnal di
ujikan kepada hewan tikus terbukti sebagai berikut:
ABSTRAK
Latar
Belakang: Amlodipine digunakan sebagai banyak kondisi jantung esp hipertensi.
Diabetes mempengaruhi sistem kardiovaskular buruk. Jadi penelitian ini
dilakukan untuk melihat pengaruh amlodipine pada kadar glukosa darah dan
interaksi dengan yang biasa digunakan agen hipoglikemik oral pada diabetes
& non kelinci albino diabetes. Metode: Kelinci dibagi menjadi sembilan
kelompok dari 6 kelinci di masing-masing kelompok. Saya dan kelompok II yang
non-diabetes diberikan saline normal dan amlodipine masing-masing. Kelompok III
ke IX dibuat diabetes dengan menggunakan aloksan monohidrat (150mg / kg i.p.)
& diberikan yang normal saline, glimepiride, metformin, pioglitazone,
amlodipine + glimepiride, masing-masing amlodipine + metformin dan amlodipine +
pioglitazone. Semua obat yang diberikan secara oral sekali sehari selama 7 hari
kecuali kelompok VII, VIII dan IX yang glimepiride, metformin dan pioglitazone
ditambahkan pada hari ke-7. Setelah kadar glukosa darah GTT diukur pada 0, 1, 2
dan 6 jam pada hari ke-7 di semua kelompok dengan menggunakan spektrofotometer.
Hasil: Setelah 7 hari pengobatan amlodipine yang diproduksi hiperglikemia
signifikan pada kelinci normal. Amlodipine pada kombinasi, menyebabkan
signifikan menurun pada efek hipoglikemik dari glimepiride, signifikan
meningkatkan efek hipoglikemik metformin, sementara tidak ada perubahan
signifikan dalam efek hipoglikemik dari pioglitazone pada kelinci diabetes.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa amlodipine menyebabkan
hiperglikemia pada kelinci normal. Amlodipine secara signifikan mengubah efek
hipoglikemik dari glimepiride dan metformin dibandingkan dengan kelompok
kontrol. Jika temuan ini benar untuk manusia maka amlodipine harus menggunakan
hati-hati pada pasien diabetes pada obat hipoglikemik oral.
2. Apakah
interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme
interaksi dari obat presipitan? Yes
Kombinasi
amlodipine dengan metformin menunjukkan interaksi menguntungkan. Amlodipine meningkatkan
efek hipoglikemia dari metformin. Efek ini menguntungkan dapat dijelaskan
dengan hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (22,90%, 31,64% dan
33,80% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing) dengan metformin, setelah kombinasi
amlodipine dengan metformin efek hipoglikemia dari metformin meningkat (26,54%,
37,15% dan 37,66% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing).
3. Apakah
interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme
interaksi dari obat objek?yes
Kombinasi
amlodipine dengan metformin menunjukkan interaksi menguntungkan. Amlodipine
meningkatkan efek hipoglikemia dari metformin. Efek ini menguntungkan dapat
dijelaskan dengan hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (22,90%,
31,64% dan 33,80% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing) dengan metformin, setelah
kombinasi amlodipine dengan metformin efek hipoglikemia dari metformin
meningkat (26,54%, 37,15% dan 37,66% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing).
4. Apakah
interaksi tersebut terjadi pada waktu yang tepat (onset atau ofset)?
Yes . Karena dosis awal amlodipine
adalah 5 mg/hari menunjukan waktu paruh amlodipine 24 jam. Sedangkan dosis awal
metformin adalah 500 mg atau 850 mg yang diminum 1-3 kali per hari. Hal ini
menunjukan waktu paruh metformin adalah 8 jam, sehingga apabila kedua obat
disatukan akan terjadi interaksi dalam tubuh. Hal ini dibuktikan dalam jurnal
sebagai berikut
Kombinasi
amlodipine dengan metformin menunjukkan interaksi menguntungkan. Amlodipine
meningkatkan efek hipoglikemia dari metformin. Efek ini menguntungkan dapat
dijelaskan dengan hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (22,90%,
31,64% dan 33,80% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing) dengan metformin, setelah
kombinasi amlodipine dengan metformin efek hipoglikemia dari metformin
meningkat (26,54%, 37,15% dan 37,66% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing).
5. Apakah
terjadi penurunan efek interaksi ketika obat presipitan dihentikan tetapi tidak
ada perubahan pada objek. (jika obat presipitan tidak dihentikan maka pilihlah
“unknown atau NA” dan melewatkan pertanyaan 6).
Unknown.
6. Apakah
interaksi muncul kembali ketika obat presipitan diberikan lagi pada penggunaan
obat objek yang lama
Unknown.
7. Adakah
penyebab lain dari kejadian interaksi obat tersebut?
Unknown.
8. Apakah
iteraksi lebih besar ketika dosis obat presipitan ditingkatkan atau berkurang
ketika dosis obat presipitannya diturunkan?
Yes Pada tikus normoglycemic, Amlodipine
dalam dosis 2,5 mg / kg bila diberikan dalam kombinasi dengan metformin (75 mg
/ kg), konsentrasi glukosa dalam 3 hr waktu dan 5 jam meningkat, tetapi jika
diberikan dalam dosis 5 mg / kg dalam kombinasi dengan metformin tingkat
glukosa berkurang 1 jam dan 3 waktu jam poin dan kemudian meningkat.
Kesimpulan dari hasil
analisi ini menunjukan score 4 yang menunjukan interaksi obat amoldipine dengan
metformin ini possible.
2.
Amlodipine
Dan Glimepiride
5.
Apakah ada laporan
yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
ABSTRAK
Latar
Belakang: Amlodipine digunakan sebagai banyak kondisi jantung esp hipertensi.
Diabetes mempengaruhi sistem kardiovaskular buruk. Jadi penelitian ini
dilakukan untuk melihat pengaruh amlodipine pada kadar glukosa darah dan
interaksi dengan yang biasa digunakan agen hipoglikemik oral pada diabetes
& non kelinci albino diabetes. Metode: Kelinci dibagi menjadi sembilan
kelompok dari 6 kelinci di masing-masing kelompok. Saya dan kelompok II yang
non-diabetes diberikan saline normal dan amlodipine masing-masing. Kelompok III
ke IX dibuat diabetes dengan menggunakan aloksan monohidrat (150mg / kg i.p.)
& diberikan yang normal saline, glimepiride, metformin, pioglitazone,
amlodipine + glimepiride, masing-masing amlodipine + metformin dan amlodipine +
pioglitazone. Semua obat yang diberikan secara oral sekali sehari selama 7 hari
kecuali kelompok VII, VIII dan IX yang glimepiride, metformin dan pioglitazone
ditambahkan pada hari ke-7. Setelah kadar glukosa darah GTT diukur pada 0, 1, 2
dan 6 jam pada hari ke-7 di semua kelompok dengan menggunakan spektrofotometer.
Hasil: Setelah 7 hari pengobatan amlodipine yang diproduksi hiperglikemia
signifikan pada kelinci normal. Amlodipine pada kombinasi, menyebabkan
signifikan menurun pada efek hipoglikemik dari glimepiride, signifikan
meningkatkan efek hipoglikemik metformin, sementara tidak ada perubahan
signifikan dalam efek hipoglikemik dari pioglitazone pada kelinci diabetes.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa amlodipine menyebabkan
hiperglikemia pada kelinci normal. Amlodipine secara signifikan mengubah efek
hipoglikemik dari glimepiride dan metformin dibandingkan dengan kelompok
kontrol. Jika temuan ini benar untuk manusia maka amlodipine harus menggunakan
hati-hati pada pasien diabetes pada obat hipoglikemik oral.
1.
Apakah interaksi obat yang diobservasi
ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi dari obat presipitan?
Yes
Kombinasi
amlodipine dan glimepiride pada kelinci diabetes menunjukkan bahwa amlodipine
mengurangi efek hipoglikemik dari glimepiride. Efek antagonis ini dapat
dijelaskan oleh hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (24,45% pada 1
jam, 36,52 pada 2 jam dan 41,05% pada 6 jam) dengan glimepiride saja, sedangkan
setelah penambahan amlodipine dengan glimepiride, efek hipoglikemia dari
glimepiride kurang (18,34 % pada 1 jam, 29,61% pada 2 jam dan 34.01% pada 6
jam) pada kelinci diabetes. Ini efek hipoglikemik penurunan glimepiride dengan
amlodipine bisa disebabkan penghambatan release.11,12 insulin.
2. Apakah
interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme
interaksi dari obat objek? YES
Kombinasi
amlodipine dan glimepiride pada kelinci diabetes menunjukkan bahwa amlodipine
mengurangi efek hipoglikemik dari glimepiride. Efek antagonis ini dapat
dijelaskan oleh hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (24,45% pada 1
jam, 36,52 pada 2 jam dan 41,05% pada 6 jam) dengan glimepiride saja, sedangkan
setelah penambahan amlodipine dengan glimepiride, efek hipoglikemia dari
glimepiride kurang (18,34 % pada 1 jam, 29,61% pada 2 jam dan 34.01% pada 6
jam) pada kelinci diabetes. Ini efek hipoglikemik penurunan glimepiride dengan
amlodipine bisa disebabkan penghambatan release.11,12 insulin.
3. Apakah
interaksi tersebut terjadi pada waktu yang tepat (onset atau ofset)? YES
Kombinasi
amlodipine dan glimepiride pada kelinci diabetes menunjukkan bahwa amlodipine
mengurangi efek hipoglikemik dari glimepiride. Efek antagonis ini dapat
dijelaskan oleh hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (24,45% pada 1
jam, 36,52 pada 2 jam dan 41,05% pada 6 jam) dengan glimepiride saja, sedangkan
setelah penambahan amlodipine dengan glimepiride, efek hipoglikemia dari
glimepiride kurang (18,34 % pada 1 jam, 29,61% pada 2 jam dan 34.01% pada 6
jam) pada kelinci diabetes. Ini efek hipoglikemik penurunan glimepiride dengan
amlodipine bisa disebabkan penghambatan release.11,12 insulin.
4. UNKNOWN
5. UNKNOWN
6. UNKNOWN
7. UNKNOWN
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari Drug
Interaction Probability Scale
(DIPS) untuk interaksi yang pertama yaitu Metformin dan Amlodipine dengan hasil score 3 yang berarti
interaksi obat tersebut menunjukan probable yang artinya mungkin terjadinya
interaksi antara kedua obat tersebut. Sedangkan untuk interaksi dari Amlodipine
Dan Glimepiride dengan hasil
score 2 dari score tersebut terdapat pada rentang points 2 sampai 4 yang
berarti possible yang artinya mungkin terjadi interaksi antara
kedua obat tersebut
KELOMPOK
2
Alprazolam
dengan Omeprazol
a.
ya
Gagal jantung kongestif (GJK) adalah suatu keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah yang mencukupi untuk kebutuhan tubuh.Drug Related Problem merupakan suatu peristiwa atau keadaan dimana terapi obat berpotensi atau secara nyata dapat mempengaruhi hasil terapi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persentase Drug Related Problem kategori interaksi obat, overdosis dan dosis sub terapi pada pasien GJK. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional, dimana pengambilan data dilakukan secara retrospekstif pada bulan Juli sampai Agustus 2015 di RS Universitas Hasanuddin.Analisa data menggunakan standar penggunaan obat berdasarkan standar terapi penyakit dan literatur ilmiah.Analisis Drug Related Problem dilakukan terhadap data rekam medis dari 25 orang pasien. Karakteristik pasien yang dilihat meliputi usia dan jenis kelamin. Karakteristik usia meliputi usia 26-35 tahun sebanyak 2 pasien (8%), usia 46-56 tahun sebanyak 5 pasien (20%), usia 56-65 tahun sebanyak 6 pasien (24%), usia >65 tahun sebanyak 12 pasien (48%) dan karakteristik jenis kelamin meliputi pria sebanyak 12 pasien (48%) dan wanita 13 pasien (52%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 22 kejadian Drug Related Problem meliputi 14 kejadian kategori interaksi obat (63,63%), 5 kejadian kategori overdosis (22,72%) dan 3 kejadian kategori dosis sub terapi (13,63%).
b.
ya
Ya, karena Alprazolam
berinteraksi dengan omeprazol jika pemberiannya bersamaan dimana dapat
meningkatkan efek sedasi dan kadar alprazolam dalam darah, klirens menurun, t½
diperpanjang, sehingga diperlukan pemantauan untuk sedasi yang berkepanjangan
dan perlu mengurangi dosis alprazolam.
c.
