Rabu, 18 Januari 2017

intraksi obat



KELOMPOK 1
1.      Metformin dan Amlodipine
Score: 3


1.          Apakah ada  laporan  yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
Tidak ada karena dalam jurnal di ujikan kepada hewan tikus terbukti sebagai berikut:


ABSTRAK
Latar Belakang: Amlodipine digunakan sebagai banyak kondisi jantung esp hipertensi. Diabetes mempengaruhi sistem kardiovaskular buruk. Jadi penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh amlodipine pada kadar glukosa darah dan interaksi dengan yang biasa digunakan agen hipoglikemik oral pada diabetes & non kelinci albino diabetes. Metode: Kelinci dibagi menjadi sembilan kelompok dari 6 kelinci di masing-masing kelompok. Saya dan kelompok II yang non-diabetes diberikan saline normal dan amlodipine masing-masing. Kelompok III ke IX dibuat diabetes dengan menggunakan aloksan monohidrat (150mg / kg i.p.) & diberikan yang normal saline, glimepiride, metformin, pioglitazone, amlodipine + glimepiride, masing-masing amlodipine + metformin dan amlodipine + pioglitazone. Semua obat yang diberikan secara oral sekali sehari selama 7 hari kecuali kelompok VII, VIII dan IX yang glimepiride, metformin dan pioglitazone ditambahkan pada hari ke-7. Setelah kadar glukosa darah GTT diukur pada 0, 1, 2 dan 6 jam pada hari ke-7 di semua kelompok dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil: Setelah 7 hari pengobatan amlodipine yang diproduksi hiperglikemia signifikan pada kelinci normal. Amlodipine pada kombinasi, menyebabkan signifikan menurun pada efek hipoglikemik dari glimepiride, signifikan meningkatkan efek hipoglikemik metformin, sementara tidak ada perubahan signifikan dalam efek hipoglikemik dari pioglitazone pada kelinci diabetes. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa amlodipine menyebabkan hiperglikemia pada kelinci normal. Amlodipine secara signifikan mengubah efek hipoglikemik dari glimepiride dan metformin dibandingkan dengan kelompok kontrol. Jika temuan ini benar untuk manusia maka amlodipine harus menggunakan hati-hati pada pasien diabetes pada obat hipoglikemik oral.
2.     Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi dari obat presipitan? Yes
                           
Kombinasi amlodipine dengan metformin menunjukkan interaksi menguntungkan. Amlodipine meningkatkan efek hipoglikemia dari metformin. Efek ini menguntungkan dapat dijelaskan dengan hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (22,90%, 31,64% dan 33,80% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing) dengan metformin, setelah kombinasi amlodipine dengan metformin efek hipoglikemia dari metformin meningkat (26,54%, 37,15% dan 37,66% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing).
3.     Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?yes

Kombinasi amlodipine dengan metformin menunjukkan interaksi menguntungkan. Amlodipine meningkatkan efek hipoglikemia dari metformin. Efek ini menguntungkan dapat dijelaskan dengan hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (22,90%, 31,64% dan 33,80% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing) dengan metformin, setelah kombinasi amlodipine dengan metformin efek hipoglikemia dari metformin meningkat (26,54%, 37,15% dan 37,66% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing).
4.     Apakah interaksi tersebut terjadi pada waktu yang tepat (onset atau ofset)?
Yes . Karena dosis awal amlodipine adalah 5 mg/hari menunjukan waktu paruh amlodipine 24 jam. Sedangkan dosis awal metformin adalah 500 mg atau 850 mg yang diminum 1-3 kali per hari. Hal ini menunjukan waktu paruh metformin adalah 8 jam, sehingga apabila kedua obat disatukan akan terjadi interaksi dalam tubuh. Hal ini dibuktikan dalam jurnal sebagai berikut  
Kombinasi amlodipine dengan metformin menunjukkan interaksi menguntungkan. Amlodipine meningkatkan efek hipoglikemia dari metformin. Efek ini menguntungkan dapat dijelaskan dengan hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (22,90%, 31,64% dan 33,80% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing) dengan metformin, setelah kombinasi amlodipine dengan metformin efek hipoglikemia dari metformin meningkat (26,54%, 37,15% dan 37,66% pada 1, 2 dan 6 jam masing-masing).
5.     Apakah terjadi penurunan efek interaksi ketika obat presipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada objek. (jika obat presipitan tidak dihentikan maka pilihlah “unknown atau NA” dan melewatkan pertanyaan 6).
    Unknown.
6.     Apakah interaksi muncul kembali ketika obat presipitan diberikan lagi pada penggunaan obat objek yang lama
    Unknown.
7.     Adakah penyebab lain dari kejadian interaksi obat tersebut?
    Unknown.
8.     Apakah iteraksi lebih besar ketika dosis obat presipitan ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat presipitannya diturunkan?
Yes Pada tikus normoglycemic, Amlodipine dalam dosis 2,5 mg / kg bila diberikan dalam kombinasi dengan metformin (75 mg / kg), konsentrasi glukosa dalam 3 hr waktu dan 5 jam meningkat, tetapi jika diberikan dalam dosis 5 mg / kg dalam kombinasi dengan metformin tingkat glukosa berkurang 1 jam dan 3 waktu jam poin dan kemudian meningkat.
Kesimpulan dari hasil analisi ini menunjukan score 4 yang menunjukan interaksi obat amoldipine dengan metformin ini possible.
2.     Amlodipine Dan Glimepiride
5.        Apakah ada  laporan  yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?

ABSTRAK
Latar Belakang: Amlodipine digunakan sebagai banyak kondisi jantung esp hipertensi. Diabetes mempengaruhi sistem kardiovaskular buruk. Jadi penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh amlodipine pada kadar glukosa darah dan interaksi dengan yang biasa digunakan agen hipoglikemik oral pada diabetes & non kelinci albino diabetes. Metode: Kelinci dibagi menjadi sembilan kelompok dari 6 kelinci di masing-masing kelompok. Saya dan kelompok II yang non-diabetes diberikan saline normal dan amlodipine masing-masing. Kelompok III ke IX dibuat diabetes dengan menggunakan aloksan monohidrat (150mg / kg i.p.) & diberikan yang normal saline, glimepiride, metformin, pioglitazone, amlodipine + glimepiride, masing-masing amlodipine + metformin dan amlodipine + pioglitazone. Semua obat yang diberikan secara oral sekali sehari selama 7 hari kecuali kelompok VII, VIII dan IX yang glimepiride, metformin dan pioglitazone ditambahkan pada hari ke-7. Setelah kadar glukosa darah GTT diukur pada 0, 1, 2 dan 6 jam pada hari ke-7 di semua kelompok dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil: Setelah 7 hari pengobatan amlodipine yang diproduksi hiperglikemia signifikan pada kelinci normal. Amlodipine pada kombinasi, menyebabkan signifikan menurun pada efek hipoglikemik dari glimepiride, signifikan meningkatkan efek hipoglikemik metformin, sementara tidak ada perubahan signifikan dalam efek hipoglikemik dari pioglitazone pada kelinci diabetes. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa amlodipine menyebabkan hiperglikemia pada kelinci normal. Amlodipine secara signifikan mengubah efek hipoglikemik dari glimepiride dan metformin dibandingkan dengan kelompok kontrol. Jika temuan ini benar untuk manusia maka amlodipine harus menggunakan hati-hati pada pasien diabetes pada obat hipoglikemik oral.
1.          Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi dari obat presipitan? Yes
            
Kombinasi amlodipine dan glimepiride pada kelinci diabetes menunjukkan bahwa amlodipine mengurangi efek hipoglikemik dari glimepiride. Efek antagonis ini dapat dijelaskan oleh hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (24,45% pada 1 jam, 36,52 pada 2 jam dan 41,05% pada 6 jam) dengan glimepiride saja, sedangkan setelah penambahan amlodipine dengan glimepiride, efek hipoglikemia dari glimepiride kurang (18,34 % pada 1 jam, 29,61% pada 2 jam dan 34.01% pada 6 jam) pada kelinci diabetes. Ini efek hipoglikemik penurunan glimepiride dengan amlodipine bisa disebabkan penghambatan release.11,12 insulin.
2.     Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek? YES
Kombinasi amlodipine dan glimepiride pada kelinci diabetes menunjukkan bahwa amlodipine mengurangi efek hipoglikemik dari glimepiride. Efek antagonis ini dapat dijelaskan oleh hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (24,45% pada 1 jam, 36,52 pada 2 jam dan 41,05% pada 6 jam) dengan glimepiride saja, sedangkan setelah penambahan amlodipine dengan glimepiride, efek hipoglikemia dari glimepiride kurang (18,34 % pada 1 jam, 29,61% pada 2 jam dan 34.01% pada 6 jam) pada kelinci diabetes. Ini efek hipoglikemik penurunan glimepiride dengan amlodipine bisa disebabkan penghambatan release.11,12 insulin.
3.     Apakah interaksi tersebut terjadi pada waktu yang tepat (onset atau ofset)? YES

Kombinasi amlodipine dan glimepiride pada kelinci diabetes menunjukkan bahwa amlodipine mengurangi efek hipoglikemik dari glimepiride. Efek antagonis ini dapat dijelaskan oleh hasil yang menunjukkan hipoglikemia signifikan (24,45% pada 1 jam, 36,52 pada 2 jam dan 41,05% pada 6 jam) dengan glimepiride saja, sedangkan setelah penambahan amlodipine dengan glimepiride, efek hipoglikemia dari glimepiride kurang (18,34 % pada 1 jam, 29,61% pada 2 jam dan 34.01% pada 6 jam) pada kelinci diabetes. Ini efek hipoglikemik penurunan glimepiride dengan amlodipine bisa disebabkan penghambatan release.11,12 insulin.
4.     UNKNOWN
5.     UNKNOWN
6.     UNKNOWN
7.     UNKNOWN
KESIMPULAN Berdasarkan hasil dari Drug Interaction Probability Scale (DIPS) untuk interaksi yang pertama yaitu Metformin dan Amlodipine dengan hasil score 3 yang berarti interaksi obat tersebut menunjukan probable yang artinya mungkin terjadinya interaksi antara kedua obat tersebut. Sedangkan untuk interaksi dari Amlodipine Dan Glimepiride dengan hasil score 2 dari score tersebut terdapat pada rentang points 2 sampai 4 yang berarti possible yang artinya mungkin terjadi interaksi antara kedua obat tersebut
KELOMPOK 2
Alprazolam dengan Omeprazol
a.        ya
Gagal jantung kongestif (GJK) adalah suatu keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah yang mencukupi untuk kebutuhan tubuh.Drug Related Problem merupakan suatu peristiwa atau keadaan dimana terapi obat berpotensi atau secara nyata dapat mempengaruhi hasil terapi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persentase Drug Related Problem kategori interaksi obat, overdosis dan dosis sub terapi pada pasien GJK. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional, dimana pengambilan data dilakukan secara retrospekstif pada bulan Juli sampai Agustus 2015 di RS Universitas Hasanuddin.Analisa data menggunakan standar penggunaan obat berdasarkan standar terapi penyakit dan literatur ilmiah.Analisis Drug Related Problem dilakukan terhadap data rekam medis dari 25 orang pasien. Karakteristik pasien yang dilihat meliputi usia dan jenis kelamin. Karakteristik usia meliputi usia 26-35 tahun sebanyak 2 pasien (8%), usia 46-56 tahun sebanyak 5 pasien (20%), usia 56-65 tahun sebanyak 6 pasien (24%), usia >65 tahun sebanyak 12 pasien (48%) dan karakteristik jenis kelamin meliputi pria sebanyak 12 pasien (48%) dan wanita 13 pasien (52%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 22 kejadian Drug Related Problem meliputi 14 kejadian kategori interaksi obat (63,63%), 5 kejadian kategori overdosis (22,72%) dan 3 kejadian kategori dosis sub terapi (13,63%).  
b.        ya
              Ya, karena Alprazolam berinteraksi dengan omeprazol jika pemberiannya bersamaan dimana dapat meningkatkan efek sedasi dan kadar alprazolam dalam darah, klirens menurun, t½ diperpanjang, sehingga diperlukan pemantauan untuk sedasi yang berkepanjangan dan perlu mengurangi dosis alprazolam.

c.        Ya, karena Alprazolam terutama bekerja mempotensiasi inhibisi neuron dengan asam gama amino butirat (GABA) sebagai mediator. GABA dan alprazolam terikat secara selektif dengan reseptor GABA yang akan menyebabkan pembukaan kanal ion Cl- . Membran sel saraf secara normal tidak permeabel terhadap ion klorida, tetapi bila kanal Cl- terbuka, memungkinkan masuknya ion klorida, meningkatkan potensial elektrik sepanjang membran sel dan terjadi hiperpolarisasi membran sel saraf sehingga menyebabkan depresi sistem saraf pusat

d.        Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
e.        Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
f.         Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
g.        Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
h.        Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan
i.         Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
j.         Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.



Dari data hasil pertanyaan DIPS didapatkan score 3 yang artinya possible atau mungkin terjadi interaksi antara kedua obat tersebut.
Alprazolam dengan Fenitoin

a.        Yes

Penyakit saraf nonpsikotik khususnya epilepsi memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia. Epilepsi seringkali mucul disertai dengan penyakit lain. Salah satu obat antiepilepsi lini pertama adalah fenitoin, sehingga diperlukan kajian mengenai interaksi obat fenitoin. Pada terapi secara farmakologinya, penyakit epilepsi membutuhkan kombinasi yang seringkali menyebabkan munculnya interaksi obat, baik secara farmakodinamik maupun farmakokinetik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan jenis interaksi obat fenitoin, serta bagaimana mekanisme dan efek yang ditimbulkan dari interaksi tersebut. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain penelitian non-eksperimental yaitu studi retrospektif dan data sampel yang didapat dikaji secara deskriptif berdasarkan penelusuran pustaka. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 255 resep yang berpotensi interaksi dari 392 sampel resep secara keseluruhan dengan 58 interaksi obat fenitoin (52 interaksi farmakokinetik dan 6 interaksi yang tidak diketahui mekanismenya). Secara umum interaksi yang terjadi adalah interaksi secara farmakokinetik dengan mekanisme yang mayoritas menunjukkan bahwa obat satu mengganggu obat lain sehingga berefek pada menurun atau meningkatnya efek farmakologi obat dan meningkatnya efek samping, sehingga perlu diatasi dengan menghindari kombinasi obat tersebut, penyesuaian dosis, penggantian kombinasi obat atau dilakukan pemantauan dari dokter yang meresepkan.
Kata Kunci: antiepilepsi, fenitoin, studi retrospektif, interaksi obat.








 





b.        Ya, fenitoin meningkatkan metabolisme alprazolam dihati sehingga kadarnya dalam darah menurun (Baxter, 2008). Hal ini dapat menimbulkan efek samping keracunan fenitoin pada beberapa kasus pasien epilepsi yang ditandai salah satunya dengan menurunnya efek sedative dari alprazolam yang cukup signifikan.
c.        Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?


 



d.        Ya, fenitoin meningkatkan metabolisme alprazolam dihati sehingga kadarnya dalam darah menurun (Baxter, 2008). Hal ini dapat menimbulkan efek samping keracunan fenitoin pada beberapa kasus pasien epilepsi yang ditandai salah satunya dengan menurunnya efek sedative dari alprazolam yang cukup signifikan.
e.        Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan
f.         Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
g.        Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
h.        Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
i.         Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
j.         Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
k.        Unknown, karena tidak di temukan data atau jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan.
Dari data hasil pertanyaan DIPS didapatkan score  yang artinya probable atau mungkin terjadi interaksi antara kedua obat tersebut.
KESIMPULANBerdasarkan hasil dari Drug Interaction Probability Scale (DIPS) untukinteraksi yang pertama yaitu Alprazolam dengan Omeprazole dengan hasil score 3 danscore tersebut terdapat pada rentang points 2 sampai 4 yang berarti interaksi obat tersebutmenunjukan possible yang artinya mungkin terjadinya interaksi antara kedua obat tersebut. Sedangkan untuk interaksi dari Alprazolam dengan Fenitoin juga menunjukan hasi yang sama dengan hasil score 3 dari score tersebut terdapat pada rentang points 2 sampai 4 yang berarti possible yang artinya mungkin terjadi interaksi antara kedua obat tersebut

KELOMPOK 3
Gagal jantung kongestif adalah suatu keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah yang mencukupi untuk kebutuhan tubuh. Di Indonesia angka kejadiannya belum diketahui tetapi diperkirakan terus meningkat seiring dengan perubahan pola hidup dan peningkatan kesejahteraan. Mekanisme kompensasi meliputi takikardi dan peningkatan aktivitas simpatik, retensi cairan, hipertrofi ventrikel, dan vasokonstriktor. Tujuan utama dari pengobatan gagal jantung adalah mengurangi gejala akibat bendungan sirkulasi, memperbaiki kapasitas kerja dan kualitas hidup, serta memperpanjang harapan hidup. Tiga golongan obat gagal jantung menunjukkan efektivitas klinis dalam mengurangi gejala-gejala dan memperpanjang kehidupan. Obat tersebut adalah  vasodilator (ACE inhibitor dan relaksan otot polos) yang mengurangi beban miokard, obat diuretik yang menurunkan cairan ekstraseluler dan obat-obat inotropic (digitalis, agonis _-adrenergik, dan inhibitor fosfodiesterase) yang meningkatkan kemampuan kekuatan kontraksi otot jantung. Pasien gagal jantung kongestif biasanya menderita penyakit penyerta yang lain sehingga membutuhkan berbagai macam obat dalam terapinya. Pemberian obat yang bermacam-macam tanpa dipertimbangkan dengan baik dapat merugikan pasien karena dapat mengakibatkan terjadinya interaksi obat. Interaksi obat dapat mengakibatkan terjadinya perubahan efek terapi. Interaksi obat terjadi jika suatu obat mengubah efek obat lainnya yang diberikan secara bersamaan. Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas dan menurunkan efektivitas obat yang berinteraksi. Interaksi obat berdasarkan mekanismenya dibedakan menjadi tiga macam yaitu inkompatibilitas, interaksi farmakokinetika, dan interaksi farmakodinamik. Berdasarkan level kejadiannya, interaksi obat terdiri dari established (sangat mantap terjadi), probable (interaksi obat bisa terjadi), suspected (interaksi obat diduga terjadi),possible (interaksi obat mungkin terjadi, belum pasti terjadi), serta unlikely (interaksi obat tidak terjadi). Sedangkan berdasarkan keparahannya, interaksi obat dapat diklasifiksikan menjadi tiga yaitu mayor (dapat menyebabkan kematian), moderat (sedang), dan minor. Clinical significance adalah derajat dimana obat yang berinteraksi akan mengubah kondisi pasien. Clinical significance dikelompokkan berdasarkan keparahan dan dokumentasi interaksi yang terjadi. Terdapat 5 macam dokumentasi interaksi, yaitu establish (interaksi obat sangat mantap terjadi), probable (interaksi obat dapat terjadi), suspected (interaksi obat diduga terjadi), possible (interaksi obat belum pasti terjadi), unlikely (kemungkinan besar interaksi obat tidak terjadi). Derajat keparahan akibat interaksi diklasifikasikan menjadi minor (dapat diatasi dengan baik), moderat (efek sedang, dapat menyebabkan kerusakan organ), mayor (efek fatal, dapat menyebabkan kematian). Level signifikansi interaksi 1,2 dan 3 menunjukkan bahwa interaksi obat kemungkinan terjadi. Level signifikansi interaksi 4 dan 5 interaksi belum pasti terjadi dan belum diperlukan antisipasi untuk efek yang terjadi.
Interaksi Captopril dengan Spirronolactone
PERTANYAAN DIPS
Yes
No
Unknown or NA
      1.              Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
+1


         2.              Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat persipitan?
+1


         3.              Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?
+1


         4.              Apakah interaksi obat tersebut terjadi pada waktu yang tepat? (onset atau offset)


0
         5.              Apakah terjadi penurunan efek interaksi ketika obat persipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada objek?


0
         6.              Apakah interaksi muncul kembali ketika obat persipitan diberikan lagi pada penggunaan obat objek lama?


0
         7.              Adakah penyebab lain dari kejadian ineraksi obat tersebut?


0
         8.              Apakah interaksi lebih besar ketika dosis obat presipian ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat resipitanya ditturunkan?


0
SKOR TOTAL
3

1.              Judul Jurnal : KAJIAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RSUP DR, SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2005
Kombinasi ini menyebabkan kadar kalium tinggi pada pasien dengan high-risk (contoh :gangguan renal). Namun, mekanisme terjadinya interaksi ini belum diketahui, perlu dimonitor secara teratur terhadap fungsi ginjal dan kadar kalium serum. Perlu dipertimbangkan adanya penyeesuaian dosis.
2.              Cara kerja captopril adalah dengan menghambat produksi hormon angiotensin 2. Hasilnya akan membuat dinding pembuluh darah lebih rileks sehingga dapat menurunkan tekanan darah, sekaligus meningkatkan suplai darah dan oksigen ke jantung. Obat ini dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya. Dalam pasien gagal jantung, captopril mengurangi kadar cairan yang berlebihan dalam tubuh sehingga meringankan beban jantung dan memperlambat perkembangan gagal jantung.
3.              Spironolactone (Spironolakton) merupakan obat  Golongan Diuretik. Spironolacton digunakan untuk menangani Edema yang berhubungan dengan Hipertensi, Gagal Jantung, Hiperaldosteronism primer, Hipokalemia, sirosis Hati dan penanganan Hipersutisme. Preparat ini biasanya dipakai bersama diuretik lain untuk mengurangi ekskresi kalium disamping memperbesar efek diuresis. Diuretik ini memiliki durasi kerja 2 – 3 hari. Mengikat protein sebesar 91 – 98% dan Waktu paruh spironolactone 78 – 84 menit
A.      Interaksi Furosemide dengan digoxin
PERTANYAAN DIPS
Yes
No
Unknown or NA
         1.              Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
+1


         2.              Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat persipitan?
+1


         3.              Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?
+1


         4.              Apakah interaksi obat tersebut terjadi pada waktu yang tepat? (onset atau offset)
+1


         5.              Apakah terjadi penurunan efek interaksi ketika obat persipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada objek?


0
         6.              Apakah interaksi muncul kembali ketika obat persipitan diberikan lagi pada penggunaan obat objek lama?


0
         7.              Adakah penyebab lain dari kejadian ineraksi obat tersebut?


0
         8.              Apakah interaksi lebih besar ketika dosis obat presipian ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat resipitanya ditturunkan?