Ya, karena Alprazolam terutama bekerja
mempotensiasi inhibisi neuron dengan asam gama amino butirat (GABA) sebagai
mediator. GABA dan alprazolam terikat secara selektif dengan reseptor GABA yang
akan menyebabkan pembukaan kanal ion Cl- . Membran sel saraf secara normal
tidak permeabel terhadap ion klorida, tetapi bila kanal Cl- terbuka,
memungkinkan masuknya ion klorida, meningkatkan potensial elektrik sepanjang
membran sel dan terjadi hiperpolarisasi membran sel saraf sehingga menyebabkan
depresi sistem saraf pusat
d.
Unknown,
karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
e.
Unknown,
karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
f.
Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang
sesuai untuk menjawab pertanyaan.
g.
Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang
sesuai untuk menjawab pertanyaan.
h.
Unknown,
karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan
i.
Unknown,
karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
j.
Unknown,
karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
Dari data hasil pertanyaan DIPS didapatkan score 3
yang artinya possible atau mungkin terjadi interaksi antara kedua obat
tersebut.
Alprazolam
dengan Fenitoin
a.
Yes
Penyakit saraf
nonpsikotik khususnya epilepsi memiliki prevalensi yang cukup tinggi di
Indonesia. Epilepsi seringkali mucul disertai dengan penyakit lain. Salah satu
obat antiepilepsi lini pertama adalah fenitoin, sehingga diperlukan kajian
mengenai interaksi obat fenitoin. Pada terapi secara farmakologinya, penyakit
epilepsi membutuhkan kombinasi yang seringkali menyebabkan munculnya interaksi
obat, baik secara farmakodinamik maupun farmakokinetik. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan jenis interaksi obat fenitoin, serta
bagaimana mekanisme dan efek yang ditimbulkan dari interaksi tersebut.
Penelitian ini dilakukan menggunakan desain penelitian non-eksperimental yaitu
studi retrospektif dan data sampel yang didapat dikaji secara deskriptif
berdasarkan penelusuran pustaka. Pengambilan sampel dilakukan dengan
menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 255 resep
yang berpotensi interaksi dari 392 sampel resep secara keseluruhan dengan 58
interaksi obat fenitoin (52 interaksi farmakokinetik dan 6 interaksi yang tidak
diketahui mekanismenya). Secara umum interaksi yang terjadi adalah interaksi
secara farmakokinetik dengan mekanisme yang mayoritas menunjukkan bahwa obat
satu mengganggu obat lain sehingga berefek pada menurun atau meningkatnya efek
farmakologi obat dan meningkatnya efek samping, sehingga perlu diatasi dengan
menghindari kombinasi obat tersebut, penyesuaian dosis, penggantian kombinasi
obat atau dilakukan pemantauan dari dokter yang meresepkan.
Kata Kunci:
antiepilepsi, fenitoin, studi retrospektif, interaksi obat.
![]() |
|||
b.
Ya, fenitoin meningkatkan metabolisme alprazolam dihati sehingga
kadarnya dalam darah menurun (Baxter, 2008). Hal ini dapat menimbulkan efek
samping keracunan fenitoin pada beberapa kasus pasien epilepsi yang ditandai
salah satunya dengan menurunnya efek sedative dari alprazolam yang cukup signifikan.
c.
Apakah interaksi obat
yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi dari
obat objek?
![]() |
d.
Ya, fenitoin meningkatkan metabolisme alprazolam dihati sehingga
kadarnya dalam darah menurun (Baxter, 2008). Hal ini dapat menimbulkan efek
samping keracunan fenitoin pada beberapa kasus pasien epilepsi yang ditandai
salah satunya dengan menurunnya efek sedative dari alprazolam yang cukup signifikan.
e.
Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang
sesuai untuk menjawab pertanyaan
f.
Unknown, karena
tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
g.
Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang
sesuai untuk menjawab pertanyaan.
h.
Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang
sesuai untuk menjawab pertanyaan.
i.
Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang
sesuai untuk menjawab pertanyaan.
j.
Unknown,
karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
k.
Unknown,
karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
Dari data hasil pertanyaan DIPS didapatkan score yang artinya probable
atau mungkin terjadi interaksi antara kedua obat tersebut.
KESIMPULANBerdasarkan hasil dari Drug Interaction
Probability Scale (DIPS) untukinteraksi
yang pertama yaitu Alprazolam dengan Omeprazole dengan hasil score 3 danscore tersebut terdapat pada rentang points 2 sampai 4 yang berarti interaksi obat tersebutmenunjukan
possible yang artinya
mungkin terjadinya interaksi antara kedua obat tersebut. Sedangkan untuk
interaksi dari Alprazolam dengan Fenitoin juga menunjukan hasi
yang sama dengan hasil score 3 dari score tersebut terdapat pada rentang
points 2 sampai 4 yang berarti possible yang artinya mungkin terjadi
interaksi antara kedua obat tersebut
KELOMPOK 3
Gagal jantung kongestif adalah suatu
keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah yang mencukupi untuk kebutuhan
tubuh. Di Indonesia angka kejadiannya belum diketahui tetapi diperkirakan terus
meningkat seiring dengan perubahan pola hidup dan peningkatan kesejahteraan.
Mekanisme kompensasi meliputi takikardi dan peningkatan aktivitas simpatik,
retensi cairan, hipertrofi ventrikel, dan vasokonstriktor. Tujuan utama dari
pengobatan gagal jantung adalah mengurangi gejala akibat bendungan sirkulasi,
memperbaiki kapasitas kerja dan kualitas hidup, serta memperpanjang harapan
hidup. Tiga golongan obat gagal jantung menunjukkan efektivitas klinis dalam
mengurangi gejala-gejala dan memperpanjang kehidupan. Obat tersebut adalah vasodilator (ACE inhibitor dan
relaksan otot polos) yang mengurangi beban miokard, obat diuretik yang
menurunkan cairan ekstraseluler dan obat-obat inotropic (digitalis, agonis
_-adrenergik, dan inhibitor fosfodiesterase) yang meningkatkan kemampuan
kekuatan kontraksi otot jantung. Pasien gagal jantung kongestif biasanya
menderita penyakit penyerta yang lain sehingga membutuhkan berbagai macam obat
dalam terapinya. Pemberian obat yang bermacam-macam tanpa dipertimbangkan
dengan baik dapat merugikan pasien karena dapat mengakibatkan terjadinya
interaksi obat. Interaksi obat dapat mengakibatkan terjadinya perubahan efek
terapi. Interaksi obat terjadi jika suatu obat mengubah efek obat lainnya yang
diberikan secara bersamaan. Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila
berakibat meningkatkan toksisitas dan menurunkan efektivitas obat yang
berinteraksi. Interaksi obat berdasarkan mekanismenya dibedakan menjadi tiga
macam yaitu inkompatibilitas, interaksi farmakokinetika, dan interaksi
farmakodinamik. Berdasarkan level kejadiannya, interaksi obat terdiri dari established
(sangat mantap terjadi), probable (interaksi obat bisa terjadi), suspected
(interaksi obat diduga terjadi),possible (interaksi obat mungkin terjadi,
belum pasti terjadi), serta unlikely (interaksi obat tidak terjadi). Sedangkan
berdasarkan keparahannya, interaksi obat dapat diklasifiksikan
menjadi tiga yaitu mayor (dapat menyebabkan kematian), moderat
(sedang), dan minor. Clinical significance adalah derajat dimana
obat yang berinteraksi akan mengubah kondisi pasien. Clinical significance
dikelompokkan berdasarkan keparahan dan dokumentasi interaksi yang terjadi.
Terdapat 5 macam dokumentasi interaksi, yaitu establish (interaksi obat
sangat mantap terjadi), probable (interaksi obat dapat terjadi), suspected
(interaksi obat diduga terjadi), possible (interaksi obat belum
pasti terjadi), unlikely (kemungkinan besar interaksi obat tidak
terjadi). Derajat keparahan akibat interaksi diklasifikasikan menjadi minor
(dapat diatasi dengan baik), moderat (efek sedang, dapat menyebabkan kerusakan
organ), mayor (efek fatal, dapat menyebabkan kematian). Level signifikansi
interaksi 1,2 dan 3 menunjukkan bahwa interaksi obat kemungkinan terjadi. Level
signifikansi interaksi 4 dan 5 interaksi belum pasti terjadi dan belum
diperlukan antisipasi untuk efek yang terjadi.
Interaksi
Captopril dengan Spirronolactone
|
PERTANYAAN DIPS
|
Yes
|
No
|
Unknown or NA
|
|
1.
Apakah ada laporan yang dapat
dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
|
+1
|
|
|
|
2.
Apakah interaksi obat yang diobservasi
ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat persipitan?
|
+1
|
|
|
|
3.
Apakah interaksi obat yang diobservasi
ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?
|
+1
|
|
|
|
4.
Apakah interaksi obat tersebut terjadi
pada waktu yang tepat? (onset atau offset)
|
|
|
0
|
|
5.
Apakah terjadi penurunan efek
interaksi ketika obat persipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada
objek?
|
|
|
0
|
|
6.
Apakah interaksi muncul kembali ketika
obat persipitan diberikan lagi pada penggunaan obat objek lama?
|
|
|
0
|
|
7.
Adakah penyebab lain dari kejadian
ineraksi obat tersebut?
|
|
|
0
|
|
8.
Apakah interaksi lebih besar ketika
dosis obat presipian ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat
resipitanya ditturunkan?
|
|
|
0
|
|
SKOR
TOTAL
|
3
|
||
1.
Judul Jurnal : KAJIAN INTERAKSI OBAT
PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RSUP DR, SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2005
Kombinasi ini menyebabkan kadar kalium
tinggi pada pasien dengan high-risk (contoh :gangguan renal). Namun, mekanisme
terjadinya interaksi ini belum diketahui, perlu dimonitor secara teratur
terhadap fungsi ginjal dan kadar kalium serum. Perlu dipertimbangkan adanya
penyeesuaian dosis.
2.
Cara kerja captopril adalah dengan
menghambat produksi hormon angiotensin 2. Hasilnya akan membuat dinding
pembuluh darah lebih rileks sehingga dapat menurunkan tekanan darah, sekaligus
meningkatkan suplai darah dan oksigen ke jantung. Obat ini dapat digunakan
sendiri atau dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya. Dalam pasien
gagal jantung, captopril mengurangi kadar cairan yang berlebihan dalam tubuh
sehingga meringankan beban jantung dan memperlambat perkembangan gagal jantung.
3.
Spironolactone (Spironolakton) merupakan
obat Golongan Diuretik. Spironolacton digunakan untuk menangani Edema
yang berhubungan dengan Hipertensi, Gagal Jantung, Hiperaldosteronism primer,
Hipokalemia, sirosis Hati dan penanganan Hipersutisme. Preparat ini biasanya
dipakai bersama diuretik lain untuk mengurangi ekskresi kalium disamping
memperbesar efek diuresis. Diuretik ini memiliki durasi kerja 2 – 3 hari.
Mengikat protein sebesar 91 – 98% dan Waktu paruh spironolactone 78 – 84 menit
A.
Interaksi
Furosemide dengan digoxin
|
PERTANYAAN DIPS
|
Yes
|
No
|
Unknown or NA
|
|
1.