4
SKOR TOTAL
4

1.              Judul Jurnal : KAJIAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RSUP DR, SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2005
Diuretik menginduksi gangguan elektrolit sehingga mengakibatkan terjadinya aritmia yang diinduksi oleh digoksin. Perlu dilakukan pengukuran kadar kalium darah ketika menggunakan kombinasi obat ini. Disamping itu juga dapat dilakukan pemberian suplemen pada pasien dengan kadar kalium yang rendah. Pencegahan kehilangan kalium dengaat pembatasan natrium atau penambahan diuretic hemat juga bermanfaat.
2.              Obat furosemide adalah obat yang dibuat dari turunan asam antranilat. Obat Furosemid bekerja pada glomerulus ginjal untuk menghambat penyerapan kembali zat natrium oleh sel tubulus ginjal. Furosemid akan meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida, dan kalium tanpa mempengaruhi tekanan darah normal. Setelah pemakaian oral furosemid akan diabsorpsi sebagian secara cepat dengan awal kerja obat terjadi dalam ½ sampai 1 jam, dengan lama kerja yang pendek berkisar 6 sampai 8 jam, kemudian akan diekskresikan bersama dengan urin dan feses. Dengan cara kerjanya tersebut obat furosemid dapat digunakan untuk membuang cairan yang berlebihan dari di dalam tubuh.
3.              Mekanisme Digoksin melalui 2 cara yaitu efek langsung dan efek tidak langsung. Efek langsung yaitu meningkatkan kekuatan kontraki otot jantung (efek inotropik positif). Hal ini terjadi berdasarkan penghambatan enzim Na+,K+ -ATPase dan peningkatan arus masuk ion kalsium ke inta sel. Efek tidak langsung yaitu pengaruh digoksin terhadap aktivitas saraf otonom dan sensitivitas jantung terhadap neorotransmiter.
4.              Delyed, antara 20-24 jam

B.      Interaksi Captopril dengan Furosemid
PERTANYAAN DIPS
Yes
No
Unknown or NA
         1.              Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
+1


         2.              Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat persipitan?
+1


         3.              Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?
+1


         4.              Apakah interaksi obat tersebut terjadi pada waktu yang tepat? (onset atau offset)
+1


         5.              Apakah terjadi penurunan efek interaksi ketika obat persipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada objek?


0
         6.              Apakah interaksi muncul kembali ketika obat persipitan diberikan lagi pada penggunaan obat objek lama?


0
         7.              Adakah penyebab lain dari kejadian ineraksi obat tersebut?


0
         8.              Apakah interaksi lebih besar ketika dosis obat presipian ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat resipitanya ditturunkan?


0
SKOR TOTAL
4

 1.              Judul Jurnal : KAJIAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RSUP DR, SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2005
Iya, Karena furosemide meningkatkan efek ACE inhibitor. Hal ini kemungkinan adanya penghambatan produksi Angiotensin II oleh ACE inhibitor. Diuretik merangsang sekresi renin dan mengaktifkan system renin angiotensin aldosterone sehingga memberi efek sinergik dengan penghambat ACE. Oleh karena itu pada pasien yang menggunakan kombinasi obat ini harus dimonitoring status cairan dan berat badan secara hati-hati.
         2.              Cara kerja captopril adalah dengan menghambat produksi hormon angiotensin 2. Hasilnya akan membuat dinding pembuluh darah lebih rileks sehingga dapat menurunkan tekanan darah, sekaligus meningkatkan suplai darah dan oksigen ke jantung. Obat ini dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya. Dalam pasien gagal jantung, captopril mengurangi kadar cairan yang berlebihan dalam tubuh sehingga meringankan beban jantung dan memperlambat perkembangan gagal jantung.
         3.              Obat furosemide adalah obat yang dibuat dari turunan asam antranilat. Obat Furosemid bekerja pada glomerulus ginjal untuk menghambat penyerapan kembali zat natrium oleh sel tubulus ginjal. Furosemid akan meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida, dan kalium tanpa mempengaruhi tekanan darah normal. Setelah pemakaian oral furosemid akan diabsorpsi sebagian secara cepat dengan awal kerja obat terjadi dalam ½ sampai 1 jam, dengan lama kerja yang pendek berkisar 6 sampai 8 jam, kemudian akan diekskresikan bersama dengan urin dan feses. Dengan cara kerjanya tersebut obat furosemid dapat digunakan untuk membuang cairan yang berlebihan dari di dalam tubuh.
         4.              Delayed, antara 20-24 jam.
C.      Interaksi Digoxin dengan Spironolactone
PERTANYAAN DIPS
Yes
No
Unknown or NA
         1.              Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
+1


         2.              Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat persipitan?
+1


         3.              Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan litelatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek?
+1


         4.              Apakah interaksi obat tersebut terjadi pada waktu yang tepat? (onset atau offset)
+1


         5.              Apakah terjadi penurunan efek interaksi ketika obat persipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada objek?


0
         6.              Apakah interaksi muncul kembali ketika obat persipitan diberikan lagi pada penggunaan obat objek lama?


0
         7.              Adakah penyebab lain dari kejadian ineraksi obat tersebut?


0
         8.              Apakah interaksi lebih besar ketika dosis obat presipian ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat resipitanya ditturunkan?


0
SKOR TOTAL
4

 1.              Judul Jurnal : KAJIAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RSUP DR, SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2005
Sprinolaktone dapat memperlemah efek inotropic positif digoksin. Sprinolakton berefek inotropic negative sehingga melawan efek inotropic positif dari digoksin. Dosis digoksin harus disesuaikan
2.              Mekanisme Digoksin melalui 2 cara yaitu efek langsung dan efek tidak langsung. Efek langsung yaitu meningkatkan kekuatan kontraki otot jantung (efek inotropik positif). Hal ini terjadi berdasarkan penghambatan enzim Na+,K+ -ATPase dan peningkatan arus masuk ion kalsium ke inta sel. Efek tidak langsung yaitu pengaruh digoksin terhadap aktivitas saraf otonom dan sensitivitas jantung terhadap neorotransmiter.
       3.              Spironolactone (Spironolakton) merupakan obat  Golongan Diuretik. Spironolacton digunakan untuk menangani Edema yang berhubungan dengan Hipertensi, Gagal Jantung, Hiperaldosteronism primer, Hipokalemia, sirosis Hati dan penanganan Hipersutisme. Preparat ini biasanya dipakai bersama diuretik lain untuk mengurangi ekskresi kalium disamping memperbesar efek diuresis. Diuretik ini memiliki durasi kerja 2 – 3 hari. Mengikat protein sebesar 91 – 98% dan Waktu paruh spironolactone 78 – 84 menit
       4.              1-2 jam
KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi obat potensial terjadi pada 99 (90%) pasien rawat inap dan 126 (99,26%) pasien rawat jalan. Pada pasien rawat inap ditemukan interaksi farmakokinetika sebanyak 20 jenis (50%), interaksi farmakodinamik sebanyak 6 jenis (15%), dan interaksi dengan mekanisme yang tidak diketahui sebanyak 14 jenis (35%). Jenis interaksi yang memiliki insidensi kejadian paling tinggi secara berurutan adalah furosemid dengan ACE inhibitor yang terjadi pada 84 pasien (76,36%), furosemid dengan asetosal pada 66 pasien (60%), dan ACE inhibitor dengan asetosal pada 57 pasien (51,82%). Pada pasien rawat jalan ditemukan interaksi farmakokinetika sebanyak 25 jenis (36%), interaksi farmakodinamik sebanyak 11 jenis (32%), dan interaksi dengan mekanisme yang tidak diketahui sebanyak 8 jenis (32%). Jenis interaksi yang memiliki insidensi kejadian paling tinggi secara berurutan adalah asetosal ACE inhibitor yang terjadi pada 90 pasien (70,87%), furosemid dengan ACE inhibitor pada 85 pasien (66,93%), dan ACE inhibitor dengan suplemen kalium pada 85 pasien (66,93%).

KELOMPOK 4
 Pemberian suatu obat (A) dapat mempengaruhi aksi obat lainnya (B)  dengan satu dari dua mekanisme berikut:
1.        Modifikasi efek farmakologi obat B tanpa mempengaruhi konsentrasinya di  cairan jaringan (interaksi farmakodinamik). 
2.        Mempengaruhi konsentrasi obat B yang mencapai situs aksinya (interaksi farmakokinetik).
a.        Interaksi ini penting secara klinis mungkin karena indeks terapi obat B  sempit (misalnya, pengurangan sedikit saja efek akan menyebabkan  kehilangan efikasi dan atau peningkatan sedikit saja efek akan  menyebabkan toksisitas).
b.        Interaksi ini penting secara klinis mungkin karena kurva dosis-respon  curam (sehingga perubahan sedikit saja konsentrasi plasma akan  menyebabkan perubahan efek secara substansial).
c.        Untuk kebanyakan obat, kondisi ini tidak ditemui, peningkatan yang  sedikit besar konsentrasi plasma obat-obat yang relatif tidak toksik seperti  penisilin hampir tidak menyebabkan peningkatan masalah klinis karena  batas keamanannya lebar.
d.        Sejumlah obat memiliki hubungan dosis-respon yang curam dan batas  terapi yang sempit, interaksi obat dapat menyebabkan masalah utama,  sebagai contohnya obat antitrombotik, antidisritmik, antiepilepsi, litium,  sejumlah antineoplastik dan obat-obat imunosupresan.   (Hashem, 2005).
Secara umum, ada dua mekanisme interaksi obat :
1.               Interaksi Farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik terjadi ketika suatu obat mempengaruhi absorbsi,  distribusi, metabolisme dan ekskresi obat lainnya sehingga meningkatkan atau  mengurangi jumlah obat yang tersedia untuk menghasilkan efek farmakologisnya  (BNF 58, 2009). 
Interaksi farmakokinetik terdiri dari beberapa tipe :
a.          Interaksi pada absorbsi obat
·               Efek perubahan pH gastrointestinal
Obat melintasi  membran mukosa dengan  difusi pasif tergantung pada  apakah obat terdapat dalam bentuk terlarut lemak yang tidak terionkan.
Absorpsi ditentukan oleh nilai pKa obat, kelarutannya dalam lemak, pH isi  usus dan sejumlah parameter yang terkait dengan formulasi obat. Sebagai  contoh adalah absorpsi asam salisilat oleh lambung lebih besar terjadi pada  pH rendah daripada pada pH tinggi (Stockley, 2008).
·                Adsorpsi, khelasi, dan mekanisme pembentukan komplek
 Arang aktif dimaksudkan bertindak  sebagai agen penyerap di dalam usus  untuk pengobatan overdosis obat atau untuk menghilangkan bahan beracun  lainnya, tetapi dapat mempengaruhi penyerapan obat yang diberikan dalam  dosis terapetik. Antasida juga dapat menyerap sejumlah besar obat-obatan.  Sebagai  contoh,  antibakteri  tetrasiklin  dapat  membentuk  khelat  dengan  sejumlah  ion logam divalen  dan  trivalen,  seperti  kalsium,  bismut  aluminium,  dan  besi,  membentuk  kompleks  yang  kurang  diserap  dan  mengurangi efek antibakteri (Stockley, 2008).  25
·                Perubahan motilitas gastrointestinal 
Karena kebanyakan obat sebagian besar diserap di bagian atas usus kecil,  obat-obatan yang mengubah  laju  pengosongan  lambung  dapat  mempengaruhi absorpsi. Propantelin misalnya, menghambat pengosongan  lambung dan mengurangi  penyerapan parasetamol (asetaminofen),  sedangkan metoklopramid memiliki efek sebaliknya (Stockley, 2008).
·               Induksi atau inhibisi protein transporter obat
Ketersediaan hayati  beberapa  obat  dibatasi  oleh  aksi  protein transporter obat. Saat  ini,  transporter obat yang terkarakteristik paling baik adalah P- glikoprotein.  Digoksin  adalah  substrat  P-glikoprotein,  dan  obat-obatan  yang  menginduksi  protein ini, seperti  rifampisin, dapat  mengurangi  ketersediaan hayati digoksin (Stockley, 2008).
·                Malabsorbsi dikarenakan obat
Neomisin menyebabkan sindrom malabsorpsi  dan dapat  mengganggu  penyerapan  sejumlah  obat-obatan termasuk digoksin  dan metotreksat  (Stockley, 2008).
b.          Interaksi pada distribusi obat
·                                       Interaksi ikatan protein
Setelah absorpsi, obat dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh oleh  sirkulasi. Beberapa obat secara total  terlarut dalam cairan plasma, banyak  yang  lainnya diangkut oleh beberapa proporsi molekul dalam  larutan dan  sisanya  terikat  dengan protein  plasma,  terutama  albumin.  Ikatan  obat  dengan protein plasma bersifat  reversibel, kesetimbangan dibentuk antara 26  molekul-molekul yang terikat dan yang tidak. Hanya molekul tidak terikat  yang tetap bebas dan aktif secara farmakologi (Stockley, 2008).
·                                       Induksi dan inhibisi protein transport obat
Distribusi obat ke otak, dan beberapa organ lain seperti testis, dibatasi oleh  aksi protein transporter obat seperti P-glikoprotein. Protein ini secara aktif  membawa obat keluar dari sel-sel ketika obat berdifusi secara pasif. Obat  yang  termasuk  inhibitor  transporter  dapat meningkatkan  penyerapan  substrat obat ke dalam otak, yang dapat meningkatkan efek samping CNS  (Stockley, 2008).