Apakah ada laporan yang dapat
dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
|
+1
|
|
|
|
2.
Apakah interaksi obat yang diobservasi
ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat persipitan?
|
+1
|
|
|
|
3.
Apakah interaksi obat yang diobservasi
ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?
|
+1
|
|
|
|
4.
Apakah interaksi obat tersebut terjadi
pada waktu yang tepat? (onset atau offset)
|
+1
|
|
|
|
5.
Apakah terjadi penurunan efek
interaksi ketika obat persipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada
objek?
|
|
|
0
|
|
6.
Apakah interaksi muncul kembali ketika
obat persipitan diberikan lagi pada penggunaan obat objek lama?
|
|
|
0
|
|
7.
Adakah penyebab lain dari kejadian
ineraksi obat tersebut?
|
|
|
0
|
|
8.
Apakah interaksi lebih besar ketika
dosis obat presipian ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat
resipitanya ditturunkan?
|
|
|
4
|
|
SKOR
TOTAL
|
4
|
||
1.
Judul Jurnal : KAJIAN INTERAKSI OBAT
PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RSUP DR, SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2005
Diuretik menginduksi gangguan elektrolit
sehingga mengakibatkan terjadinya aritmia yang diinduksi oleh digoksin. Perlu
dilakukan pengukuran kadar kalium darah ketika menggunakan kombinasi obat ini.
Disamping itu juga dapat dilakukan pemberian suplemen pada pasien dengan kadar
kalium yang rendah. Pencegahan kehilangan kalium dengaat pembatasan natrium
atau penambahan diuretic hemat juga bermanfaat.
2.
Obat furosemide adalah obat yang dibuat dari turunan asam antranilat. Obat
Furosemid bekerja pada glomerulus ginjal untuk menghambat penyerapan kembali
zat natrium oleh sel tubulus ginjal. Furosemid akan meningkatkan pengeluaran
air, natrium, klorida, dan kalium tanpa mempengaruhi tekanan darah normal.
Setelah pemakaian oral furosemid akan diabsorpsi sebagian secara cepat dengan
awal kerja obat terjadi dalam ½ sampai 1 jam, dengan lama kerja yang pendek
berkisar 6 sampai 8 jam, kemudian akan diekskresikan bersama dengan urin dan
feses. Dengan cara kerjanya tersebut obat furosemid dapat digunakan untuk
membuang cairan yang berlebihan dari di dalam tubuh.
3.
Mekanisme Digoksin melalui 2 cara yaitu
efek langsung dan efek tidak langsung. Efek langsung yaitu meningkatkan
kekuatan kontraki otot jantung (efek inotropik positif). Hal ini terjadi
berdasarkan penghambatan enzim Na+,K+ -ATPase dan peningkatan arus masuk ion
kalsium ke inta sel. Efek tidak langsung yaitu pengaruh digoksin terhadap
aktivitas saraf otonom dan sensitivitas jantung terhadap neorotransmiter.
4.
Delyed, antara 20-24 jam
B.
Interaksi
Captopril dengan Furosemid
|
PERTANYAAN DIPS
|
Yes
|
No
|
Unknown or NA
|
|
1.
Apakah ada laporan yang dapat
dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
|
+1
|
|
|
|
2.
Apakah interaksi obat yang diobservasi
ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat persipitan?
|
+1
|
|
|
|
3.
Apakah interaksi obat yang diobservasi
ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?
|
+1
|
|
|
|
4.
Apakah interaksi obat tersebut terjadi
pada waktu yang tepat? (onset atau offset)
|
+1
|
|
|
|
5.
Apakah terjadi penurunan efek
interaksi ketika obat persipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada
objek?
|
|
|
0
|
|
6.
Apakah interaksi muncul kembali ketika
obat persipitan diberikan lagi pada penggunaan obat objek lama?
|
|
|
0
|
|
7.
Adakah penyebab lain dari kejadian
ineraksi obat tersebut?
|
|
|
0
|
|
8.
Apakah interaksi lebih besar ketika
dosis obat presipian ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat
resipitanya ditturunkan?
|
|
|
0
|
|
SKOR
TOTAL
|
4
|
||
1.
Judul Jurnal : KAJIAN INTERAKSI OBAT
PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RSUP DR, SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2005
Iya, Karena furosemide meningkatkan efek
ACE inhibitor. Hal ini kemungkinan adanya penghambatan produksi Angiotensin II
oleh ACE inhibitor. Diuretik merangsang sekresi renin dan mengaktifkan system
renin angiotensin aldosterone sehingga memberi efek sinergik dengan penghambat
ACE. Oleh karena itu pada pasien yang menggunakan kombinasi obat ini harus
dimonitoring status cairan dan berat badan secara hati-hati.
2.
Cara kerja captopril adalah dengan
menghambat produksi hormon angiotensin 2. Hasilnya akan membuat dinding
pembuluh darah lebih rileks sehingga dapat menurunkan tekanan darah, sekaligus
meningkatkan suplai darah dan oksigen ke jantung. Obat ini dapat digunakan
sendiri atau dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya. Dalam pasien
gagal jantung, captopril mengurangi kadar cairan yang berlebihan dalam tubuh
sehingga meringankan beban jantung dan memperlambat perkembangan gagal jantung.
3.
Obat furosemide adalah obat yang dibuat dari turunan asam antranilat. Obat
Furosemid bekerja pada glomerulus ginjal untuk menghambat penyerapan kembali
zat natrium oleh sel tubulus ginjal. Furosemid akan meningkatkan pengeluaran
air, natrium, klorida, dan kalium tanpa mempengaruhi tekanan darah normal.
Setelah pemakaian oral furosemid akan diabsorpsi sebagian secara cepat dengan
awal kerja obat terjadi dalam ½ sampai 1 jam, dengan lama kerja yang pendek
berkisar 6 sampai 8 jam, kemudian akan diekskresikan bersama dengan urin dan
feses. Dengan cara kerjanya tersebut obat furosemid dapat digunakan untuk
membuang cairan yang berlebihan dari di dalam tubuh.
4.
Delayed,
antara 20-24 jam.
C.
Interaksi
Digoxin dengan Spironolactone
|
PERTANYAAN DIPS
|
Yes
|
No
|
Unknown or NA
|
|
1.
Apakah ada laporan yang dapat
dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
|
+1
|
|
|
|
2.
Apakah interaksi obat yang diobservasi
ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat persipitan?
|
+1
|
|
|
|
3.
Apakah interaksi obat yang diobservasi
ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?
|
+1
|
|
|
|
4.
Apakah interaksi obat tersebut terjadi
pada waktu yang tepat? (onset atau offset)
|
+1
|
|
|
|
5.
Apakah terjadi penurunan efek
interaksi ketika obat persipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada
objek?
|
|
|
0
|
|
6.
Apakah interaksi muncul kembali ketika
obat persipitan diberikan lagi pada penggunaan obat objek lama?
|
|
|
0
|
|
7.
Adakah penyebab lain dari kejadian
ineraksi obat tersebut?
|
|
|
0
|
|
8.
Apakah interaksi lebih besar ketika
dosis obat presipian ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat
resipitanya ditturunkan?
|
|
|
0
|
|
SKOR
TOTAL
|
4
|
||
1.
Judul Jurnal : KAJIAN INTERAKSI OBAT
PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RSUP DR, SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2005
Sprinolaktone dapat memperlemah efek
inotropic positif digoksin. Sprinolakton berefek inotropic negative sehingga
melawan efek inotropic positif dari digoksin. Dosis digoksin harus disesuaikan
2.
Mekanisme Digoksin melalui 2 cara yaitu
efek langsung dan efek tidak langsung. Efek langsung yaitu meningkatkan
kekuatan kontraki otot jantung (efek inotropik positif). Hal ini terjadi
berdasarkan penghambatan enzim Na+,K+ -ATPase dan peningkatan arus masuk ion
kalsium ke inta sel. Efek tidak langsung yaitu pengaruh digoksin terhadap
aktivitas saraf otonom dan sensitivitas jantung terhadap neorotransmiter.
3.
Spironolactone (Spironolakton) merupakan
obat Golongan Diuretik. Spironolacton digunakan untuk menangani Edema
yang berhubungan dengan Hipertensi, Gagal Jantung, Hiperaldosteronism primer,
Hipokalemia, sirosis Hati dan penanganan Hipersutisme. Preparat ini biasanya
dipakai bersama diuretik lain untuk mengurangi ekskresi kalium disamping
memperbesar efek diuresis. Diuretik ini memiliki durasi kerja 2 – 3 hari.
Mengikat protein sebesar 91 – 98% dan Waktu paruh spironolactone 78 – 84 menit
4.
1-2 jam
KESIMPULAN
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa interaksi obat potensial terjadi pada 99 (90%)
pasien rawat inap dan 126 (99,26%) pasien rawat jalan. Pada pasien rawat inap
ditemukan interaksi farmakokinetika sebanyak 20 jenis (50%), interaksi
farmakodinamik sebanyak 6 jenis (15%), dan interaksi dengan mekanisme yang
tidak diketahui sebanyak 14 jenis (35%). Jenis interaksi yang memiliki
insidensi kejadian paling tinggi secara berurutan adalah furosemid dengan ACE
inhibitor yang terjadi pada 84 pasien (76,36%), furosemid dengan asetosal
pada 66 pasien (60%), dan ACE inhibitor dengan asetosal pada 57 pasien
(51,82%). Pada pasien rawat jalan ditemukan interaksi farmakokinetika sebanyak
25 jenis (36%), interaksi farmakodinamik sebanyak 11 jenis (32%), dan interaksi
dengan mekanisme yang tidak diketahui sebanyak 8 jenis (32%). Jenis interaksi
yang memiliki insidensi kejadian paling tinggi secara berurutan adalah asetosal
ACE inhibitor yang terjadi pada 90 pasien (70,87%), furosemid
dengan ACE inhibitor pada 85 pasien (66,93%), dan ACE
inhibitor dengan suplemen kalium pada 85 pasien (66,93%).
KELOMPOK 4
Pemberian suatu obat (A) dapat mempengaruhi
aksi obat lainnya (B) dengan satu dari
dua mekanisme berikut:
1.
Modifikasi
efek farmakologi obat B tanpa mempengaruhi konsentrasinya di cairan jaringan (interaksi
farmakodinamik).
2.
Mempengaruhi
konsentrasi obat B yang mencapai situs aksinya (interaksi farmakokinetik).
a.
Interaksi
ini penting secara klinis mungkin karena indeks terapi obat B sempit
(misalnya, pengurangan sedikit saja efek akan menyebabkan kehilangan efikasi dan atau
peningkatan sedikit saja efek akan menyebabkan toksisitas).
b.
Interaksi
ini penting secara klinis mungkin karena kurva dosis-respon curam
(sehingga perubahan sedikit saja konsentrasi plasma akan menyebabkan perubahan efek
secara substansial).
c.
Untuk
kebanyakan obat, kondisi ini tidak ditemui, peningkatan yang sedikit
besar konsentrasi plasma obat-obat yang relatif tidak toksik seperti penisilin
hampir tidak menyebabkan peningkatan masalah klinis karena batas keamanannya lebar.
d.
Sejumlah
obat memiliki hubungan dosis-respon yang curam dan batas terapi yang sempit,
interaksi obat dapat menyebabkan masalah utama, sebagai contohnya obat
antitrombotik, antidisritmik, antiepilepsi, litium, sejumlah antineoplastik dan
obat-obat imunosupresan. (Hashem,
2005).
Secara umum, ada dua
mekanisme interaksi obat :
1.
Interaksi
Farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik
terjadi ketika suatu obat mempengaruhi absorbsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi obat lainnya sehingga meningkatkan atau mengurangi jumlah obat yang
tersedia untuk menghasilkan efek farmakologisnya (BNF 58, 2009).
Interaksi farmakokinetik
terdiri dari beberapa tipe :
a.
Interaksi
pada absorbsi obat
·
Efek perubahan pH gastrointestinal
Obat melintasi membran mukosa dengan difusi pasif tergantung pada apakah
obat terdapat dalam bentuk terlarut lemak yang tidak terionkan.
Absorpsi ditentukan oleh
nilai pKa obat, kelarutannya dalam lemak, pH isi usus dan sejumlah parameter
yang terkait dengan formulasi obat. Sebagai contoh adalah absorpsi asam
salisilat oleh lambung lebih besar terjadi pada pH rendah daripada pada pH
tinggi (Stockley, 2008).
·
Adsorpsi, khelasi, dan mekanisme pembentukan komplek
Arang aktif dimaksudkan bertindak sebagai agen penyerap di dalam usus untuk
pengobatan overdosis obat atau untuk menghilangkan bahan beracun lainnya,
tetapi dapat mempengaruhi penyerapan obat yang diberikan dalam dosis
terapetik. Antasida juga dapat menyerap sejumlah besar obat-obatan. Sebagai contoh,
antibakteri tetrasiklin dapat
membentuk khelat dengan sejumlah
ion logam divalen dan trivalen,
seperti kalsium, bismut aluminium,
dan besi, membentuk
kompleks yang kurang
diserap dan mengurangi efek antibakteri
(Stockley, 2008). 25
·
Perubahan motilitas gastrointestinal
Karena kebanyakan obat
sebagian besar diserap di bagian atas usus kecil, obat-obatan yang
mengubah laju pengosongan
lambung dapat mempengaruhi absorpsi. Propantelin misalnya,
menghambat pengosongan lambung dan
mengurangi penyerapan parasetamol
(asetaminofen), sedangkan metoklopramid
memiliki efek sebaliknya (Stockley, 2008).
·
Induksi atau inhibisi protein transporter
obat
Ketersediaan hayati beberapa
obat dibatasi oleh
aksi protein transporter obat.
Saat ini, transporter obat yang terkarakteristik paling
baik adalah P- glikoprotein.
Digoksin adalah substrat
P-glikoprotein, dan obat-obatan
yang menginduksi protein ini, seperti rifampisin, dapat mengurangi
ketersediaan hayati digoksin (Stockley, 2008).
·
Malabsorbsi dikarenakan obat
Neomisin menyebabkan
sindrom malabsorpsi dan dapat mengganggu
penyerapan sejumlah obat-obatan termasuk digoksin dan metotreksat (Stockley, 2008).
b.
Interaksi
pada distribusi obat
·
Interaksi ikatan protein
Setelah absorpsi, obat
dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh oleh sirkulasi. Beberapa obat secara total terlarut dalam cairan plasma, banyak yang
lainnya diangkut oleh beberapa proporsi molekul dalam larutan dan
sisanya terikat dengan protein plasma,
terutama albumin. Ikatan
obat dengan protein plasma bersifat reversibel, kesetimbangan dibentuk antara
26 molekul-molekul yang terikat dan yang
tidak. Hanya molekul tidak terikat yang
tetap bebas dan aktif secara farmakologi (Stockley, 2008).
·
Induksi dan inhibisi protein transport obat
Distribusi obat ke otak,
dan beberapa organ lain seperti testis, dibatasi oleh aksi protein transporter obat seperti
P-glikoprotein. Protein ini secara aktif
membawa obat keluar dari sel-sel ketika obat berdifusi secara pasif.
Obat yang termasuk
inhibitor transporter dapat meningkatkan penyerapan
substrat obat ke dalam otak, yang dapat meningkatkan efek samping
CNS (Stockley, 2008).
c.
Interaksi
pada metabolisme obat
·
Perubahan pada metabolisme fase pertama
Meskipun beberapa obat
dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk tidak
berubah dalam urin, banyak diantaranya secara kimia diubah menjadi senyawa lipid kurang larut, yang lebih mudah
diekskresikan oleh ginjal. Jika tidak
demikian, banyak obat yang akan bertahan dalam tubuh dan terus memberikan efeknya untuk waktu yang
lama. Perubahan kimia ini disebut metabolisme, biotransformasi,
degradasi biokimia, atau kadang- kadang detoksifikasi. Beberapa metabolisme
obat terjadi di dalam serum, ginjal,
kulit dan usus, tetapi proporsi terbesar dilakukan oleh enzim yang
ditemukan di membran retikulum endoplasma sel-sel hati. Ada dua jenis
reaksi utama metabolisme obat. Yang pertama, reaksi tahap I
(melibatkan oksidasi, reduksi atau
hidrolisis) obat-obatan menjadi senyawa yang lebih polar. Sedangkan, reaksi tahap II melibatkan
terikatnya obat dengan zat lain
(misalnya asam glukuronat, yang dikenal
sebagai glukuronidasi) 27 untuk membuat
senyawa yang tidak aktif. Mayoritas reaksi oksidasi fase I dilakukan oleh enzim sitokrom P450 (Stockley,
2008).
·
Induksi
Enzim
Ketika barbiturat
secara luas digunakan sebagai
hipnotik, perlu terus dilakukan peningkatan dosis seiring waktu untuk mencapai efek
hipnotik yang sama,
alasannya bahwa barbiturat
meningkatkan aktivitas enzim
mikrosom sehingga meningkatkan
laju metabolisme dan
ekskresinya (Stockley,
2008).
·
Inhibisi
enzim
Inhibisi
enzim menyebabkan berkurangnya
metabolisme obat, sehingga obat terakumulasi di dalam tubuh. Berbeda dengan
induksi enzim, yang mungkin memerlukan
waktu beberapa hari atau bahkan minggu untuk
berkembang sepenuhnya, inhibisi enzim
dapat terjadi dalam waktu 2
sampai 3 hari, sehingga terjadi perkembangan toksisitas yang cepat.
Jalur metabolisme yang paling sering
dihambat adalah fase I oksidasi
oleh isoenzim sitokrom P450.
Signifikansi klinis dari banyak interaksi inhibisi enzim tergantung pada sejauh mana tingkat kenaikan serum obat. Jika
serum tetap berada dalam kisaran terapeutik interaksi tidak penting
secara klinis (Stockley, 2008).
·
Faktor
genetik dalam metabolisme obat
Peningkatan
pemahaman genetika telah menunjukkan bahwa beberapa isoenzim sitokrom P450 memiliki polimorfisme genetik, yang
berarti bahwa beberapa dari populasi
memiliki varian isoenzim yang berbeda
aktivitas. Contoh yang paling
terkenal adalah CYP2D6, yang sebagian 28
kecil populasi memiliki varian aktivitas rendah dan dikenal sebagai metabolisme lambat. Sebagian
lainnya memiliki isoenzim cepat atau
metabolisme ekstensif. Kemampuan
yang berbeda dalam metabolisme
obat-obatan tertentu dapat menjelaskan
mengapa beberapa pasien
berkembang mengalami toksisitas ketika diberikan obat sementara
yang lain bebas dari gejala (Stockley,
2008).
·
Interaksi
isoenzim sitokrom P450 dan obat yang diprediksi
Siklosporin
dimetabolisme oleh CYP3A4, rifampisin
menginduksi isoenzim ini, sedangkan ketokonazol menghambatnya, sehingga
tidak mengherankan bahwa rifampisin
mengurangi efek siklosporin sementara
ketokonazol meningkatkannya (Stockley, 2008).
d.
Interaksi
pada ekskresi obat
·
Perubahan
pH urin
Pada nilai
pH tinggi (basa), obat yang bersifat
asam lemah (pKa 3-7,5) sebagian
besar terdapat sebagai molekul terionisasi larut lipid, yang tidak dapat berdifusi ke dalam sel tubulus dan
karenanya akan tetap dalam urin dan
dikeluarkan dari tubuh. Sebaliknya, basa lemah dengan nilai pKa 7,5 sampai 10.5. Dengan demikian, perubahan pH
yang meningkatkan jumlah obat dalam
bentuk terionisasi, meningkatkan
hilangnya obat (Stockley, 2008).
·
Perubahan
ekskresi aktif tubular renal
Obat yang menggunakan sistem
transportasi aktif yang sama di
tubulus ginjal dapat
bersaing satu sama lain dalam
hal ekskresi. Sebagai
contoh, probenesid mengurangi
ekskresi penisilin dan
obat lainnya. Dengan 29
meningkatnya pemahaman
terhadap protein transporter
obat pada ginjal,
sekarang diketahui bahwa
probenesid menghambat
sekresi ginjal banyak
obat anionik lain
dengan transporter anion organik (OATs) (Stockley, 2008).
·
Perubahan
aliran darah renal
Aliran darah
melalui ginjal dikendalikan
oleh produksi vasodilator
prostaglandin ginjal. Jika
sintesis prostaglandin ini
dihambat, ekskresi beberapa obat dari ginjal dapat berkurang
(Stockley, 2008).
2.
Interaksi
Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik
adalah interaksi yang terjadi antara obat yang
memiliki efek farmakologis,
antagonis atau efek samping yang hampir sama. Interaksi ini dapat terjadi karena kompetisi
pada reseptor atau terjadi antara obat- obat yang bekerja pada sistem
fisiologis yang sama. Interaksi ini biasanya dapat diprediksi dari pengetahuan tentang
farmakologi obat-obat yang berinteraksi
(BNF 58, 2009).
a.
Interaksi
aditif atau sinergis
Jika dua obat yang
memiliki efek farmakologis yang sama diberikan
bersamaan efeknya bisa bersifat aditif. Sebagai contoh, alkohol menekan
SSP, jika diberikan dalam jumlah sedang
dosis terapi normal sejumlah besar obat (misalnya ansiolitik, hipnotik, dan lain-lain), dapat menyebabkan mengantuk berlebihan. Kadang-kadang efek aditif menyebabkan toksik (misalnya aditif ototoksisitas, nefrotoksisitas, depresi sumsum tulang dan
perpanjangan interval QT) (Stockley, 2008).
b.
Interaksi
antagonis atau berlawanan
Berbeda dengan interaksi
aditif, ada beberapa pasang obat dengan kegiatan yang bertentangan satu sama lain. Misalnya
kumarin dapat memperpanjang waktu
pembekuan darah yang secara
kompetitif menghambat efek
vitamin K. Jika
asupan vitamin K
bertambah, efek dari
antikoagulan oral dihambat
dan waktu protrombin
dapat kembali normal, sehingga
menggagalkan manfaat terapi
pengobatan antikoagulan (Stockley, 2008).
B.
Tingkat Keparahan Interaksi Obat
Keparahan
interaksi diberi tingkatan dan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga level :
minor, moderate, atau major.
1.
Keparahan
minor
Sebuah
interaksi termasuk ke dalam
keparahan minor jika interaksi mungkin terjadi tetapi
dipertimbangkan signifikan potensial berbahaya terhadap pasien jika terjadi
kelalaian. Contohnya adalah penurunan absorbsi ciprofloxacin oleh
antasida ketika dosis diberikan kurang dari dua jam setelahnya (Bailie, 2004).
2.
Keparahan
moderate
Sebuah
interaksi termasuk ke dalam keparahan
moderate jika satu dari bahaya
potensial mungkin terjadi pada pasien, dan beberapa tipe intervensi/monitor
sering diperlukan. Efek interaksi
moderate mungkin menyebabkan
perubahan status klinis pasien, menyebabkan perawatan tambahan, perawatan
di rumah sakit dan atau perpanjangan lama tinggal di rumah sakit. Contohnya
adalah dalam kombinasi vankomisin dan gentamisin perlu dilakukan monitoring
nefrotoksisitas (Bailie, 2004).
3.
Keparahan
major
Sebuah
interaksi termasuk ke dalam keparahan
major jika terdapat probabilitas
yang tinggi kejadian yang membahayakan pasien termasuk kejadian yang
menyangkut nyawa pasien dan terjadinya
kerusakan permanen (Bailie, 2004).
Contohnya adalah perkembangan aritmia yang terjadi karena pemberian eritromisin
dan terfenadin (Piscitelii, 2005).