c.          Interaksi pada metabolisme obat
·               Perubahan pada metabolisme fase pertama
Meskipun beberapa obat dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk tidak  berubah dalam urin, banyak diantaranya secara  kimia diubah menjadi  senyawa lipid kurang larut, yang lebih mudah diekskresikan oleh ginjal.   Jika tidak demikian, banyak obat yang akan bertahan dalam tubuh dan  terus memberikan efeknya untuk waktu yang lama.  Perubahan kimia ini  disebut metabolisme, biotransformasi, degradasi biokimia, atau kadang- kadang detoksifikasi. Beberapa metabolisme obat terjadi di dalam serum,  ginjal, kulit dan usus, tetapi proporsi terbesar dilakukan oleh enzim   yang  ditemukan di membran retikulum endoplasma sel-sel hati. Ada dua  jenis  reaksi utama metabolisme obat. Yang pertama, reaksi tahap I (melibatkan  oksidasi, reduksi atau hidrolisis) obat-obatan menjadi senyawa yang lebih  polar. Sedangkan, reaksi tahap II melibatkan terikatnya obat dengan zat  lain (misalnya asam glukuronat,  yang dikenal sebagai glukuronidasi)  27 untuk membuat senyawa yang tidak aktif. Mayoritas reaksi oksidasi fase I  dilakukan oleh enzim sitokrom P450 (Stockley, 2008).  
·           Induksi Enzim
Ketika  barbiturat  secara luas  digunakan  sebagai  hipnotik,  perlu terus  dilakukan peningkatan dosis  seiring waktu untuk mencapai efek hipnotik  yang  sama,  alasannya  bahwa  barbiturat  meningkatkan  aktivitas  enzim  mikrosom  sehingga  meningkatkan  laju  metabolisme  dan  ekskresinya  (Stockley, 2008). 
·           Inhibisi enzim
Inhibisi enzim menyebabkan  berkurangnya metabolisme obat, sehingga  obat  terakumulasi di dalam tubuh. Berbeda dengan induksi enzim, yang  mungkin memerlukan waktu beberapa hari atau bahkan minggu untuk  berkembang sepenuhnya, inhibisi enzim  dapat terjadi dalam waktu 2  sampai 3 hari, sehingga terjadi perkembangan toksisitas yang cepat. Jalur  metabolisme yang paling sering dihambat adalah fase I  oksidasi oleh  isoenzim sitokrom P450. Signifikansi klinis dari banyak interaksi inhibisi  enzim tergantung  pada sejauh mana tingkat kenaikan serum  obat. Jika  serum tetap berada dalam kisaran terapeutik interaksi tidak penting secara  klinis (Stockley, 2008).
·           Faktor genetik dalam metabolisme obat
Peningkatan pemahaman genetika telah menunjukkan bahwa beberapa  isoenzim sitokrom  P450 memiliki polimorfisme genetik, yang berarti  bahwa beberapa dari populasi memiliki varian isoenzim  yang  berbeda  aktivitas.  Contoh yang paling terkenal adalah CYP2D6, yang sebagian 28  kecil populasi memiliki varian aktivitas rendah dan dikenal sebagai  metabolisme lambat.  Sebagian  lainnya memiliki isoenzim cepat atau  metabolisme ekstensif.  Kemampuan yang berbeda dalam metabolisme  obat-obatan tertentu dapat menjelaskan  mengapa beberapa pasien  berkembang mengalami toksisitas ketika diberikan obat sementara yang  lain bebas dari gejala (Stockley, 2008).
·           Interaksi isoenzim sitokrom P450 dan obat yang diprediksi
Siklosporin dimetabolisme  oleh CYP3A4, rifampisin menginduksi isoenzim ini, sedangkan ketokonazol menghambatnya, sehingga tidak  mengherankan bahwa rifampisin mengurangi efek siklosporin sementara  ketokonazol meningkatkannya (Stockley, 2008).
d.          Interaksi pada ekskresi obat
·           Perubahan pH urin
Pada nilai pH tinggi (basa),  obat yang bersifat asam lemah (pKa 3-7,5)  sebagian besar  terdapat sebagai molekul  terionisasi larut lipid, yang tidak  dapat berdifusi ke dalam sel tubulus dan karenanya akan tetap dalam urin  dan dikeluarkan dari tubuh. Sebaliknya, basa lemah dengan nilai pKa 7,5  sampai 10.5. Dengan demikian, perubahan pH yang meningkatkan jumlah  obat dalam bentuk terionisasi,  meningkatkan hilangnya obat  (Stockley, 2008).
·           Perubahan ekskresi aktif tubular renal 
Obat  yang menggunakan  sistem  transportasi  aktif yang sama  di  tubulus  ginjal  dapat  bersaing  satu sama lain  dalam  hal  ekskresi. Sebagai contoh,  probenesid  mengurangi  ekskresi  penisilin  dan  obat  lainnya.  Dengan 29  meningkatnya pemahaman  terhadap  protein  transporter  obat  pada  ginjal,  sekarang  diketahui  bahwa  probenesid menghambat  sekresi  ginjal  banyak  obat  anionik  lain  dengan  transporter anion  organik (OATs)  (Stockley, 2008).
·           Perubahan aliran darah renal
Aliran  darah  melalui  ginjal  dikendalikan  oleh  produksi  vasodilator  prostaglandin  ginjal.  Jika  sintesis  prostaglandin  ini  dihambat,  ekskresi  beberapa obat dari ginjal dapat berkurang (Stockley, 2008).
2.               Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang terjadi antara obat yang  memiliki efek farmakologis,  antagonis atau efek samping yang hampir sama.  Interaksi ini dapat terjadi karena kompetisi pada reseptor atau terjadi antara obat- obat yang bekerja pada sistem fisiologis yang sama. Interaksi ini biasanya dapat  diprediksi dari pengetahuan tentang farmakologi obat-obat yang berinteraksi  (BNF 58, 2009). 
a.        Interaksi aditif atau sinergis 
Jika dua obat yang memiliki efek farmakologis yang sama diberikan  bersamaan efeknya bisa bersifat aditif. Sebagai contoh, alkohol menekan SSP, jika  diberikan dalam jumlah sedang dosis terapi normal sejumlah besar obat (misalnya  ansiolitik, hipnotik, dan lain-lain),  dapat menyebabkan mengantuk berlebihan.  Kadang-kadang efek aditif menyebabkan  toksik (misalnya aditif ototoksisitas,  nefrotoksisitas, depresi sumsum tulang dan perpanjangan interval QT) (Stockley, 2008).
b.        Interaksi antagonis atau berlawanan                             
Berbeda dengan interaksi aditif, ada beberapa pasang obat dengan kegiatan  yang bertentangan satu sama lain. Misalnya kumarin dapat memperpanjang waktu  pembekuan  darah  yang secara  kompetitif  menghambat  efek  vitamin  K.  Jika  asupan  vitamin  K  bertambah,  efek  dari  antikoagulan  oral  dihambat  dan  waktu  protrombin  dapat kembali  normal,  sehingga  menggagalkan  manfaat  terapi  pengobatan antikoagulan (Stockley, 2008).
B.                Tingkat Keparahan Interaksi Obat
Keparahan interaksi diberi tingkatan dan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga level : minor, moderate, atau major.
1.          Keparahan minor
Sebuah interaksi termasuk ke  dalam keparahan  minor  jika interaksi  mungkin terjadi tetapi dipertimbangkan signifikan potensial berbahaya terhadap  pasien jika terjadi kelalaian. Contohnya adalah penurunan absorbsi ciprofloxacin  oleh antasida ketika dosis diberikan kurang dari dua jam setelahnya (Bailie, 2004).
2.          Keparahan moderate 
Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan  moderate  jika satu dari  bahaya potensial mungkin terjadi pada pasien, dan beberapa tipe intervensi/monitor sering diperlukan. Efek interaksi  moderate  mungkin  menyebabkan perubahan status klinis pasien, menyebabkan perawatan tambahan,  perawatan di rumah sakit dan atau perpanjangan lama tinggal di rumah sakit.  Contohnya adalah dalam kombinasi vankomisin dan gentamisin perlu dilakukan  monitoring nefrotoksisitas (Bailie, 2004).
3.          Keparahan major
Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan  major  jika terdapat probabilitas yang tinggi kejadian yang membahayakan pasien termasuk kejadian  yang menyangkut nyawa pasien dan terjadinya  kerusakan permanen  (Bailie,  2004). Contohnya adalah perkembangan aritmia yang terjadi karena pemberian  eritromisin dan terfenadin (Piscitelii, 2005).
C.               Faktor-faktor Penyebab Interaksi Obat
Sekarang ini, potensi efek yang tidak terduga sebagai akibat dari interaksi  antara obat dan obat lain atau makanan telah  ditetapkan. Risiko interaksi obat  akan meningkat  seiring  dengan peningkatan  jumlah obat yang digunakan  oleh  individu. Hal ini juga menyiratkan risiko yang lebih besar  pada  orang tua dan  mengalami penyakit kronis, karena mereka akan menggunakan obat-obatan lebih  banyak  daripada  populasi umum. Risiko juga meningkat bila rejimen pasien  berasal dari beberapa resep.  Peresepan dari satu apotek saja mungkin dapat  menurunkan risiko interaksi yang tidak terdeteksi (McCabe, et.al., 2003). 
 Interaksi obat potensial seringkali terjadi pada pasien rawat inap yang  diresepkan banyak pengobatan. Prevalensi interaksi obat meningkat secara linear  seiring dengan peningkatan jumlah obat yang diresepkan, jumlah kelas obat dalam terapi, jenis kelamin dan usia pasien (Mara and Carlos, 2006).
1.               INTERAKSI ANTARA HALOPERIDOL DENGAN LEVODOPA
Haloperidol adalah antipsikotik yang dilaporkan sering menimbulkan efek neurologis yaitugejala ekstra piramidal berupa sindrom parkinson. Sedangkan Levodopa, yang paling banyak digunakan pengobatan adalah L-dopa dalam berbagai bentuk. L-dopa berubah menjadi dopamin di neuron dopaminergik oleh L- dekarboksilase asam amino aromatik (sering dikenal dengan nama mantan dekarboksilase dopa-). Namun, hanya 1-5% dari L-dopa memasuki neuron dopaminergik. L sisa-dopa sering dimetabolisme menjadi dopamin di tempat lain, menyebabkan berbagai efek samping. Karena inhibisi umpan balik, L-dopa hasil pengurangan endogen dalam pembentukan L-dopa, dan akhirnya menjadi kontraproduktif.
Berdasarkan hasil DIPS ( Drug Interaction Probable Score ), diketahui bahwa interaksi antara Haloperidol dan Levodopa memiliki score 6 yaitu Probable yang berarti interaksi memungkinkan untuk terjadi apabila diberi kombinasi Haloperidol dan Levodopa secara bersamaan. Dimana Haloperidol bertindak sebagai obat presipitan dan Levodopa sebagai obat objek. Mekanisme yang terjadi dari interaksi tersebut yaitu haloperidol mengurangi khasiat levodopa pada penyakit Parkinson oleh blokade reseptor dopamin di korpus stratum.Hasilnya mungkin memperburuk fungsi motorik, kambuh psikosis, atau kombinasi keduanya. Hasil dari DIPS yaitu

1. YA, dibuktikan dengan adanya case report yang dilakukan pada wanita berusia 60 tahun yang memiliki penyakit parkinson.
 2. YA, karena sesuai dengan literatur bahwa Haloperidol merupakan antipsikosik yang dilaporkan dapat menimbulkan efek neurologis yaitu gejala ekstra piramidal berupa sindrom parkinson. Mekanisme yang terjadi yaitu haloperidol memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron pada otak.

3. YA, karena mekanisme dari obat objek sesuai dengan literatur yaitu
4. YA. Karena interaksi antara obat haloperidol dengan levodopa terjadi setelah 4 minggu pemberian haloperidol, yang menyebabkan kondisi pasien penyakit parkinson menjadi menurun akibat pemberian haloperidol.
5. YA. Karena didalam jurnal disebutkan bahwa setelah delapan hari penarikan haloperidol, gejala yang  membaik yang terlihat pada pasien secara signifikan.
6. UNKNOWN. Karena tidak ada penelitian yang menjelaskan tentang kejadian tersebut.
7. NO. Karena tidak ada sebab-sebab lain yang memungkinkan penyebab terjadinya interaksi tersebut.
8. UNKNOWN. Karena interaksi yang terjadi merupakan interaksi farmakodinamik sehingga tidak melibatkan perubahan dalam konsentrasi obat objek.
9. UNKNOWN. Karena tidak ada penilaian yang dibuat dan dilaporkan terhadap pertanyaan tersebut.
10. UNKNOWN. Karena tidak ada penelitian yang menunjukan kejadian tersebut.
2.               INTERAKSI ANTARA HALOPERIDOL DENGAN AMITRIPTILIN
Mekanisme yang terjadi dari interaksi Haloperidol dengan Amitriptilin yaitu Penggunaan secara bersamaan antara amitriptilin dengan haloperidolmenyebabkanterjadinya peningkatan kadar amitriptilin dalam darah. Hal ini dikarenakan haloperidolmenurunkan metabolisme dari amitriptilin.

Berdasarkan hasil dari DIPS ( Drug Interaction Probable Score ), diketahui bahwa interaksi antara Haloperidol dan Amitriptilin memiliki score 5 yaitu Probable yang berarti interaksi memungkinkan untuk terjadi apabila pemberian kombinasi Haloperidol dan Amitriptilin secara bersamaan.Dimana Haloperidol bertindak sebagai obat presipitan dan Amitriptilin sebagai obat objek. Hasil dari DIPS yaitu

1. YA. Dibuktikan dengan adanya jumlah kejadian dari interaksi yaitu 2 kejadian dengan persentase 4,55% yang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas.
2. YA. Karena mekanisme kerja obat antipsikotik haloperidol adalah dengan cara memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak.
3. YA. Mekanisme dari Amitriptiline yaitu dengan menghambat re-uptake 5-HT dan norepineprin dan menurunkan reseptor 5-HT sehingga dapat meningkatkan konsentrasi 5-HT dicelah sinaptik.4. YA. Karena terdapat pernyataan yang menyebutkan bahwa pemakaian secara bersamaan Haloperidol dengan Amitriptilin secara bersamaan setelah 2 minggu dapat menimbulkan efek tonik-klonik.

5. UNKNOWN. Karena tidak ada penelitian yang menunjukan bahwa obat presipitan dihentikan.
6. UNKNOWN. Karena tidak ada penelitian yang menjelaskan tentang kejadian tersebut.
7. NO. Karena tidak ada sebab-sebab lain yang menyebabkan terjadinya interaksi tersebut.
8. UNKNOWN. Karena konsentrasi dari obat objek tidak terukur.
9. UNKNOWN. Karena tidak ada penilaian yang dibuat dan dilaporkan terhadap pertanyaan tersebut.
10. UNKNOWN. Karena tidak ada penelitian yang menunjukan kejadian tersebut.
KESIMPULANBerdasarkan hasil DIPS ( Drug Interaction Probable Score ), diketahui bahwa interaksi antara Haloperidol dan Levodopa memiliki score 6 yaitu Probable yang berarti interaksi memungkinkan untuk terjadi apabila diberi kombinasi Haloperidol dan Levodopa secara bersamaan. Dimana Haloperidol bertindak sebagai obat presipitan dan Levodopa sebagai obat objek. Berdasarkan hasil dari DIPS ( Drug Interaction Probable Score ), diketahui bahwa interaksi antara Haloperidol dan Amitriptilin memiliki score 5 yaitu Probable yang berarti interaksi memungkinkan untuk terjadi apabila pemberian kombinasi Haloperidol dan Amitriptilin secara bersamaan.Dimana Haloperidol bertindak sebagai obat presipitan dan Amitriptilin sebagai obat objek
KELOMPOK 5
Mekanisme kerja Paracetamol
Selama bertahun-tahun digunakan, informasi tentang cara kerja parasetamol dalam tubuh belum sepenuhnya diketahui dengan jelas hingga pada tahun 2006 dipublikasikan dalam salah satu jurnal Bertolini A, et. al dengan topik Parasetamaol : New Vistas of An Old Drug, mengenai aksi pereda nyeri dari parasetamol ini.
Mekanisme kerja yang sebenarnya dari parasetamol masih menjadi bahan perdebatan. Parasetamol menghambat produksi prostaglandin (senyawa penyebab inflamasi), namun parasetamol hanya sedikit memiliki khasiat anti inflamasi. Telah dibuktikan bahwa parasetamol mampu mengurangi bentuk teroksidasi enzim siklooksigenase (COX), sehingga menghambatnya untuk membentuk senyawa penyebab inflamasi. Paracetamol juga bekerja pada pusat pengaturan suhu pada otak. Tetapi mekanisme secara spesifik belum diketahui.Ternyata di dalam tubuh efek analgetik dari parasetamol diperantarai oleh aktivitas tak langsung reseptor canabinoid CB1. Di dalam otak dan sumsum tulang belakang, parasetamol mengalami reaksi deasetilasi dengan asam arachidonat membentuk N-arachidonoylfenolamin, komponen yang dikenal sebagai zat endogenous cababinoid. Adanya N-arachidonoylfenolamin ini meningkatkan kadar canabinoid endogen dalam tubuh, disamping juga menghambat enzim siklooksigenase yang memproduksi prostaglandin dalam otak. Karena efek canabino-mimetik inilah terkadang parasetamol digunakan secara berlebihan.
Sebagaimana diketahui bahwa enzim siklooksigenase ini berperan pada metabolisme asam arakidonat menjadi prostaglandin H2, suatu molekul yang tidak stabil, yang dapat berubah menjadi berbagai senyawa pro-inflamasi. Kemungkinan lain mekanisme kerja parasetamol ialah bahwa parasetamol menghambat enzim siklooksigenase seperti halnya aspirin mengurangi produksi prostaglandin, yang berperan dalam proses nyeri dan demam sehingga meningkatkan ambang nyeri, namun hal tersebut terjadi pada kondisi inflamasi, dimana terdapat konsentrasi peroksida yang tinggi. Pada kondisi ini oksidasi parasetamol juga tinggi, sehingga menghambat aksi anti inflamasi. Hal ini menyebabkan parasetamol tidak memiliki khasiat langsung pada tempat inflamasi, namun malah bekerja di sistem syaraf pusat untuk menurunkan temperatur tubuh, dimana kondisinya tidak oksidatif.
Mekanisme Reaksi                                                   
Paracetamol bekerja dengan mengurangi produksi prostaglandins dengan mengganggu enzim cyclooksigenase (COX). Parasetamol menghambat kerja COX pada sistem syaraf pusat yang tidak efektif dan sel edothelial dan bukan pada sel kekebalan dengan peroksida tinggi. Kemampuan menghambat kerja enzim COX yang dihasilkan otak inilah yang membuat paracetamol dapat mengurangi rasa sakit kepala dan dapat menurunkan demam tanpa menyebabkan efek samping,tidak seperti analgesik-analgesik lainnya.

Mekanisme Amlodipine
Menghambat ion kalsium ketika memasuki saluran lambat atau area sensitif tegangan selektif pada otot polos vaskuler dan miokardium selama depolarisasi, menghasilkan relaksasi otot polos vaskuler koroner dan vasodilatasi koroner, meningkatkan penghantaran oksigen pada pasien angina vasospastik. Amlodipine menghambat transmembran masuknya ion kalsium ekstraseluler melintasi membran sel miokardium dan sel otot polos pembuluh darah, tanpa mengubah konsentrasi serum kalsium.
Mekanisme Simvastatin
Simvastatin adalah turunan metilasi dari lovastatin yang bekerja secara kompetitif menghambat 3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme A (HMG-CoA) reduktase,enzim yang sangay berperan dalam katalisasi biosintesis kolesterol. Menghambat HMG-CoA reduktase, menyebabkan pengurangan berikutnya di synthesis kolesterol hati Mengurangi konsentrasi serum kolesterol total, LDL-kolesterol, VLDL-kolesterol, apo B, dan triglycerides (Tg). Statin dapat memperlambat perkembangan dan / atau menyebabkan regresi aterosklerosis pada arteri koroner dan / atau karotis, memodulasi BP pada pasien hiperkolesterolemia dengan hipertensi, dan memiliki aktivitas anti-inflamasi.
Simvastatin-amlodipin
a.        Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya   mengenai interaksi ini pada manusia ?
JAWAB : YES
3-Hydroxy-3-methylglutaryl-koenzim A (HMG-CoA) reduktase sering diresepkan dalam hubungan dengan agen antihipertensi, termasuk antagonis kalsium. Simvastatin adalah reduktase inhibitor HMG-CoA yang dimetabolisme oleh sitokrom P450 (CYP) 3A4. Kalsium antagonis amlodipine juga dimetabolisme oleh CYP3A4. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki interaksi obat antara amlodipine dan simvastatin. Delapan pasien dengan hiperkolesterolemia dan hipertensi yang terdaftar. Mereka diberi 4 minggu simvastatin oral (5 mg / hari), diikuti oleh 4 minggu amlodipine oral (5 mg / hari) co-dikelola dengan simvastatin (5 mg / hari). Dikombinasikan pengobatan dengan simvastatin dan amlodipine meningkat puncak konsentrasi (Cmax) dari HMG-CoA reductase inhibitors dari 9,6 ± 3,7 ng / ml 13,7 ± 4,7 ng / ml (p <0,05) dan daerah di bawah konsentrasi-waktu kurva (AUC) dari 34,3 ± 16,5 ng h / ml menjadi 43,9 ± 16,6 ng h / ml (p <0,05) tanpa mempengaruhi efek penurun kolesterol simvastatin. Penelitian ini adalah yang pertama untuk menentukan prospektif interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik antara amlodipine dan simvastatin. (HypertensRes 2005; 28: 223-227)
b.       Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi obat presipitan?

Amlodipine merupakan salah satu 1,4-dihidropiridin antagonis kalsium dengan paruh eliminasi panjang (27-29). Amlodipine mengalami metabolisme oksidatif dihydropiridin ke analog piridin oleh CYP3A4 (30). Dalam invitro Penelitian, amlodipine terbukti memiliki penghambatan yang kuat efek pada CYP1A1, CYP2B6 dan CYP2C9, dan lemah efek penghambatan pada CYP3A4 saat menggunakan mikrosom dari sel B-lymphoblast manusia mengekspresikan CYP (31). Meskipun amlodipine adalah salah satu antagonis kalsium yang paling sering digunakan, interaksi obat antara amlodipine dan substratobat untuk CYP3A4 belum diteliti secara klinis. Di dalam Studi kami prospektif mempelajari farmakokinetik dan farmakodinamik interaksi obat antara amlodipine dan simvastatin pada pasien dengan hiperkolesterolemia dan hipertensi.
c.        Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi obat objek?

Simvastatin adalah lakton pro-obat tidak aktif  yang dihidrolisis oleh esterases asam simvastatin, inhibitor kompetitif aktif HMG-CoA reductase (10-12). Simvastatin dan simvastatin Asam terutama dimetabolisme oleh sitokrom P450 (CYP) 3A4 ke 3 ', 5' dihydrodiol, 3'-hidroksi dan 6'-exomethylene (10-12). Farmakokinetik simvastatin telah dilaporkan dipengaruhi oleh inhibitor CYP3A4 ampuh seperti itrakonazol (13), eritromisin (14), verapamil (14) dan nelfinavir (15). Selain itu, kami telah dilaporkan sebelumnya bahwa diltiazem, yang merupakan inhibitor selektif CYP3A4 (16, 17), menyebabkan peningkatan 2 kali lipat dari daerah di bawah kurva concentrationtime (AUC) inhibitor HMG-CoA (18). Hiperkolesterolemia sering disertai dengan hipertensi, faktor risiko yang terkait untuk CAD (19-21). antagonis kalsium telah banyak digunakan dalam pengobatan hipertensi dan / atau angina pectoris (22-26), dan sering diresepkan dalam hubungan dengan agen penurun lipid seperti simvastatin. Amlodipine merupakan salah satu 1,4-dihidropiridin antagonis kalsium dengan paruh eliminasi panjang (27-29).
d.        UNKNOWN
e.        UNKNOWN
f.         UNKNOWN
g.        Adakah penyebab lain dari kejadian interaksi obat tersebut ?
Pemberian dengan jus jeruk dapat secara signifikan meningkatkan konsentrasi plasma lovastatin dan simvastatin dan metabolit asam aktif mereka. Mekanisme yang diusulkan adalah penghambatan CYP450 3A4-dimediasi pertama-pass metabolisme di dinding usus dengan senyawa tertentu hadir dalam jeruk. Ketika dosis 60 mg tunggal simvastatin itu diberikan bersama 200 ml jus jeruk dua kekuatan tiga kali sehari, paparan sistemik simvastatin (AUC) meningkat 16 kali lipat dan AUC asam simvastatin meningkat 7 kali lipat. Pemberian dosis 20 mg tunggal simvastatin dengan 8 ons jus jeruk single-kekuatan meningkatkan AUC simvastatin dan asam simvastatin 1,9 kali lipat dan 1,3 kali lipat, masing-masing. Interaksi juga telah dilaporkan dengan lovastatin, yang memiliki profil metabolik yang mirip dengan simvastatin

H. UNKNOWN
SIMVASTATIN-LANSOPRAZOLE

a.        Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya   mengenai interaksi ini pada manusia ?

b.       UNKNOW
c.        Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi obat objek ?Vorikonazol dimetabolisme oleh CYP2C19 dan CYP3A4 isoenzim. Lansoprazole adalah inhibitor yang CYP2C19 isoenzim. Persaingan antara vorikonazol dan lansoprazole kemungkinan menyebabkan peningkatan konsentrasi vorikonazol serum dan hepatitis kolestasis akut pada pasien ini. Simvastatin menghambat isoenzim CYP3A4.
d.       UNKNOWN
e.        Apakah terjadi penurunan efek interaksi ketika obat presipitan dihentikan tetapi tidak ada perubahan pada obat objek ?


f.         Apakah interaksi muncul kembali ketika obat presipitan diberikan lagi pada penggunaan objek yang lama ?

g.        Adakah penyebab lain dari kejadian interaksi obat tersebut ?
Simvastatin adalah lakton pro-obat tidak aktif  yang dihidrolisis oleh esterases asam simvastatin, inhibitor kompetitif aktif HMG-CoA reductase (10-12). Simvastatin dan simvastatin Asam terutama dimetabolisme oleh sitokrom P450 (CYP) 3A4 ke 3 ', 5' dihydrodiol, 3'-hidroksi dan 6'-exomethylene (10-12). Farmakokinetik simvastatin telah dilaporkan dipengaruhi oleh inhibitor CYP3A4 ampuh seperti itrakonazol (13), eritromisin (14), verapamil (14) dan nelfinavir (15). Selain itu, kami telah dilaporkan sebelumnya bahwa diltiazem, yang merupakan inhibitor selektif CYP3A4 (16, 17), menyebabkan peningkatan 2 kali lipat dari daerah di bawah kurva concentrationtime (AUC) inhibitor HMG-CoA (18). Hiperkolesterolemia sering disertai dengan hipertensi, faktor risiko yang terkait untuk CAD (19-21). antagonis kalsium telah banyak digunakan dalam pengobatan hipertensi dan / atau angina pectoris (22-26), dan sering diresepkan dalam hubungan dengan agen penurun lipid seperti simvastatin. Amlodipine merupakan salah satu 1,4-dihidropiridin antagonis kalsium dengan paruh eliminasi panjang (27-29).
h.       Apakah interaksi lebih besar ketika obat presipitan ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat presipitan diturunkan ?

KELOMPOK 6
Simvastatin merupakan salah satu obat penurun kolesterol dalam darah atau yang lebih dikenal dengan statin.Kinerja obat ini adalah menghambat enzim pembentuk kolesterol sehingga kadar kolesterol dalam darah berkurang. Keefektifan obat ini akan semakin terlihat jika disertai dengan penerapan gaya hidup yang sehat seperti berolahraga secara teratur dan menjauhi makan berminyak. Dengan menurunkan kadar LDL dalam darah, simvastatin juga mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke. Kadar LDL yang normal dalam darah adalah di bawah 100 mg/dL .
Dosis Simvastatin
Dosis penggunaan simvastatin tergantung kepada tingkat kadar kolesterol dalam darah pasien, kondisi kesehatannya, dan seberapa tinggi risiko terkena serangan jantung dan stroke. Dokter biasanya menganjurkan pasien untuk menggunakan obat ini dengan dosis 5-40 mg per hari.Dosis maksimal simvastatin adalah 40 mg sehari. Obat ini dikonsumsi hanya satu kali sehari pada malam hari. Farmakodinamik
Simvastatin analog 3-Hidroksi-3-metilglutarat, suatu precursor kolesterol  dan merupakan obat yang menurunkan kadar kolesterol (hipolipidemik). Simvastatin merupakan hasil sintesa dari hasil fermentasi Aspergillus terreus. Secara invivo simvastatin akan dihidrolisa menjadi metabolit aktif. Mekanisme kerja dari metabolit aktif tersebut adalah dengan cara menghambat kerja 3-Hidroksi-3-metilglutaril koenzim A reduktase (HMG Co-A reduktase), dimana enzim ini mengkatalisa perubahan HMG Co-A menjadi asam mevalonat yang merupakan langkah awal dari sintesa kolesterol. Penghambat HMG Co-A reduktase menghambat sintesis kolesterol di hati dan hal ini akan menurunkan kadar LDL plasma. Menurunnya kadar kolesterol akan menimbulkan perubahan-perubahan yang berkaitan dengan potensial obat ini.  Kolesterol menekan transkripsi tiga jenis gen yang mengatur sintesis HMG Co-A sintase, HMG Co-A reduktase dan reseptor LDL. Menurunnya sintesis kolesterol oleh penghambat HMG Co-A reduktase akan menghilangkan hambatan ekspresi tiga jenis gen tersebut di atas, sehingga aktivitas sintesis kolesterol meningkat secara kompensatoir. Hal ini menyebabkan penurunan sintesis kolesterol oleh penghambat HMG Co-A reduktase tidak besar. Rupa-rupanya obat ini melangsungkan efeknya dalam menurunkan kolesterol dengan cara meningkatkan jumlah reseptor LDL, sehingga katabolisme kolesterol terjadi semakin banyak. Dengan demikian maka obat ini dapat menurunkan kadar kolesterol (LDL). Oleh karena itu pula obat ini tidak efektif untuk penderita hiperkolesterolemia familial homozigot, karena jumlah reseptor LDL pada penderita ini sedikit sekali.
Farmakokinetik Karena ekstraksi first-pass, kerja utama obat-obat ini pada hati yang dihidrolisis menjadi asam. Ekskresi terjadi terutama melalui empedu dan feses tetapi pengeluaran melalui urin juga terjadi. Waktu paruh berkisar antara 1,5-2 jam.
Itraconazole Itraconazole adalah obat untuk mengatasi infeksi jamur dengan cara membunuh jamur dan ragi penyebab infeksi. Infeksi akibat jamur atau fungi bisa menjangkiti mulut, kulit, dan vagina.Obat ini termasuk golongan triazole yang memiliki spektrum yang lebih luas dari fluconazole.Penderita HIV/AIDS, orang yang sedang dalam pengobatan penyakit rematik, dan pasien yang menjalani kemoterapi lebih rentan terkena infeksi jamur internal karena sistem kekebalan tubuh yang lemah atau tidak berfungsi dengan baik
Dosis Itraconazole
Dosis yang umum diresepkan dokter adalah antara 100-400 mg per hari. Dosis akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien dan jenis jamur penyebab infeksi.
Mekanisme kerja
 Seperti halnya azole yang lain, itraconazole berinterferensi dengan enzim yang dipengaruhi oleh cytochrome P-450, 14(-demethylase. Interferensi ini menyebabkan akumulasi 14-methylsterol dan menguraikan ergosterol di dalam sel-sel jamur dan kemudian mengganti sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran
Farmakokinetik
 Itrakonazol akan diserap lebih sempurna melalui saluran cerna, bila diberikan bersama dengan makanan. Dosis 100 mg/hari selama 15 hari akan menghasilkan kadar puncak sebesar 0,5 µg/ml. Waktu paruh eliminasi obat ini 36 jam (setelah 15 hari pemakaian).
Obat simvastatin dengan itraconazole
1.        Apakah ada laporan yang dapat di percaya  sebelumnya mengenai interasi ini pada manusia ? Yes
Simvastatin sebagai obat penurun kolesterol yang efektif secara luas diresepkan untuk mengobati penyakit kardiovaskular. Meskipun keamanan yang pasti dan kemanjuran, miopati dan disfungsi hati adalah efek samping yang umum dari simvastatin. Sedikit informasi yang tersedia mengenai gejala awal dan pemulihan jangka waktu untuk pasien yang menjalani samping efek. Kami hadir di sini pasien laki-laki berusia 65 tahun dengan baik disfungsi hati dan myositis akibat penggunaan bersamaan itrakonazol 400 mg dan simvastatin 40 mg sehari.

2.        Apakah interasi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interasi dari obat presipitan ? Yes Karena studi pencegahan primer dan sekunder telah dibuktikan bahwa dengan menurunkan kadar LDL-C, statin secara signifikan dapat mengurangi morbiditas dan kematian pada pasien dengan penyakit arteri koroner.
3.        Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur tentang mekanisme interaksi dari obat objek ? Yes Simvastatin dimetabolisme oleh CYP3A4 dan dapat mengganggu ubiquitin proteasome (koenzim Q10 (CoQ10)) jalur yang terutama mempertahankan arsitektur otot rangka itrakonazol dan nefazodone, akan meningkatkan plasma konsentrasi simvastatin secara dramatis dan mengintensifkan bahaya miopati pada pasien yang diobati dengan simvastatin terutama pada dosis tinggi
unknown
4.        unknown
5.        No
6.        unknown
7.        Unknown
8.        Unknown
9.        Unknown
KESIMPULAN Dari jurnal internasional obat simvastatin dengan itrakonazol dapat disimpulkan bahwa bila obat itrakonazol dengan dosis  400 mg digunakan secara bersamaan dengan  simvastatin  dosisnya 40 mg sehari akan menyababkan disfungsi hati dan myositis.
KELOMPOK 8
Captopril adalah obat tekanan darah tinggi atau hipertensi. Obat ini merupakan obat pilihan pertama untuk penderita hipertensi tanpa komplikasi. Terdapat bayak golongan obat antihipertensi. Captopril termasuk dalam golongan obat inhibitor enzim angiotensin konverter (angiotensin-converting enzyme inhibitor, ACEI). Captopril termasuk dalam golongan obat penghambat enzim pengubah angiotensin. Fungsi utama obat ini adalah untuk mengobati hipertensi dan gagal jantung. Tetapi captopril juga berguna untuk melindungi jantung setelah terjadi serangan jantung serta menangani penyakit ginjal akibat diabetes atau nefropati diabetes.
Digoxin adalah salah satu obat yang digunakan dalam penanganan masalah ritme jantung dan gagal jantung kongestif. Digoxin mengendalikan detak jantung dan meningkatkan kekuatan serta efisiensi jantung sehingga sirkulasi darah menjadi lebih baik. Akibatnya, pembengkakan pada tangan dan pergelangan kaki juga turut reda. Detak jantung yang tidak teratur, atau disebut dengan aritmia, bisa menyebabkan rasa sakit pada dada, pusing, jantung berdebar, dan sulit bernapas. Digoxin akan memperlambat detak jantung hingga normal sehingga gejala akan membaik dan jantung akan menjadi efisien kembali. Digoxin adalah obat dengan fungsi untuk mengobati gagal jantung, biasanya bersama dengan obat lain. Obat ini juga digunakan untuk mengobati jenis tertentu dari denyut jantung tidak teratur (fibrilasi atrium kronik). Mengobati gagal jantung dapat membantu anda tetap dapat berjalan dan olahraga dan dapat meningkatkan kekuatan jantung Anda. Mengobati denyut jantung yang tidak teratur dapat menurunkan risiko darah menggumpal, efek yang dapat menurunkan risiko terkena serangan jantung atau stroke. Digoxin termasuk golongan cardiac glycoside. Obat ini bekerja pada mineral tertentu (natrium dan kalium) di dalam sel jantung. Digoxin menurunkan ketegangan jantung dan membantu agar denyut jantung tetap normal, teratur, dan kuat.
Meloxicam adalah salah satu obat anti inflamasi non-steroid. Obat ini umumnya digunakan untuk meredakan gejala-gejala artritis, misalnya inflamasi, pembengkakan, serta kaku dan nyeri otot. Contoh penyakit artritis yang biasanya ditangani dengan meloxicam adalah osteoartritis, artritis reumatoid, dan ankylosing spondylitis. Obat ini bekerja dengan menghambat enzim yang memproduksi prostaglandin, yaitu senyawa yang dilepas tubuh yang menyebabkan rasa sakit serta inflamasi. Dengan menghalangi prostaglandin, obat ini akan mengurangi rasa sakit dan inflamasi. Meloxicam hanya dapat mengurangi gejala dan tidak menyembuhkan artritis.
Sukralfat adalah obat yang digunakan untuk menangani tukak duodenum. Duodenum adalah bagian pertama usus halus. Obat ini umumnya dikonsumsi untuk jangka pendek, yaitu selama empat hingga delapan minggu. Sukralfat bekerja dengan membentuk lapisan pelindung pada dinding duodenum sehingga dapat melindungi tukak dari asam lambung. Dengan membentuk pelindung tersebut, obat ini akan mencegah kerusakan tidak bertambah parah, meredakan Obat Captopril dengan Meloxicam
1.  Yes
Aspirin muncul untuk menghambat efek antihipertensi kaptopril dan ACE-inhibitor lain dan menguntungkan Efek hemodinamik dari ACE-inhibitor pada pasien dengan gagal jantung kongestif. Efek penghambatan aspirin pada ACE-inhibitor mungkin dosis terkait (seeling, 1990; Smith, 1993; Hall, 1992; Sloufi, 1994; Van, 1994 dan Moore et al., 1981).
2.  Yes
Itu telah ditetapkan bahwa efek antihipertensi kaptopril dapat dikurangi atau dihapuskan dengan menggunakan berbagai NSAID seperti aspirin, ibuprofen dan indometasin, sedangkan sulindac hanya memiliki sangat kecil efek. Aspirin muncul untuk menghambat efek antihipertensi kaptopril dan ACE-inhibitor lain dan menguntungkan Efek hemodinamik dari ACE-inhibitor pada pasien dengan gagal jantung kongestif. Efek penghambatan aspirin pada ACE-inhibitor mungkin dosis terkait (seeling, 1990; Smith, 1993; Hall, 1992; Sloufi, 1994; Van, 1994 dan Moore et al., 1981).
3.   Yes

Administrasi simultan ini obat dapat mempengaruhi bioavailabilitas captopril, yang mungkin mengakibatkan hilangnya efek terapi obat. Dari atas Temuan itu jelas bahwa kaptopril berinteraksi dengan NSAID dan karenanya dalam rangka untuk mengetahui 'In vitro' interaksi kaptopril dengan yang biasa digunakan NSAID, sebuah studi tentang ketersediaan in vitro kaptopril dilakukan di hadapan natrium diklofenak,flurbiprofen,mefenamat asam, meloxicam.
4.   Unknown
5.   Unknown
6.   Yes
Studi ini jelas menunjukkan bahwa sebagian mengikat NSAID untuk captopril, membentuk biaya transfer kompleks mengungkapkan bahwa ketersediaan captopril dapat dipengaruhi oleh bersamaan administrasi NSAID.
7.   NO
8.  Unknown
9.  Obat Digoxin dengan Sukralfat
1.          Yes
2.         yes
3.         Unknown
4.        Unknown
5.        Unknown
6.        Yes
7.         No
8.         Unknown
KESIMPULAN Dari hasil yang kami dapatkan bahwa dengan menggunakan obat secara bersamaan dapat terjadi adanya  interaksi  seperti obat kaptopril dengan meloxicam yang menimbulkan perubahan efek antihipertensi kaptopril. Pada obat digoxin dan sukralfat apabila digunakan secara bersamaan dapat terjadi penurunan absorpsi dari digoxin.
KELOMPOK 9
a.        Rifampicin dengan isoniazid
Statu                : Major
Interaksi          : Risiko hepatoksisitas lebih besar ketika rifampisin dan isoniazid diberikan bersamaan daripada ketika salah obat diberikan sendiri. Rifampisin tampaknya mengubah metabolisme isoniazid dan meningkatkan jumlah metabolit beracun. Secara teoritis, reaksi yang sama dapat terjadi dengan rifabutin dan isoniazid.
b.        Rifampicin dengan pirazinamide
Status              : major
Nteraksi           : penggunaan rifampicin dengan pirazinamide dapat menyebatkan kerusakan hati yang dapat menyebabkan kematian.
 
c.        Rifampicin dengan glipizide
Status              : moderate
Interaksi          : Rifampisin dapat meningkatkan metabolisme sulfonilurea oral. Efek terapi sulfonilurea dapat menurun, mekanismenya menginduksi isoenzim CYP450 hati.
Between Rifampicin with Isoniazid
Score: 4
POSSIBLE Drug Interaction
Points
Drug Interaction
<2
Doubtful
2 to 4
Possible
5 to 8
Probable
≥ 9
Highly probable

1.          Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi pada  manusia ?
          Rifampisin adalah inducer sangat ampuh enzim ini (Venkatesan 1992, Burman et al, 2001;.. Niemi et al 2003a). kadar plasma dari beberapa obat antidiabetes secara signifikan lebih rendah ketika co-dikelola dengan rifampisin (Tabel 4). Isoniazid merupakan inhibitor (bukan inducer) dari beberapa enzim yang diinduksi oleh rifampisin, terutama CYP2C9 yang relevan dengan metabolisme sulfonilurea. Namun, efek induktif rifampisin umumnya melebihi efek penghambatan isoniazid pada enzim yang sama,
2.          Apakah interaksi obat yang diobservasi ini sesuai dengan literatur dengan mekanisme interaksi dari obat presipitan dan obat Objek?
          Interaksi obat yang di observasi ini sesuai dengan literatur,karena dalam jurnal penelitian dengan judul Implications of the global increase of diabetes for tuberculosis control and patient care tahun 2010 disebutkan bahwa Rifampisin adalah inducer sangat ampuh enzim ini (Venkatesan 1992, Burman et al, 2001;.. Niemi et al 2003a). kadar plasma dari beberapa obat antidiabetes secara signifikan lebih rendah ketika co-dikelola dengan rifampisin (Tabel 4). Isoniazid merupakan inhibitor (bukan inducer) dari beberapa enzim yang diinduksi oleh rifampisin, terutama CYP2C9 yang relevan dengan metabolisme sulfonilurea. Namun, efek induktif rifampisin umumnya melebihi efek penghambatan isoniazid pada enzim yang sama, sehingga efek keseluruhan isoniazid ditambah rifampisin mungkin adalah penurunan konsentrasi obat lain (Venkatesan 1992).
3.          Terdapat penyebab lain dari kejadian interaksi obat antara rifampicin dengan isoniazid diantaranya jenis kelamin, pengguna alkohol, obat-obatan terlarang, ras, usia, genetik, dan lain-lain.
4.          Apakah interaksi lebih besar ketika dosis obat presipitan ditingkatkan atau berkurang ketika dosis obat presipitannya diturunkan? 
          Dalam jurnal dengan judul “Studi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien Tb-Hiv/Aids Di Rsup Sanglah Denpasar Tahun 2009” tidak di tunjukan hanya obat presipitannya saja tetapi kedua obat dihentikan dan diganti dengan streptomisin dan ethambutol selama 12 hari kemudian karena dari tes fungsi hati menunjukkan nilai yang normal, pengobatan ditambah dengan isoniasid dan etambutol.
A.      Interaksi antara Rifampisin dengan Glipizide
1.        Apakah ada laporan yang dapat dipercaya sebelumnya mengenai interaksi ini pada manusia?
Laporan mengenai interaksi Glipizid dengan Rifampisin ada pada jurnal dengan judul “Pengaruh Pemberian Rifampisin Terhadap Efek Hipoglikemik Glipizid Pada Relawan Sehat”
Antituberkulosis sering dipakai bersama antidiabetes pada penderita DM. Salah satu oral antidiabetes (OAD) yang banyak digunakan adalah glipizid, sedangkan salah satu antituberkulosis yang banyak dipakai adalah rifampisin. Rifampisin dikenal sebagai induktor enzim yang dapat meningkatkan efektivitas metabolisme obat lain jika diberikan bersama. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian rifampisin terhadap efek hipoglikemik glipizid pada 12 relawan sehat orang Indonesia, dari kedua jenis kelamin. Penelitian dilakuan secara randomized crossover design, subyek menjalani dua kali uji yaitu sebagai kelompok perlakuan glipizid dosis tunggal 5 mg tanpa praperlakuan rifampisisn dan kelompok dengan praperlakuan rifampisin 1 kali sehari 450 mg selama 7 hari. Sampel serum darah untuk pengukuran kadar glukosa darah dikumpulkan secara serial selama 7 jam sesudah minum glipizid dosis tunggal 5 mg. Kadar glukosa dalam darah dianalisis secara enzimatik mengunakan metode glukosa oksidase (GOD). Hasil penelitian menemukan bahwa praperlakuan rifampisin 1 x 450 mg selama 7 hari tidak mempengaruhi AUC0-7 kadar glukosa darah (p>0,05), namun mempengaruhi efek penurunan kadar glukosa darah pada jam ke 2,5 dan 3 (p<0,05). Pada kelompok dengan praperlakuan terjadi penurunan efek sebesar 51,38% pada jam ke 2,5 dan 20,58% pada jam ke 3. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa praperlakuan rifampisin 1x450 mg selama 7 hari tidak mempengaruhi AUC0-7 kadar glukosa darah akibat pemberian glipizid dosis tunggal 5 mg.
2.        Apakah Interaksi  obat yg diobservasi ini sesuai literatur   tentang mekanisme interaksi obat objek dan presipitan?
Dalam jurnal diatas di sebutkan bahwa Glipizid adalah obat anti diabetes golongan sulfonilurea generasi kedua yang digunakan untuk pengobatan DM tipe 2. Glipizid mempunyai masa aksi yang pendek. Pada pemberian per oral akan diabsorpsi sempurna. Hampir seluruhnya (90%) dimetabolisme di dalam hepar. Sedangkan Rifampisin dikenal sebagai induktor enzim yang dapat meningkatkan efektivitas metabolisme obat lain jika diberikan bersama.  Kombinasi glipizid dan rifampisin kemungkinan digunakan dalam terapi DM dengan tuberkulosis paru. Kombinasi ini kemungkinan dapat menimbulkan terjadinya interaksi yaitu meningkatnya metabolisme glipizid akibat terjadinya pemacuan enzim metabolisme khususnya CYP2C9 karena pemberian rifampisin sehingga dapat menurunkan efek hipoglikemik glipizid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian rifampisin 450 mg selama 7 hari sebelum pemberian glipizid 5 mg, terhadap efek hipoglikemik glipizid.
3.        Apakah interaksi tersebut terjadi pada waktu yang tepat (onset atau offset)?
Pada jam ke-1, efek penurunan kadar glukosa darah pada  kelompok dengan praperlakuan rifampisin lebih kecil 6,83 mg/dl (16,1%) dibandingkan kelompok tanpa praperlakuan rifampisin (35,583 mg/dl vs. 42,413 mg/dl). Setelah pembebanan glukosa 75 gram, kadar glukosa darah pada kedua kelompok meningkat hampir setara. Efek penurunan kadar glukosa darah setelah pembebanan glukosa tampak lebih kecil pada kelompok dengan praperlakuan rifampisin dibandingkan dengan kelompok tanpa praperlakuan. Pada jam ke-2,5 efek penurunan kadar glukosa darah pada kelompok dengan praperlakuan rifampisin lebih kecil 14,6 mg/dl (48,6%; p<0,05)) dibandingkan dengan kelompok tanpa  praperlakuan rifampisin (15,41 mg/dl vs. 29,99  mg/dl).
4.        Apakah interaksi lebih besar ketika dosis lebih besar ketika dosis obat presipitannya diturunkan?Induksi menghilang di sekitar 2 minggu setelah menghentikan rifampisin (Niemi et al. 2003a).
B.       Interaksi antara Rifampisin dan Pirazinamide



1.        apakah ada laporan yg dapat dipercaya mengenai interaksi ini?
2.        Laporan lain dari terapi pencegahan dengan rifampisin-pirazinamid dilaporkan hepatotoksisitas berat di 9,4% dari 148 pasien, dengan 2 pasien yang membutuhkan perawatan di rumah ada korban jiwa terjadi sakit, namun tidak.
3.        Apakah interaksi yang diobservasi sesuai literatur tentang mekanisme interaksi obat objek dan presipitan ?
4.        Apakah interaksi tersebut terjadi pada waktu yang tepat ?
Pirazinamid terkait hepatotoksisitas cenderung terjadi selama bulan kedua pengobatan, sedangkan hepatotoksisitas isoniazid terkait terjadi terutama selama bulan pertama terapi.
Hal ini sesuai dengan laporan hepatotoksisitas berat terkait dengan penggunaan rifampisin-pirazinamid yang terjadi terutama selama bulan kedua pengobatan, termasuk semua 5 kematian akibat hepatotoksisitas selama bulan kedua pengobatan.
5.        Apakah terjadi penurunan efek interaksi ketika obat presipitan dihentika tetapi tidak ada perubahan pada obat objek?
“Kami menghentikan terapi rifampisin-pirazinamid sebelum semua ini terjadi, namun kondisi pasien kami berkembang ke gagal hati.”
toksisitas ringan terjadi pada 18,3% pasien : Terapi rifampisin-pirazinamid dilanjutkan, dan tingkat enzim hati yang diperiksa ulang 2 minggu kemudian. Laporan itu tidak menunjukkan apa proporsi tersebut toksisitas ringan berkembang ke hepatotoksisitas berat.
6.        Adakah penyebab lain dari kejadian interaksi obat tersebut?
Analisis multivariat menemukan bahwa Hepatotoksisitas dikaitkan dengan jenis kelamin perempuan dan infeksi baru diduga, tapi itu tidak terkait dengan penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang, usia, ras, atau dosis pirazinamide.
KESIMPULAN Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Obat Anti Tuberkulosis bersifat hepatotoksik seperti Pirazimmid, Isoniasid, dan Rifampisin yang merupakan komponen utama dari OAT kategori 1 fase intensif. Tetapi interaksi ini tidak terjadi pada semua pasien yang menggunakan kombinasi ini. Interaksi ini dapat dipengaruhi salah satunya yaitu jenis kelamin dan infeksi baru diduga, tapi itu tidak terkait dengan penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang, usia, ras, atau dosis pirazinamide. Praperlakuan rifampisin 1 kali sehari 450 mg selama 7 hari sebelum pemberian glipizid dosis tunggal 5 mg tidak mengakibatkan perubahan efektivitas glipizid dosis tunggal 5 mg. Hasil ini dilihat dari nilai AUC kadar glukosa darah rata-rata selama 7 jam antara kelompok tanpa dan dengan praperlakuan rifampisin yang tidak berbeda bermakna secara statistik (p>0,05). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Niemi et al. (2001) bahwa rifampisin mempercepat kinetika eliminasi glipizid tetapi tidak mempengaruhi AUC kadar glukosa darahnya. Mekanisme interaksi dari rifampisin dengan pirazinamid tidak diketahui akan tetapi interaksi ini dapat menyebabkan penurunan kadar serum dari rifampisin sehingga dapat mengurangi efek dari rifampisin.
 KELOMPOK 10
Metformin dengan Simvastatin
1.        Yes
Hasil analisa kuantitatif yang diperoleh dari penggunaan obat antidiabetes dan obat antihiperlipidemia yang menimbulkan interaksi obat pada 18 (orang) pasien penderita Diabetes Melitus tipe 2 dengan komplikasi Hiperlipidemia pada rawat inap di bangsal Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi.
Interaksi obat merupakan bagian dari Drug Related Problems (DRPs) yang secara nyata maupun potensial berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi penggunaan obat pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 dengan komplikasi hiperlipidemia di bangsal penyakit dalam RSUD Raden Mattaher jambi. Penelitian ini merupakan non eksperimental dengan menggunakan rancangan penelitian secara deskriptif yang dikerjakan secara retrospektif dan prosfektif. Data diambil langsung dari catatan rekam medik pasien Diabetes Mellitus 2 dengan komplikasi hiperlipidemia yang di rawat di Bangsal penyakit di RSUD Raden Mattaher Jambi. Hasil penelitian ini dari 18 orang pasien Diabetes Mellitus tipe 2 dengan komplikasi hiperlipidemia di bangsal penyakit dalam RSUD Raden Mattaher Jambi, interaksi obat terjadi pada 9 pasien dengan persentase sebesar 50% yang merupakan interaksi sinergis (interaksi yang diharapkan), seperti interaksi obat antara simvastatin dengan metformin sebesar 27,78% dan tidak ditemukan terjadinya interaksi yang diharapkan.
2.        Yes Metformin menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida pada pasien Hiperlipidemia
Points
Drug Interaction
<2
Doubtful
2 to 4
Possible
5 to 8
Probable
≥ 9
Highly probable
3.        Yes Metformin menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida pada pasien Hiperlipidemia

Score: 2
POSSIBLE Drug Interaction
Bottom of Form

Dari hasil analisis yang telah dilakukan antara obat Metformin dengan Simvastatin menunjukan score 2 yang berarti interaksi obat ini possible.
KESIMPULAN Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama. Dari hasil analisis yang telah dilakukan antara obat Metformin dengan Simvastatin menunjukan score 2 yang berarti interaksi obat ini possible.http://updatemateri31.blogspot.com