C.
Faktor-faktor Penyebab Interaksi Obat
Sekarang
ini, potensi efek yang tidak terduga sebagai akibat dari interaksi antara
obat dan obat lain atau makanan telah
ditetapkan. Risiko interaksi obat akan meningkat seiring
dengan peningkatan jumlah obat
yang digunakan oleh individu. Hal ini juga
menyiratkan risiko yang lebih besar
pada orang tua dan mengalami
penyakit kronis, karena mereka akan menggunakan obat-obatan lebih banyak daripada
populasi umum. Risiko juga meningkat bila rejimen pasien berasal
dari beberapa resep. Peresepan dari satu
apotek saja mungkin dapat menurunkan risiko interaksi yang tidak terdeteksi
(McCabe, et.al., 2003).
Interaksi obat potensial seringkali terjadi
pada pasien rawat inap yang diresepkan banyak pengobatan. Prevalensi
interaksi obat meningkat secara linear seiring dengan peningkatan jumlah obat
yang diresepkan, jumlah kelas obat dalam terapi, jenis kelamin dan usia pasien
(Mara and Carlos, 2006).
1.
INTERAKSI
ANTARA HALOPERIDOL DENGAN LEVODOPA
Haloperidol adalah
antipsikotik yang dilaporkan sering menimbulkan efek neurologis yaitugejala
ekstra piramidal berupa sindrom parkinson. Sedangkan Levodopa, yang paling
banyak digunakan pengobatan adalah L-dopa dalam berbagai bentuk. L-dopa berubah
menjadi dopamin di neuron dopaminergik oleh L- dekarboksilase asam amino
aromatik (sering dikenal dengan nama mantan dekarboksilase dopa-). Namun, hanya
1-5% dari L-dopa memasuki neuron dopaminergik. L sisa-dopa sering dimetabolisme
menjadi dopamin di tempat lain, menyebabkan berbagai efek samping. Karena
inhibisi umpan balik, L-dopa hasil pengurangan endogen dalam pembentukan
L-dopa, dan akhirnya menjadi kontraproduktif.
Berdasarkan hasil DIPS ( Drug
Interaction Probable Score ), diketahui bahwa interaksi antara Haloperidol dan
Levodopa memiliki score 6 yaitu Probable yang berarti interaksi memungkinkan
untuk terjadi apabila diberi kombinasi Haloperidol dan Levodopa secara
bersamaan. Dimana Haloperidol bertindak sebagai obat presipitan dan Levodopa
sebagai obat objek. Mekanisme yang terjadi dari interaksi tersebut yaitu
haloperidol mengurangi khasiat levodopa pada penyakit Parkinson oleh blokade
reseptor dopamin di korpus stratum.Hasilnya mungkin memperburuk fungsi motorik,
kambuh psikosis, atau kombinasi keduanya. Hasil dari DIPS yaitu
1. YA,
dibuktikan dengan adanya case report yang dilakukan pada wanita berusia 60
tahun yang memiliki penyakit parkinson.
2. YA, karena sesuai dengan literatur
bahwa Haloperidol merupakan antipsikosik yang dilaporkan dapat menimbulkan efek
neurologis yaitu gejala ekstra piramidal berupa sindrom parkinson. Mekanisme
yang terjadi yaitu haloperidol memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik
neuron pada otak.
3. YA, karena
mekanisme dari obat objek sesuai dengan literatur yaitu
4. YA. Karena interaksi antara obat
haloperidol dengan levodopa terjadi setelah 4 minggu pemberian haloperidol,
yang menyebabkan kondisi pasien penyakit parkinson menjadi menurun akibat
pemberian haloperidol.
5. YA. Karena
didalam jurnal disebutkan bahwa setelah delapan hari penarikan haloperidol,
gejala yang membaik yang terlihat pada
pasien secara signifikan.
6. UNKNOWN.
Karena tidak ada penelitian yang menjelaskan tentang kejadian tersebut.
7. NO. Karena
tidak ada sebab-sebab lain yang memungkinkan penyebab terjadinya interaksi
tersebut.
8. UNKNOWN.
Karena interaksi yang terjadi merupakan interaksi farmakodinamik sehingga tidak
melibatkan perubahan dalam konsentrasi obat objek.
9. UNKNOWN.
Karena tidak ada penilaian yang dibuat dan dilaporkan terhadap pertanyaan
tersebut.
10. UNKNOWN.
Karena tidak ada penelitian yang menunjukan kejadian tersebut.
2.
INTERAKSI
ANTARA HALOPERIDOL DENGAN AMITRIPTILIN
Mekanisme yang terjadi dari interaksi
Haloperidol dengan Amitriptilin yaitu Penggunaan secara bersamaan antara
amitriptilin dengan haloperidolmenyebabkanterjadinya peningkatan kadar
amitriptilin dalam darah. Hal ini dikarenakan haloperidolmenurunkan metabolisme
dari amitriptilin.
Berdasarkan hasil dari DIPS ( Drug Interaction
Probable Score ), diketahui bahwa interaksi antara Haloperidol dan Amitriptilin
memiliki score 5 yaitu Probable yang berarti interaksi memungkinkan untuk
terjadi apabila pemberian kombinasi Haloperidol dan Amitriptilin secara
bersamaan.Dimana Haloperidol bertindak sebagai obat presipitan dan Amitriptilin
sebagai obat objek. Hasil dari DIPS yaitu
1. YA.
Dibuktikan dengan adanya jumlah kejadian dari interaksi yaitu 2 kejadian dengan
persentase 4,55% yang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas.
2. YA. Karena
mekanisme kerja obat antipsikotik haloperidol adalah dengan cara memblokade
dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak.
3. YA.
Mekanisme dari Amitriptiline yaitu dengan menghambat re-uptake 5-HT dan
norepineprin dan menurunkan reseptor 5-HT sehingga dapat meningkatkan konsentrasi
5-HT dicelah sinaptik.4. YA. Karena
terdapat pernyataan yang menyebutkan bahwa pemakaian secara bersamaan
Haloperidol dengan Amitriptilin secara bersamaan setelah 2 minggu dapat
menimbulkan efek tonik-klonik.
5. UNKNOWN.
Karena tidak ada penelitian yang menunjukan bahwa obat presipitan dihentikan.
6. UNKNOWN.
Karena tidak ada penelitian yang menjelaskan tentang kejadian tersebut.
7. NO. Karena
tidak ada sebab-sebab lain yang menyebabkan terjadinya interaksi tersebut.
8. UNKNOWN.
Karena konsentrasi dari obat objek tidak terukur.
9. UNKNOWN.
Karena tidak ada penilaian yang dibuat dan dilaporkan terhadap pertanyaan
tersebut.
10. UNKNOWN.
Karena tidak ada penelitian yang menunjukan kejadian tersebut.
KESIMPULANBerdasarkan
hasil DIPS ( Drug Interaction Probable Score ), diketahui bahwa interaksi
antara Haloperidol dan Levodopa memiliki score 6 yaitu Probable yang berarti
interaksi memungkinkan untuk terjadi apabila diberi kombinasi Haloperidol dan
Levodopa secara bersamaan. Dimana Haloperidol bertindak sebagai obat presipitan
dan Levodopa sebagai obat objek. Berdasarkan hasil dari DIPS ( Drug Interaction
Probable Score ), diketahui bahwa interaksi antara Haloperidol dan Amitriptilin
memiliki score 5 yaitu Probable yang berarti interaksi memungkinkan untuk
terjadi apabila pemberian kombinasi Haloperidol dan Amitriptilin secara
bersamaan.Dimana Haloperidol bertindak sebagai obat presipitan dan Amitriptilin
sebagai obat objek
KELOMPOK 5
Mekanisme
kerja Paracetamol
Selama
bertahun-tahun digunakan, informasi tentang cara kerja parasetamol dalam tubuh
belum sepenuhnya diketahui dengan jelas hingga pada tahun 2006 dipublikasikan
dalam salah satu jurnal Bertolini A, et. al dengan topik Parasetamaol : New
Vistas of An Old Drug, mengenai aksi pereda nyeri dari parasetamol ini.
Mekanisme kerja yang sebenarnya dari
parasetamol masih menjadi bahan perdebatan. Parasetamol menghambat produksi
prostaglandin (senyawa penyebab inflamasi), namun parasetamol hanya sedikit
memiliki khasiat anti inflamasi. Telah dibuktikan bahwa parasetamol mampu
mengurangi bentuk teroksidasi enzim siklooksigenase (COX), sehingga
menghambatnya untuk membentuk senyawa penyebab inflamasi. Paracetamol juga
bekerja pada pusat pengaturan suhu pada otak. Tetapi mekanisme secara spesifik
belum diketahui.Ternyata di dalam tubuh efek analgetik dari parasetamol
diperantarai oleh aktivitas tak langsung reseptor canabinoid CB1. Di
dalam otak dan sumsum tulang belakang, parasetamol mengalami reaksi deasetilasi
dengan asam arachidonat membentuk N-arachidonoylfenolamin, komponen yang
dikenal sebagai zat endogenous cababinoid. Adanya N-arachidonoylfenolamin
ini meningkatkan kadar canabinoid endogen dalam tubuh, disamping juga
menghambat enzim siklooksigenase yang memproduksi prostaglandin
dalam otak. Karena efek canabino-mimetik inilah terkadang parasetamol
digunakan secara berlebihan.
Sebagaimana
diketahui bahwa enzim siklooksigenase ini berperan pada metabolisme asam
arakidonat menjadi prostaglandin H2, suatu molekul yang tidak stabil, yang
dapat berubah menjadi berbagai senyawa pro-inflamasi. Kemungkinan lain
mekanisme kerja parasetamol ialah bahwa parasetamol menghambat enzim
siklooksigenase seperti halnya aspirin mengurangi produksi prostaglandin, yang
berperan dalam proses nyeri dan demam sehingga meningkatkan ambang nyeri, namun
hal tersebut terjadi pada kondisi inflamasi, dimana terdapat konsentrasi
peroksida yang tinggi. Pada kondisi ini oksidasi parasetamol juga tinggi,
sehingga menghambat aksi anti inflamasi. Hal ini menyebabkan parasetamol tidak
memiliki khasiat langsung pada tempat inflamasi, namun malah bekerja di sistem
syaraf pusat untuk menurunkan temperatur tubuh, dimana kondisinya tidak
oksidatif.
Mekanisme
Reaksi
Paracetamol
bekerja dengan mengurangi produksi prostaglandins dengan mengganggu enzim
cyclooksigenase (COX). Parasetamol menghambat kerja COX pada sistem syaraf
pusat yang tidak efektif dan sel edothelial dan bukan pada sel kekebalan dengan
peroksida tinggi. Kemampuan menghambat kerja enzim COX yang dihasilkan otak
inilah yang membuat paracetamol dapat mengurangi rasa sakit kepala dan dapat
menurunkan demam tanpa menyebabkan efek samping,tidak seperti analgesik-analgesik
lainnya.
Mekanisme
Amlodipine
Menghambat ion
kalsium ketika memasuki saluran lambat atau area sensitif tegangan selektif
pada otot polos vaskuler dan miokardium selama depolarisasi, menghasilkan
relaksasi otot polos vaskuler koroner dan vasodilatasi koroner, meningkatkan
penghantaran oksigen pada pasien angina vasospastik. Amlodipine menghambat transmembran masuknya ion
kalsium ekstraseluler melintasi membran sel miokardium dan sel otot polos
pembuluh darah, tanpa mengubah konsentrasi serum kalsium.
Mekanisme
Simvastatin
Simvastatin adalah turunan metilasi
dari lovastatin yang bekerja secara kompetitif menghambat
3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme A (HMG-CoA) reduktase,enzim yang sangay
berperan dalam katalisasi biosintesis kolesterol. Menghambat
HMG-CoA reduktase, menyebabkan pengurangan berikutnya di synthesis kolesterol
hati Mengurangi konsentrasi serum kolesterol total, LDL-kolesterol,
VLDL-kolesterol, apo B, dan triglycerides (Tg). Statin dapat memperlambat
perkembangan dan / atau menyebabkan regresi aterosklerosis pada arteri koroner
dan / atau karotis, memodulasi BP pada pasien hiperkolesterolemia dengan
hipertensi, dan memiliki aktivitas anti-inflamasi.
Simvastatin-amlodipin
a.
Apakah ada laporan yang dapat
dipercaya sebelumnya mengenai interaksi
ini pada manusia ?
JAWAB
: YES
3-Hydroxy-3-methylglutaryl-koenzim
A (HMG-CoA) reduktase sering diresepkan dalam hubungan dengan agen
antihipertensi, termasuk antagonis kalsium. Simvastatin adalah reduktase
inhibitor HMG-CoA yang dimetabolisme oleh sitokrom P450 (CYP) 3A4. Kalsium
antagonis amlodipine juga dimetabolisme oleh CYP3A4. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk menyelidiki interaksi obat antara amlodipine dan simvastatin.
Delapan pasien dengan hiperkolesterolemia dan hipertensi yang terdaftar. Mereka
diberi 4 minggu simvastatin oral (5 mg / hari), diikuti oleh 4 minggu
amlodipine oral (5 mg / hari) co-dikelola dengan simvastatin (5 mg / hari).
Dikombinasikan pengobatan dengan simvastatin dan amlodipine meningkat puncak
konsentrasi (Cmax) dari HMG-CoA reductase inhibitors dari 9,6 ± 3,7 ng / ml
13,7 ± 4,7 ng / ml (p <0,05) dan daerah di bawah konsentrasi-waktu kurva
(AUC) dari 34,3 ± 16,5 ng h / ml menjadi 43,9 ± 16,6 ng h / ml (p <0,05)
tanpa mempengaruhi efek penurun kolesterol simvastatin. Penelitian ini adalah
yang pertama untuk menentukan prospektif interaksi farmakokinetik dan
farmakodinamik antara amlodipine dan simvastatin. (HypertensRes 2005; 28:
223-227)
b.
Apakah
interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme
interaksi obat presipitan?

Amlodipine
merupakan salah satu 1,4-dihidropiridin antagonis kalsium dengan paruh
eliminasi panjang (27-29). Amlodipine mengalami metabolisme oksidatif
dihydropiridin ke analog piridin oleh CYP3A4 (30). Dalam invitro Penelitian,
amlodipine terbukti memiliki penghambatan yang kuat efek pada CYP1A1, CYP2B6
dan CYP2C9, dan lemah efek penghambatan pada CYP3A4 saat menggunakan mikrosom
dari sel B-lymphoblast manusia mengekspresikan CYP (31). Meskipun amlodipine
adalah salah satu antagonis kalsium yang paling sering digunakan, interaksi
obat antara amlodipine dan substratobat untuk CYP3A4 belum diteliti secara
klinis. Di dalam Studi kami prospektif mempelajari farmakokinetik dan
farmakodinamik interaksi obat antara amlodipine dan simvastatin pada pasien
dengan hiperkolesterolemia dan hipertensi.
c.
Apakah
interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme
interaksi obat objek?
Simvastatin
adalah lakton pro-obat tidak aktif yang
dihidrolisis oleh esterases asam simvastatin, inhibitor kompetitif aktif
HMG-CoA reductase (10-12). Simvastatin dan simvastatin Asam terutama
dimetabolisme oleh sitokrom P450 (CYP) 3A4 ke 3 ', 5' dihydrodiol, 3'-hidroksi
dan 6'-exomethylene (10-12). Farmakokinetik simvastatin telah dilaporkan
dipengaruhi oleh inhibitor CYP3A4 ampuh seperti itrakonazol (13), eritromisin
(14), verapamil (14) dan nelfinavir (15). Selain itu, kami telah dilaporkan
sebelumnya bahwa diltiazem, yang merupakan inhibitor selektif CYP3A4 (16, 17),
menyebabkan peningkatan 2 kali lipat dari daerah di bawah kurva
concentrationtime (AUC) inhibitor HMG-CoA (18). Hiperkolesterolemia sering
disertai dengan hipertensi, faktor risiko yang terkait untuk CAD (19-21).
antagonis kalsium telah banyak digunakan dalam pengobatan hipertensi dan / atau
angina pectoris (22-26), dan sering diresepkan dalam hubungan dengan agen
penurun lipid seperti simvastatin. Amlodipine merupakan salah satu
1,4-dihidropiridin antagonis kalsium dengan paruh eliminasi panjang (27-29).
d.
UNKNOWN
e.
UNKNOWN
f.
UNKNOWN
g.
Adakah
penyebab lain dari kejadian interaksi obat tersebut ?
Pemberian dengan jus
jeruk dapat secara signifikan meningkatkan konsentrasi plasma lovastatin dan
simvastatin dan metabolit asam aktif mereka. Mekanisme yang diusulkan adalah
penghambatan CYP450 3A4-dimediasi pertama-pass metabolisme di dinding usus dengan
senyawa tertentu hadir dalam jeruk. Ketika dosis 60 mg tunggal simvastatin itu
diberikan bersama 200 ml jus jeruk dua kekuatan tiga kali sehari, paparan
sistemik simvastatin (AUC) meningkat 16 kali lipat dan AUC asam simvastatin
meningkat 7 kali lipat. Pemberian dosis 20 mg tunggal simvastatin dengan 8 ons
jus jeruk single-kekuatan meningkatkan AUC simvastatin dan asam simvastatin 1,9
kali lipat dan 1,3 kali lipat, masing-masing. Interaksi juga telah dilaporkan
dengan lovastatin, yang memiliki profil metabolik yang mirip dengan simvastatin
H.
UNKNOWN
SIMVASTATIN-LANSOPRAZOLE
a.
Apakah ada laporan yang dapat
dipercaya sebelumnya mengenai interaksi
ini pada manusia ?
b.
UNKNOW
c.
Apakah
interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme
interaksi obat objek ?Vorikonazol dimetabolisme oleh CYP2C19 dan CYP3A4
isoenzim. Lansoprazole adalah
inhibitor yang CYP2C19 isoenzim. Persaingan antara vorikonazol dan lansoprazole
kemungkinan menyebabkan peningkatan konsentrasi vorikonazol serum dan hepatitis
kolestasis akut pada pasien ini. Simvastatin menghambat isoenzim CYP3A4.
d.
UNKNOWN
e.
Apakah
terjadi penurunan efek interaksi ketika obat presipitan dihentikan tetapi tidak
ada perubahan pada obat objek ?
f.
Apakah
interaksi muncul kembali ketika obat presipitan diberikan lagi pada penggunaan
objek yang lama ?
g.
Adakah
penyebab lain dari kejadian interaksi obat tersebut ?
Simvastatin adalah lakton pro-obat tidak
aktif yang dihidrolisis oleh esterases
asam simvastatin, inhibitor kompetitif aktif HMG-CoA reductase (10-12).
Simvastatin dan simvastatin Asam terutama dimetabolisme oleh sitokrom P450
(CYP) 3A4 ke 3 ', 5' dihydrodiol, 3'-hidroksi dan 6'-exomethylene (10-12).
Farmakokinetik simvastatin telah dilaporkan dipengaruhi oleh inhibitor CYP3A4
ampuh seperti itrakonazol (13), eritromisin (14), verapamil (14) dan nelfinavir
(15). Selain itu, kami telah dilaporkan sebelumnya bahwa diltiazem, yang
merupakan inhibitor selektif CYP3A4 (16, 17), menyebabkan peningkatan 2 kali
lipat dari daerah di bawah kurva concentrationtime (AUC) inhibitor HMG-CoA
(18). Hiperkolesterolemia sering disertai dengan hipertensi, faktor risiko yang
terkait untuk CAD (19-21). antagonis kalsium telah banyak digunakan dalam
pengobatan hipertensi dan / atau angina pectoris (22-26), dan sering diresepkan
dalam hubungan dengan agen penurun lipid seperti simvastatin. Amlodipine
merupakan salah satu 1,4-dihidropiridin antagonis kalsium dengan paruh
eliminasi panjang (27-29).
h.
Apakah
interaksi lebih besar ketika obat presipitan ditingkatkan atau berkurang ketika
dosis obat presipitan diturunkan ?
KELOMPOK 6
Simvastatin
merupakan salah satu obat
penurun kolesterol dalam darah atau yang lebih dikenal dengan statin.Kinerja
obat ini adalah menghambat enzim pembentuk
kolesterol
sehingga
kadar kolesterol dalam darah berkurang. Keefektifan
obat ini akan semakin terlihat jika disertai dengan penerapan gaya hidup yang
sehat seperti berolahraga secara teratur dan menjauhi makan berminyak. Dengan menurunkan kadar LDL dalam darah,
simvastatin juga mengurangi risiko penyakit
jantung dan stroke.
Kadar LDL yang normal dalam darah adalah di bawah 100 mg/dL .
Dosis Simvastatin
Dosis
penggunaan simvastatin tergantung kepada tingkat kadar kolesterol dalam darah
pasien, kondisi kesehatannya, dan seberapa tinggi risiko terkena serangan
jantung dan stroke. Dokter biasanya menganjurkan pasien untuk menggunakan obat
ini dengan dosis 5-40 mg per hari.Dosis maksimal simvastatin adalah 40 mg
sehari. Obat ini dikonsumsi hanya satu kali sehari pada malam hari.
Farmakodinamik
Simvastatin
analog 3-Hidroksi-3-metilglutarat, suatu precursor kolesterol dan merupakan obat yang menurunkan kadar
kolesterol (hipolipidemik). Simvastatin merupakan hasil sintesa dari hasil
fermentasi Aspergillus terreus. Secara invivo simvastatin akan dihidrolisa
menjadi metabolit aktif. Mekanisme kerja dari metabolit aktif tersebut adalah
dengan cara menghambat kerja 3-Hidroksi-3-metilglutaril koenzim A reduktase
(HMG Co-A reduktase), dimana enzim ini mengkatalisa perubahan HMG Co-A menjadi
asam mevalonat yang merupakan langkah awal dari sintesa kolesterol. Penghambat
HMG Co-A reduktase menghambat sintesis kolesterol di hati dan hal ini akan
menurunkan kadar LDL plasma. Menurunnya kadar kolesterol akan menimbulkan
perubahan-perubahan yang berkaitan dengan potensial obat ini. Kolesterol menekan transkripsi tiga
jenis gen yang mengatur sintesis HMG Co-A sintase, HMG Co-A reduktase dan
reseptor LDL. Menurunnya sintesis kolesterol oleh penghambat HMG Co-A reduktase
akan menghilangkan hambatan ekspresi tiga jenis gen tersebut di atas, sehingga
aktivitas sintesis kolesterol meningkat secara kompensatoir. Hal ini
menyebabkan penurunan sintesis kolesterol oleh penghambat HMG Co-A reduktase
tidak besar. Rupa-rupanya obat ini melangsungkan efeknya dalam menurunkan
kolesterol dengan cara meningkatkan jumlah reseptor LDL, sehingga katabolisme
kolesterol terjadi semakin banyak. Dengan demikian maka obat ini dapat
menurunkan kadar kolesterol (LDL). Oleh karena itu pula obat ini tidak efektif
untuk penderita hiperkolesterolemia familial homozigot, karena jumlah reseptor
LDL pada penderita ini sedikit sekali.
Farmakokinetik Karena ekstraksi first-pass, kerja
utama obat-obat ini pada hati yang dihidrolisis menjadi asam. Ekskresi terjadi
terutama melalui empedu dan feses tetapi pengeluaran melalui urin juga terjadi.
Waktu paruh berkisar antara 1,5-2 jam.
Itraconazole Itraconazole adalah
obat untuk mengatasi infeksi jamur dengan cara membunuh jamur dan ragi penyebab
infeksi. Infeksi akibat jamur atau fungi bisa menjangkiti mulut, kulit, dan
vagina.Obat ini termasuk golongan triazole yang memiliki spektrum yang lebih
luas dari fluconazole.Penderita
HIV/AIDS, orang yang sedang dalam pengobatan penyakit rematik,
dan pasien yang menjalani kemoterapi lebih rentan terkena infeksi jamur
internal karena sistem kekebalan tubuh yang lemah atau tidak berfungsi dengan
baik
Dosis Itraconazole
Dosis yang
umum diresepkan dokter adalah antara 100-400 mg per hari. Dosis akan
disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien dan jenis jamur penyebab infeksi.
Mekanisme kerja
Seperti
halnya azole yang lain, itraconazole berinterferensi dengan enzim yang
dipengaruhi oleh cytochrome P-450, 14(-demethylase. Interferensi ini
menyebabkan akumulasi 14-methylsterol dan menguraikan ergosterol di dalam
sel-sel jamur dan kemudian mengganti sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan
membran
Farmakokinetik
Itrakonazol akan
diserap lebih sempurna melalui saluran cerna, bila diberikan bersama dengan
makanan. Dosis 100 mg/hari selama 15 hari akan menghasilkan kadar puncak
sebesar 0,5 µg/ml. Waktu paruh eliminasi obat ini 36 jam (setelah 15 hari pemakaian).
Obat simvastatin dengan
itraconazole
1.
Apakah ada laporan yang dapat di
percaya sebelumnya mengenai interasi ini
pada manusia ? Yes
Simvastatin
sebagai obat penurun kolesterol yang efektif secara luas diresepkan untuk mengobati penyakit kardiovaskular. Meskipun keamanan yang pasti dan
kemanjuran, miopati
dan disfungsi hati adalah efek samping yang umum dari simvastatin. Sedikit informasi
yang tersedia mengenai gejala awal dan pemulihan jangka waktu untuk pasien yang menjalani samping efek. Kami hadir di sini pasien
laki-laki berusia 65 tahun
dengan baik disfungsi hati dan myositis akibat penggunaan bersamaan itrakonazol 400 mg dan simvastatin 40 mg
sehari.
2.
Apakah interasi obat yang
diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interasi dari obat
presipitan ? Yes Karena studi pencegahan primer dan
sekunder telah dibuktikan bahwa
dengan menurunkan kadar LDL-C, statin secara signifikan dapat mengurangi
morbiditas dan
kematian pada pasien dengan penyakit arteri koroner.
3.
Apakah interaksi obat yang
diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi dari obat
objek ? Yes
Simvastatin
dimetabolisme oleh CYP3A4 dan dapat mengganggu ubiquitin
proteasome (koenzim Q10 (CoQ10)) jalur yang
terutama
mempertahankan arsitektur otot rangka
itrakonazol
dan nefazodone, akan meningkatkan plasma
konsentrasi
simvastatin secara dramatis dan mengintensifkan bahaya miopati pada pasien yang diobati dengan
simvastatin terutama pada dosis tinggi
unknown
4.
unknown
5.
No
6.
unknown
7.
Unknown
8.
Unknown
9.
Unknown
KESIMPULAN
Dari jurnal internasional obat simvastatin dengan itrakonazol dapat disimpulkan
bahwa bila obat itrakonazol dengan dosis
400 mg digunakan secara bersamaan dengan
simvastatin dosisnya 40 mg sehari
akan menyababkan disfungsi hati dan myositis.
KELOMPOK
8
Captopril
adalah obat tekanan darah tinggi
atau hipertensi. Obat ini
merupakan obat pilihan pertama untuk penderita hipertensi tanpa komplikasi.
Terdapat bayak golongan obat antihipertensi. Captopril termasuk dalam golongan
obat inhibitor enzim angiotensin konverter (angiotensin-converting enzyme
inhibitor, ACEI). Captopril termasuk dalam
golongan obat penghambat enzim
pengubah angiotensin. Fungsi utama obat
ini adalah untuk mengobati hipertensi dan gagal jantung. Tetapi captopril juga berguna untuk
melindungi jantung setelah terjadi serangan jantung serta menangani penyakit
ginjal akibat diabetes atau nefropati diabetes.
Digoxin adalah salah satu obat yang digunakan dalam penanganan masalah
ritme jantung dan gagal jantung kongestif. Digoxin mengendalikan detak jantung
dan meningkatkan kekuatan serta efisiensi jantung sehingga sirkulasi darah
menjadi lebih baik. Akibatnya, pembengkakan pada tangan dan pergelangan kaki
juga turut reda. Detak jantung yang tidak teratur, atau
disebut dengan aritmia,
bisa menyebabkan rasa sakit pada dada, pusing, jantung berdebar, dan sulit bernapas.
Digoxin akan memperlambat detak jantung hingga normal sehingga gejala akan
membaik dan jantung akan menjadi efisien kembali. Digoxin adalah
obat dengan fungsi untuk mengobati gagal jantung, biasanya bersama dengan
obat lain. Obat ini juga digunakan untuk mengobati jenis tertentu dari denyut
jantung tidak teratur (fibrilasi atrium kronik). Mengobati gagal jantung dapat
membantu anda tetap dapat berjalan dan olahraga dan dapat meningkatkan kekuatan
jantung Anda. Mengobati denyut jantung yang tidak teratur dapat menurunkan
risiko darah menggumpal, efek yang dapat menurunkan risiko terkena serangan
jantung atau stroke. Digoxin termasuk golongan cardiac glycoside. Obat ini
bekerja pada mineral tertentu (natrium dan kalium) di dalam sel jantung.
Digoxin menurunkan ketegangan jantung dan membantu agar denyut jantung tetap
normal, teratur, dan kuat.
Meloxicam adalah salah satu obat anti inflamasi non-steroid. Obat ini
umumnya digunakan untuk meredakan gejala-gejala artritis, misalnya inflamasi,
pembengkakan, serta kaku dan nyeri otot. Contoh penyakit artritis yang biasanya
ditangani dengan meloxicam adalah osteoartritis, artritis reumatoid, dan
ankylosing spondylitis. Obat ini
bekerja dengan menghambat enzim yang memproduksi prostaglandin, yaitu senyawa
yang dilepas tubuh yang menyebabkan rasa sakit serta inflamasi. Dengan
menghalangi prostaglandin, obat ini akan mengurangi rasa sakit dan inflamasi. Meloxicam
hanya dapat mengurangi gejala dan tidak menyembuhkan artritis.
Sukralfat adalah obat yang digunakan untuk
menangani tukak duodenum. Duodenum adalah bagian pertama usus halus. Obat ini
umumnya dikonsumsi untuk jangka pendek, yaitu selama empat hingga delapan
minggu. Sukralfat bekerja dengan membentuk lapisan pelindung pada dinding
duodenum sehingga dapat melindungi tukak dari asam lambung. Dengan membentuk
pelindung tersebut, obat ini akan mencegah kerusakan tidak bertambah parah,
meredakan Obat Captopril dengan
Meloxicam
1. Yes
Aspirin
muncul untuk menghambat efek antihipertensi kaptopril dan ACE-inhibitor lain
dan menguntungkan Efek hemodinamik dari ACE-inhibitor pada pasien dengan gagal
jantung kongestif. Efek penghambatan aspirin pada ACE-inhibitor mungkin dosis
terkait (seeling, 1990; Smith, 1993; Hall, 1992; Sloufi, 1994; Van, 1994 dan
Moore et al., 1981).
2. Yes
Itu telah
ditetapkan bahwa efek antihipertensi kaptopril dapat dikurangi atau dihapuskan
dengan menggunakan berbagai NSAID seperti aspirin, ibuprofen dan indometasin,
sedangkan sulindac hanya memiliki sangat kecil efek. Aspirin muncul untuk menghambat
efek antihipertensi kaptopril dan ACE-inhibitor lain dan menguntungkan Efek
hemodinamik dari ACE-inhibitor pada pasien dengan gagal jantung kongestif. Efek
penghambatan aspirin pada ACE-inhibitor mungkin dosis terkait (seeling, 1990;
Smith, 1993; Hall, 1992; Sloufi, 1994; Van, 1994 dan Moore et al., 1981).
3. Yes
Administrasi
simultan ini obat dapat mempengaruhi bioavailabilitas captopril, yang mungkin
mengakibatkan hilangnya efek terapi obat. Dari atas Temuan itu jelas bahwa
kaptopril berinteraksi dengan NSAID dan karenanya dalam rangka untuk mengetahui
'In vitro' interaksi kaptopril dengan yang biasa digunakan NSAID, sebuah studi
tentang ketersediaan in vitro kaptopril dilakukan di hadapan natrium
diklofenak,flurbiprofen,mefenamat asam, meloxicam.
4. Unknown
5. Unknown
6. Yes
Studi ini
jelas menunjukkan bahwa sebagian mengikat NSAID untuk captopril, membentuk
biaya transfer kompleks mengungkapkan bahwa ketersediaan captopril dapat
dipengaruhi oleh bersamaan administrasi NSAID.
7. NO
8. Unknown
9. Obat Digoxin dengan Sukralfat
1.
Yes
2.
yes
3.
Unknown
4.
Unknown
5.
Unknown
6.
Yes
7.
No
8.
Unknown
KESIMPULAN Dari hasil yang kami
dapatkan bahwa dengan menggunakan obat secara bersamaan dapat terjadi
adanya interaksi seperti obat kaptopril dengan meloxicam yang
menimbulkan perubahan efek antihipertensi kaptopril. Pada obat digoxin dan
sukralfat apabila digunakan secara bersamaan dapat terjadi penurunan absorpsi
dari digoxin.
KELOMPOK 9
a.
Rifampicin dengan isoniazid
Statu
: Major
Interaksi : Risiko
hepatoksisitas lebih besar ketika rifampisin dan isoniazid diberikan bersamaan
daripada ketika salah obat diberikan sendiri. Rifampisin tampaknya mengubah
metabolisme isoniazid dan meningkatkan jumlah metabolit beracun. Secara
teoritis, reaksi yang sama dapat terjadi dengan rifabutin dan isoniazid.
b.
Rifampicin
dengan pirazinamide
Status : major
Nteraksi : penggunaan rifampicin dengan
pirazinamide dapat menyebatkan kerusakan hati yang dapat menyebabkan kematian.
c.
Rifampicin
dengan glipizide
Status : moderate
Interaksi : Rifampisin dapat meningkatkan
metabolisme sulfonilurea oral. Efek terapi sulfonilurea dapat menurun,
mekanismenya menginduksi isoenzim CYP450 hati.
Between Rifampicin with Isoniazid
|
Score: 4
|
|
|
POSSIBLE Drug Interaction
|
|
|
Points
|
Drug Interaction
|
|
<2
|
Doubtful
|
|
2 to 4
|
Possible
|
|
5 to 8
|
Probable
|
|
≥ 9
|
Highly probable
|
1. Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi pada manusia ?
Rifampisin adalah inducer sangat ampuh enzim ini (Venkatesan 1992, Burman et al, 2001;.. Niemi et al 2003a). kadar plasma dari beberapa obat antidiabetes secara signifikan lebih rendah ketika co-dikelola dengan rifampisin (Tabel 4). Isoniazid merupakan inhibitor (bukan inducer) dari beberapa enzim yang diinduksi oleh rifampisin, terutama CYP2C9 yang relevan dengan metabolisme sulfonilurea. Namun, efek induktif rifampisin umumnya melebihi efek penghambatan isoniazid pada enzim yang sama,
2. Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur dengan mekanisme interaksi dari obat presipitan dan obat Objek?
Interaksi obat yang di observasi ini sesuai dengan literatur,karena dalam jurnal penelitian dengan judul Implications of the global increase of diabetes for tuberculosis control and patient care tahun 2010 disebutkan bahwa Rifampisin adalah inducer sangat ampuh enzim ini (Venkatesan 1992, Burman et al, 2001;.. Niemi et al 2003a). kadar plasma dari beberapa obat antidiabetes secara signifikan lebih rendah ketika co-dikelola dengan rifampisin (Tabel 4). Isoniazid merupakan inhibitor (bukan inducer) dari beberapa enzim yang diinduksi oleh rifampisin, terutama CYP2C9 yang relevan dengan metabolisme sulfonilurea. Namun, efek induktif rifampisin umumnya melebihi efek penghambatan isoniazid pada enzim yang sama, sehingga efek keseluruhan isoniazid ditambah rifampisin mungkin adalah penurunan konsentrasi obat lain (Venkatesan 1992).
3. Terdapat penyebab lain dari kejadian interaksi obat antara rifampicin dengan isoniazid diantaranya jenis kelamin, pengguna alkohol, obat-obatan terlarang, ras, usia, genetik, dan lain-lain.
4. Apakah interaksi lebih besar ketika dosis obat presipitan ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat presipitannya diturunkan?
Dalam jurnal dengan judul “Studi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien Tb-Hiv/Aids Di Rsup Sanglah Denpasar Tahun 2009” tidak di tunjukan hanya obat presipitannya saja tetapi kedua obat dihentikan dan diganti dengan streptomisin dan ethambutol selama 12 hari kemudian karena dari tes fungsi hati menunjukkan nilai yang normal, pengobatan ditambah dengan isoniasid dan etambutol.
A.
Interaksi antara
Rifampisin dengan Glipizide
1.
Apakah ada
laporan yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
Laporan mengenai interaksi Glipizid dengan Rifampisin ada pada
jurnal dengan judul “Pengaruh Pemberian Rifampisin Terhadap
Efek Hipoglikemik Glipizid Pada Relawan Sehat”
Antituberkulosis
sering dipakai bersama antidiabetes pada penderita DM. Salah satu oral
antidiabetes (OAD) yang banyak digunakan adalah glipizid, sedangkan salah satu
antituberkulosis yang banyak dipakai adalah rifampisin. Rifampisin dikenal
sebagai induktor enzim yang dapat meningkatkan efektivitas metabolisme obat
lain jika diberikan bersama. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh
pemberian rifampisin terhadap efek hipoglikemik glipizid pada 12 relawan sehat
orang Indonesia, dari kedua jenis kelamin. Penelitian dilakuan secara randomized
crossover design, subyek menjalani dua kali uji yaitu sebagai kelompok
perlakuan glipizid dosis tunggal 5 mg tanpa praperlakuan rifampisisn dan
kelompok dengan praperlakuan rifampisin 1 kali sehari 450 mg selama 7 hari.
Sampel serum darah untuk pengukuran kadar glukosa darah dikumpulkan secara
serial selama 7 jam sesudah minum glipizid dosis tunggal 5 mg. Kadar glukosa dalam
darah dianalisis secara enzimatik mengunakan metode glukosa oksidase (GOD).
Hasil penelitian menemukan bahwa praperlakuan rifampisin 1 x 450 mg selama 7
hari tidak mempengaruhi AUC0-7 kadar glukosa darah (p>0,05), namun
mempengaruhi efek penurunan kadar glukosa darah pada jam ke 2,5 dan 3 (p<0,05).
Pada kelompok dengan praperlakuan terjadi penurunan efek sebesar 51,38% pada
jam ke 2,5 dan 20,58% pada jam ke 3. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa praperlakuan rifampisin 1x450 mg selama 7 hari tidak mempengaruhi AUC0-7
kadar glukosa darah akibat pemberian glipizid dosis tunggal 5 mg.
2.
Apakah Interaksi obat yg diobservasi ini sesuai literatur tentang mekanisme interaksi obat objek dan
presipitan?
Dalam
jurnal diatas di sebutkan bahwa Glipizid adalah obat anti diabetes golongan
sulfonilurea generasi kedua yang digunakan untuk pengobatan DM tipe 2. Glipizid
mempunyai masa aksi yang pendek. Pada pemberian per oral akan diabsorpsi
sempurna. Hampir seluruhnya (90%) dimetabolisme di dalam hepar. Sedangkan
Rifampisin dikenal sebagai induktor enzim yang dapat meningkatkan efektivitas
metabolisme obat lain jika diberikan bersama.
Kombinasi glipizid dan rifampisin kemungkinan digunakan dalam terapi DM
dengan tuberkulosis paru. Kombinasi ini kemungkinan dapat menimbulkan
terjadinya interaksi yaitu meningkatnya metabolisme glipizid akibat terjadinya
pemacuan enzim metabolisme khususnya CYP2C9 karena pemberian rifampisin
sehingga dapat menurunkan efek hipoglikemik glipizid. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh pemberian rifampisin 450 mg selama 7 hari sebelum
pemberian glipizid 5 mg, terhadap efek hipoglikemik glipizid.
3.
Apakah interaksi tersebut terjadi pada
waktu yang tepat (onset atau offset)?
Pada
jam ke-1, efek penurunan kadar glukosa darah pada kelompok dengan praperlakuan rifampisin lebih
kecil 6,83 mg/dl (16,1%) dibandingkan kelompok tanpa praperlakuan rifampisin
(35,583 mg/dl vs. 42,413 mg/dl). Setelah pembebanan glukosa 75 gram, kadar
glukosa darah pada kedua kelompok meningkat hampir setara. Efek penurunan kadar
glukosa darah setelah pembebanan glukosa tampak lebih kecil pada kelompok
dengan praperlakuan rifampisin dibandingkan dengan kelompok tanpa praperlakuan.
Pada jam ke-2,5 efek penurunan kadar glukosa darah pada kelompok dengan praperlakuan
rifampisin lebih kecil 14,6 mg/dl (48,6%; p<0,05)) dibandingkan dengan
kelompok tanpa praperlakuan rifampisin
(15,41 mg/dl vs. 29,99 mg/dl).
4.
Apakah interaksi lebih besar ketika
dosis lebih besar ketika dosis obat presipitannya diturunkan?Induksi menghilang
di sekitar 2 minggu setelah menghentikan rifampisin (Niemi et al. 2003a).
B.
Interaksi
antara Rifampisin dan Pirazinamide
1.
apakah ada laporan yg dapat dipercaya
mengenai interaksi ini?
2.
Laporan lain dari terapi pencegahan
dengan rifampisin-pirazinamid dilaporkan hepatotoksisitas berat di 9,4% dari
148 pasien, dengan 2 pasien yang membutuhkan perawatan di rumah ada korban jiwa
terjadi sakit, namun tidak.
3.
Apakah interaksi yang diobservasi sesuai
literatur tentang mekanisme interaksi obat objek dan presipitan ?
4.
Apakah interaksi tersebut terjadi pada
waktu yang tepat ?
Pirazinamid
terkait
hepatotoksisitas cenderung terjadi selama bulan kedua pengobatan,
sedangkan hepatotoksisitas isoniazid terkait terjadi terutama selama bulan
pertama terapi.
Hal ini sesuai dengan
laporan hepatotoksisitas berat terkait dengan penggunaan rifampisin-pirazinamid
yang terjadi terutama selama bulan kedua pengobatan, termasuk semua 5 kematian
akibat hepatotoksisitas selama bulan kedua pengobatan.
5.
Apakah terjadi penurunan efek interaksi
ketika obat presipitan dihentika tetapi tidak ada perubahan pada obat objek?
“Kami menghentikan
terapi rifampisin-pirazinamid sebelum semua ini terjadi, namun kondisi pasien
kami berkembang ke gagal hati.”
toksisitas ringan
terjadi pada 18,3% pasien : Terapi rifampisin-pirazinamid dilanjutkan, dan
tingkat enzim hati yang diperiksa ulang 2 minggu kemudian. Laporan itu tidak
menunjukkan apa proporsi tersebut toksisitas ringan berkembang ke
hepatotoksisitas berat.
6.
Adakah penyebab lain dari kejadian
interaksi obat tersebut?
Analisis multivariat
menemukan bahwa Hepatotoksisitas dikaitkan dengan jenis kelamin perempuan dan
infeksi baru diduga, tapi itu tidak terkait dengan penggunaan alkohol atau
obat-obatan terlarang, usia, ras, atau dosis pirazinamide.
KESIMPULAN
Dari
pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Obat Anti Tuberkulosis bersifat
hepatotoksik seperti Pirazimmid, Isoniasid, dan Rifampisin yang merupakan
komponen utama dari OAT kategori 1 fase intensif. Tetapi interaksi ini tidak terjadi
pada semua pasien yang menggunakan kombinasi ini. Interaksi ini dapat
dipengaruhi salah satunya yaitu jenis kelamin dan infeksi baru diduga, tapi itu
tidak terkait dengan penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang, usia, ras,
atau dosis pirazinamide. Praperlakuan rifampisin 1 kali sehari 450 mg selama 7
hari sebelum pemberian glipizid dosis tunggal 5 mg tidak mengakibatkan
perubahan efektivitas glipizid dosis tunggal 5 mg. Hasil ini dilihat dari nilai
AUC kadar glukosa darah rata-rata selama 7 jam antara kelompok tanpa dan dengan
praperlakuan rifampisin yang tidak berbeda bermakna secara statistik (p>0,05).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Niemi et
al. (2001) bahwa rifampisin mempercepat kinetika eliminasi glipizid tetapi
tidak mempengaruhi AUC kadar glukosa darahnya. Mekanisme interaksi dari
rifampisin dengan pirazinamid tidak diketahui akan tetapi interaksi ini dapat
menyebabkan penurunan kadar serum dari rifampisin sehingga dapat mengurangi
efek dari rifampisin.
KELOMPOK
10
Metformin dengan Simvastatin
1.
Yes
Hasil analisa kuantitatif yang
diperoleh dari penggunaan obat antidiabetes dan obat antihiperlipidemia yang
menimbulkan interaksi obat pada 18 (orang) pasien penderita Diabetes Melitus
tipe 2 dengan komplikasi Hiperlipidemia pada rawat inap di bangsal Penyakit
Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi.
Interaksi
obat merupakan bagian dari Drug Related Problems (DRPs) yang secara nyata
maupun potensial berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan pasien. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui interaksi penggunaan obat pada pasien Diabetes
Mellitus tipe 2 dengan komplikasi hiperlipidemia di bangsal penyakit dalam RSUD
Raden Mattaher jambi. Penelitian ini merupakan non eksperimental dengan
menggunakan rancangan penelitian secara deskriptif yang dikerjakan secara
retrospektif dan prosfektif. Data diambil langsung dari catatan rekam medik
pasien Diabetes Mellitus 2 dengan komplikasi hiperlipidemia yang di rawat di
Bangsal penyakit di RSUD Raden Mattaher Jambi. Hasil penelitian ini dari 18
orang pasien Diabetes Mellitus tipe 2 dengan komplikasi hiperlipidemia di
bangsal penyakit dalam RSUD Raden Mattaher Jambi, interaksi obat terjadi pada 9
pasien dengan persentase sebesar 50% yang merupakan interaksi sinergis
(interaksi yang diharapkan), seperti interaksi obat antara simvastatin dengan
metformin sebesar 27,78% dan tidak ditemukan terjadinya interaksi yang
diharapkan.
2.
Yes
Metformin menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida pada pasien Hiperlipidemia
|
Points
|
Drug
Interaction
|
|
<2
|
Doubtful
|
|
2
to 4
|
Possible
|
|
5
to 8
|
Probable
|
|
≥
9
|
Highly
probable
|
3.
Yes
Metformin menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida pada pasien Hiperlipidemia
|
Dari
hasil analisis yang telah dilakukan antara obat Metformin dengan Simvastatin
menunjukan score 2 yang berarti interaksi obat ini possible.
KESIMPULAN
Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain
(interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia
lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat
digunakan bersama-sama. Dari hasil analisis yang telah dilakukan antara obat
Metformin dengan Simvastatin menunjukan score 2 yang berarti interaksi obat ini
possible.http://updatemateri31.blogspot.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar