LAPORAN
PRAKTIKUM SEMI SOLID
“KRIM
”
DISUSUN OLEH :
Farmasi
B

PROGRAM STUDI
FARMASI 2B
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi,
perkembangan di dunia farmasi pun tak ketinggalan. Semakin hari semakin banyak
jenis dan ragam penyakit yang muncul. Perkembangan pengobatan pun terus di
kembangkan. Berbagai macam bentuk sediaan obat, baik itu liquid, solid dan semisolid
telah dikembangkan oleh ahli farmasi dan industri.
Ahli farmasi mengembangkan obat untuk pemenuhan kebutuhan
masyarakat, yang bertujuan untuk memberikan efek terapi obat, dosis yang sesuai
untuk di konsumsi oleh masyarakat. Selain itu, sediaan semisolid digunakan
untuk pemakaian luar seperti krim, salep, gel, pasta dan suppositoria yang
digunakan melalui rektum. Kelebihan dari sediaan semisolid ini yaitu praktis,
mudah dibawa, mudah dipakai, mudah pada pengabsorbsiannya. Juga untuk
memberikan perlindungan pengobatan terhadap kulit.
Berbagai macam bentuk sediaan semisolid memiliki kekurangan, salah
satu diantaranya yaitu mudah di tumbuhi mikroba. Untuk meminimalisir kekurangan
tersebut, para ahli farmasis harus bisa memformulasikan dan memproduksi sediaan
secara tepat. Dengan demikian, farmasis harus mengetahui langkah-langkah yang
tepat untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Dengan cara
melakukan, menentukan formulasi dengan benar dan memperhatikan konsentrasi
serta karakteristik bahan yang digunakan dan dikombinasikan dengan baik dan
benar.
Krim
ini dibuat dengan kombinasi dari metil salisilat dan asam salisilat. Metil salisilat
adalah obat untuk membantu mengatasi rasa sakit dan nyeri ringan pada otot atau
persendian. Sedangkan asam salisilat digunakan untuk mengobati gangguan kulit
seperti psoriasis, jerawat, ketombe, dermatitis, seboroik pada kulit dan kulit
kepala, kapalan, dan kutil plantar.
Sediaan
krim sebelum digunakan harus dilakukan
pengujian untuk menentukan stabilitas dan kualitas krim sehingga menjamin hasil
akhir yang berkhasiat dan menghasilkan efek terapi pada setiap penggunaan.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana proses
pembuatan sediaan krim dan parameter uji untuk evaluasi sediaan?
1.3
Tujuan Praktikum
Adapun
tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah untuk mengetahui proses pembuatan
sediaan krim dan mengetahui parameter uji untuk evaluasi sediaan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Definisi Krim
·
Farmakope Indonesia Edisi IV, krim adalah bentuk
sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau
terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
·
Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah
padat, berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan
dimaksudkan untuk pemakaian luar.
·
Secara Tradisional istilah krim digunakan untuk
sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair di formulasi
sebagai emulsi air dalam minyak(a/m) atau minyak dalam air (m/a) (Budiasih,
2008).
Menurut
Farmakope Indonesia Edisi III, krim adalah bentuk sediaan setengah padat,
berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk
pemakaian luar. Farmakope Indonesia Edisi IV, krim adalah bentuk sediaan setengah
padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam
bahan dasar yang sesuai. Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah
padat, berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan
dimaksudkan untuk pemakaian luar. Secara Tradisional istilah krim
digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair
di formulasi sebagai emulsi air dalam minyak (a/m) atau minyak dalam air (m/a)
Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke bagian
kulit badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui mulut,
kerongkongan, dan ke arah lambung. Menurut definisi tersebut yang termasuk obat
luar adalah obat luka, obat kulit, obat hidung, obat mata, obat tetes telinga,
obat wasir, injeksi, dan lainnya (Rowe, 2009).
Kualitas dasar krim, yaitu stabil, selama masih
dipakai mengobati. Maka krim harus bebas dari inkopatibilitas, stabil pada suhu
kamar, dan kelembaban yang ada dalam kamar. Lunak,
yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak dan
homogen. Mudah dipakai, umumnya krim tipe emulsi adalah yang paling mudah
dipakai dan dihilangkan dari kulit. Terdistribusi
merata, obat harus terdispersi merata melalui dasar krim padat atau cair pada
penggunaan (Anief, 1994).
2.2 Penggolongan Krim
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau
dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air
yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakaian kosmetika dan
estetika. Ada dua tipe krim, yaitu (Anief, 1994):
· Tipe a/m, yaitu air terdispersi
dalam minyak
Contoh
: cold cream
Cold
cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan rasa
dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih, berwarna putih dan bebas
dari butiran. Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah besar.
· Tipe m/a, yaitu minyak terdispersi
dalam air
Contoh: vanishing cream
Vanishing
cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud membersihkan,
melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing cream sebagai pelembab
(moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film pada kulit.
Kelebihan sediaan krim, yaitu mudah menyebar
rata, praktis, mudah dibersihkan atau dicuci, cara
kerja berlangsung pada jaringan setempat, tidak
lengket terutama tipe m/a, memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m, digunakan sebagai kosmetik, bahan
untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun. Sedangkan
kekurangan sediaan krim, yaitu susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus
dalam keadaan panas. Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu
sistem campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi
disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan (Sumardjo, Damin, 2006)
Formula dasar krim, antara lain terdiri dari
fase minyak dan fase air. Fase minyak, yaitu bahan obat yang larut dalam
minyak, bersifat asam.
Contoh : asam stearat, adepslanae, paraffin liquidum, paraffin solidum, minyak lemak, cera, cetaceum, vaselin, setil alkohol, stearil alkohol, dan sebagainya. Sedangkan fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa.
Contoh : Na tetraborat (borax, Na biboras), Trietanolamin/ TEA, NaOH, KOH, Na2CO3, Gliserin, Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol, Surfaktan (Na lauril sulfat, Na setostearil alkohol, polisorbatum/ Tween, Span dan sebagainya). Bahan-bahan penyusun krim, antara lain, zat berkhasiat, fase minyak, fase air, pengemulsi, bahan pengemulsi. Bahan pengemulsi yang digunakan dalam sediaan krim disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang akan dibuat /dikehendaki. Sebagai bahan pengemulsi dapat digunakan emulgide, lemak bulu domba, setaseum, setil alkohol, stearil alkohol, trietanolamin stearat, polisorbat, PEG. Sedangkan, bahan-bahan tambahan dalam sediaan krim, antara lain: Zat pengawet, untuk meningkatkan stabilitas sediaan. Bahan pengawet sering digunakan umumnya metil paraben (nipagin) 0,12-0,18%, propil paraben (nipasol) 0,02-0,05%. Pendapar, untuk mempertahankan pH sediaan Pelembab. Antioksidan, untuk mencegah ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tak jenuh (Sumardjo, Damin, 2006).
Contoh : asam stearat, adepslanae, paraffin liquidum, paraffin solidum, minyak lemak, cera, cetaceum, vaselin, setil alkohol, stearil alkohol, dan sebagainya. Sedangkan fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa.
Contoh : Na tetraborat (borax, Na biboras), Trietanolamin/ TEA, NaOH, KOH, Na2CO3, Gliserin, Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol, Surfaktan (Na lauril sulfat, Na setostearil alkohol, polisorbatum/ Tween, Span dan sebagainya). Bahan-bahan penyusun krim, antara lain, zat berkhasiat, fase minyak, fase air, pengemulsi, bahan pengemulsi. Bahan pengemulsi yang digunakan dalam sediaan krim disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang akan dibuat /dikehendaki. Sebagai bahan pengemulsi dapat digunakan emulgide, lemak bulu domba, setaseum, setil alkohol, stearil alkohol, trietanolamin stearat, polisorbat, PEG. Sedangkan, bahan-bahan tambahan dalam sediaan krim, antara lain: Zat pengawet, untuk meningkatkan stabilitas sediaan. Bahan pengawet sering digunakan umumnya metil paraben (nipagin) 0,12-0,18%, propil paraben (nipasol) 0,02-0,05%. Pendapar, untuk mempertahankan pH sediaan Pelembab. Antioksidan, untuk mencegah ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tak jenuh (Sumardjo, Damin, 2006).
Pembuatan
sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi. Biasanya komponen
yang tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin dicairkan bersama-sama
di penangas air pada suhu 70-75°C, sementara itu semua larutan berair yang
tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama
dengan komponen lemak. Kemudian larutan berair secara perlahan-lahan
ditambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk secara konstan,
temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah kristalisasi dari
lilin/lemak. Selanjutnya campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan
yang terus-menerus sampai campuran mengental. Bila larutan berair tidak sama
temperaturnya dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi padat,
sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan fase cair (Rowe, 2009).
Agar sistem pengawasan mutu dapat berfungsi
dengan efektif, harus dibuatkan kebijaksanaan dan peraturan yang mendasari dan
ini harus selalu ditaati. Pertama, tujuan pemeriksaan semata-mata adalah demi
mutu obat yang baik. Kedua, setiap pelaksanaan harus berpegang teguh pada
standar atau spesifikasi dan harus berupaya meningkatkan standard an
spesifikasi yang telah ada. Evaluasi Organoleptis, evalusai
organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau, warna, tekstur sedian,
konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek responden (dengan kriteria tertentu)
dengan menetapkan kriterianya pengujianya (macam dan item), menghitung
prosentase masing- masing kriteria yang di peroleh, pengambilan keputusan
dengan analisa statistik. Evaluasi pH, evaluasi pH menggunakan alat pH meter, dengan cara perbandingan 60 g
: 200 ml air yang di gunakan untuk mengencerkan , kemudian aduk hingga homogen,
dan diamkan agar mengendap, dan airnya yang di ukur dengan pH meter, catat
hasil yang tertera pada alat pH meter. Evaluasi
daya sebar, dengan cara sejumlah zat tertentu di letakkan di atas kaca yang
berskala. Kemudian bagian atasnya diberi kaca yang sama, dan di tingkatkan
bebanya, dan di beri rentang waktu 1 – 2 menit. Kemudian diameter penyebaran
diukur pada setiap penambahan beban, saat sediaan berhenti menyebar ( dengan
waktu tertentu secara teratur ). Evaluasi
penentuan ukuran droplet, untuk menentukan ukuran droplet suatu sediaan krim ataupun sediaan
emulgel, dengan cara menggunakan mikroskop sediaan diletakkan pada objek glass,
kemudian diperiksa adanya tetesan – tetesan fase dalam ukuran dan
penyebarannya. Uji aseptabilitas sediaan, dilakukan pada kulit, dengan berbagai
orang yang di kasih suatu quisioner di buat suatu kriteria , kemudahan
dioleskan, kelembutan, sensasi yang di timbulkan, kemudahan pencucian. Kemudian
dari data tersebut di buat skoring untuk masing- masing kriteria. Misal untuk
kelembutan agak lembut, lembut, sangat lembut (Ansel,1989).
Pembuatan
sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi. Biasanya komponen
yang tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin dicairkan bersama-sama
di penangas air pada suhu 70-75°C, sementara itu semua larutan berair yang
tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama
dengan komponen lemak. Kemudian larutan berair secara perlahan-lahan
ditambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk secara konstan,
temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah kristalisasi dari
lilin/lemak. Selanjutnya campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan
yang terus-menerus sampai campuran mengental. Bila larutan berair tidak sama
temperaturnya dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi padat,
sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan fase cair (Munson, 1991).
2.2 Deskriptif
Bahan Aktif dan Eksipien
1)
Metil Salisilat
(Farmakope Indonesia IV)
Pemerian :
Cairan tidak berwarna, kekuningan atau kemerahan, berbau khas dan rasa seperti
gandapura. Mendidih antara 219°C dan 224
°C disertai peruraian.
Nama Lain :
Methylis Salicylas
Nama Kimia :
Benzoic acid, 2-hidroxy-methyl ester
Rumus Molekul :
C8H8O3
Berat Molekul :
152,15
Kelarutan :
Sukar larut dalam air, larut dalam etanol, dan salam asetat glacial
Titik Didih :
219°C - 224 °C
Wadah dan Penyimpanan : Dalam
wadah tertutup rapat
pH :
Stabilitas :
Stabil pada temperature ruang dengan wadah tertutup rapat
Inkompatibilitas :
Inkompatibel dengan agen oksidasi kuat, asam kuat, basa kuat, logam alkali,
nitrat
Sifat
Khusus : -
Koefisien
Partisi : -
2)
Menthol
(Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6, halaman 433)
Pemerian :
Hablur heksagonal atau serbuk hablur, tidak berwarna, biasanya berbentuk jarum,
atau massa yang melebur, mempunyai bau yang enak seperti minyak permen
Nama Lain :
Mentholum
Struktur Kimia :

Nama Kimia :
5-metil-2-(1-metil etil)-sikloheksanal
Rumus Molekul :
C10H20O
Berat
Molekul : 152,67
Kelarutan :
Sukar larut dalam air, sangat mudah larut dalam atnol, dalam kloloform, dalam
eter dan dalam heksana, mudah larut dalam asam asetat
pH :
Titik Leleh :
41°C- 44°C
Wadah
dan Penyimpanan : Dalam wadah
tertutup rapat, pada suhu tidak lebih dari 25°C
Stabilitas : Stabil dalam suhu
ruang dapat disimpan selama 18 bulan
Inkompatibilitas :
Inkompatibel dengan butyl-kloralhidrat, kloralhidrat, kromium trioksida, beta
naftol, fenol, potassium permanganate, champore
Sifat Khusus :
Apabila dicampur dengan kamfer atau kloralhidrat atau fenol sama berat maka
campuran akan mencair
Koefisien
Partisi : -
3)
Cetyl Alkohol
Pemerian :
Berupa serpihan putih atau granul seperti lilin, berminyak memiliki bau khas
dan rasa khas
Nama Lain :
Cachalot, arol, ethal
Struktur Kimia :

Nama Kimia :
hexaderan-lol
Rumus Molekul :
O
Berat Molekul :
242,44
Kelarutan :
Mudah larut
dalam etanol 95 % dan eter, kelarutan meningkat dengan peningkatan suhu, tidak
larut dalam air
pH :
Titik Didih :
165
Titik Leleh :
45-52 
Wadah dan Penyimpanan :
Disimpan dalam
wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk serta kering
Stabilitas : Setil akohol stabil pada keadaan asam, basa,
light dan udara
Inkompatibilitas :
Inkompatibel
dengan agent pengoksidasi
Sifat Khusus :
-
Koefisien Partisi :
-
4)
Gliserin (HOPE
halaman 283, FI IV halaman 213)
Pemerian : Cairan jernih, tidak
berbau, tidak berasa, cairan higroskopis, mempunyai rasa manis, netral terhadap
lakmus
Nama Lain :
Croderol, glycerol, glycerine, glycerolum, 1,2,2-propanetriol,
trihydroxypropane glycerol
Struktur Kimia :

Nama Kimia :
1,2,3-propanetriol
Rumus Molekul :C3H8O3
Berat Molekul :
92,09
Kelarutan :
Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidak larut dalam kloroform,
dalam eter, dalam minyak lemah dan dalam minyak menguap
pH :
Titik Leleh :
17,8 °C
Titik Didih :
290 °C
Wadah dan Penyimpanan: Dalam wadah tertutup rapat
Stabilitas
: Gliserin bersifat higroskopis, dapat rusak oleh pemanasan. Stabil sebagai
campuran dala air, dalam methanol 95%, dan propilen glikol
Inkompatibilitas :
Dapat meledak saat bereaksi dengan agen pengoksidasi. Gliserin membentuk
kompleks asam borat.
Sifat Khusus :
-
Koefisien Partisi :
-
5)
Nipagin
(Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6 Hal 442, FI IV Hal 551)
Pemerian
: Hablur kecil, tidak berwana, atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau
berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar
Nama Lain :
Metilparaben, Metagin, Metil paraept, aseptoform, metyl cemosept
Struktur Kimia :

Nama Kimia :
Methyl-4-hydrobenzoate
Rumus Molekul : C8H8O3
Berat Molekul :
152,15
Kelarutan :
Sukar larut dalam air, dalam benzena, dan dalam karbon tetraklorida, mudah
larut dalam etanol dan eter
pH larutan :
-
Titik Lebur :
125◦C - 128◦C
Wadah dan Penyimpanan: Dalam wadah tertutup rapat
Inkompatibilitas :
Inkompatibel dengan bentonit, magnesium trisilikat, talk, tragacant, sodium
alginate, minyak esensial, sorbitol, dan atropine.
Stabilitas :
Pada ph 3-6 larutan nipagin cair dapat disterilkan dengan autoklaf pada suhu
120◦C selama 20 menit. Stabil pada pH 3-6 pada suhu ruangan.
Sifat Khusus :
-
Koefisien
Partisi : -
6)
Nipasol
(Handbook of Phmarmaceutical Excipient Hal 596, FI IV Hal 713)
Pemerian :
Serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna
Nama Lain :
Propyl Paraben, Propagin, Propyl Cemosept, Propyl Parasept, Solbrol P, Tegosept
Struktur
Kimia :

Nama
Kimia :
Propyl-4-hydroxibenzoate
Rumus
Molekul : C10H12O3
Berat
Molekul : 180,20
Kelarutan :
Sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dan dalam eter, sukar
larut dalam air mendidih
pH larutan : :-
Titik Lebur :
95◦C - 98◦C
Wadah dan Penyimpanan: Dalam wadah tertutup rapat
Stabilitas :
Larutan nipasol cair pada pH 3-6 dapat disterilkan dengan autoklaf, tanpa
dekomposisi. Pada pH 3-6, larutan nipasol cair stabil sampai ste lebuh sekitar
4 tahun pada suhu ruangan. Apabila pada pH 8 atau di atasnya maka akan cepat
terhidrolisis (10% atau lebih setelah 60 hari
pada suhu ruangan)
Inkompatibilitas :
Inkompatibel dengan mgnesium aluminium silikat, magnesium trisilikat, besi
kuning oksida
Sifat Khusus :
-
Koefisien Partisi :
-
7)
Aquadest
Pemerian :
Cairan jernih, tidak berbau, tidak berasa
Nama Lain :
Aqua, aqua purificata
Struktur Kimia :
Nama Kimia :
Dihidrogen oksida
Rumus Molekul :
H2O
Berat Molekul :
16,02
Kelarutan :
-
pH :
7
Titik Didih :
100◦C
Wadah dan Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Stabilitas :
-
Inkompatibilitas : -
Sifat Khusus :
-
Koefisien Partisi :
-
8) Cremophor
BAB III
METODOLOGI
3.1
Waktu Pelaksanaan
Praktikum Pembuatan Formulasi Sediaan Semi Solid yaitu Krim Metil
Salisilat dilaksanakan pada tanggal 02 Juni 2016 jam 09:00 sampai selesai di
Laboratorium Kimia Farmasi di Jurusan Farmasi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
3.2
Alat dan Bahan
3.2.1
Alat yang digunakan
1.
Stemper 1 buah
2.
Mortar 1 buah
3.
Beaker glass 50 mL 6 buah
4.
Beaker glass 100 mL 2 buah
5.
Batang Pengaduk 3 buah
6.
Spatula 2 buah
7.
Bunsen 1 buah
8.
Kaki Tiga 1 buah
9.
Pipet Ukur 1 buah
10. Gelas Ukur 10 mL 1
buah
11.
Wadah sediaan 1
buah
3.2.2
Bahan
1) Aquades
2) Bahan Aktif : Metil Salisilat dan Menthol
3) Bahan Tambahan : Cremophor, etilstearil alkohol, gliserin, nipagin dan
nipasol
3.3 Formulasi Sediaan Krim
Metil Salisilat
|
Nama
Bahan
|
Rentangan
Kadar (HPE, 2009)
|
Kadar
Formulasi
|
Bobot 1 tube
|
Fungsi
|
|
Metil
Salisilat
|
-
|
10%
|
1,1 gram
|
Bahan aktif
|
|
Menthol
|
0,5% – 10%
|
4 %
|
0,44 gram
|
Bahan aktif
dan corigen odoris
|
|
Cremophor
|
-
|
3%
|
0,33 gram
|
Emulgator,
solubilizing agent
|
|
Cetylstearil alkohol
|
-
|
1%
|
0,11 gram
|
Stiffening
Agent
|
|
Gliserin
|
5%
- 15%
|
15%
|
0.0198 gram
|
Emollient
|
|
Nipagin
|
0,12%
- 0,18%
|
0,18%
|
0,0022 gram
|
Pengawet
|
|
Nipasol
|
0,02%
- 0,05%
|
0,02%
|
1,65 gram
|
Pengawet
|
|
Aquades
|
-
|
Ad
100%
|
7,5702
ml
|
Fase Air
|
|
a. Metil
salisilat à
10%
100
b. Menthol
à 4
%
100
c. Cremophor
à 3
%
100
d. Gliserin
à 10
%
100
e. Cetylstearil alkohol à 1%
100
|
f. Nipagin
à
0.18 %
100
g. Nipasol à 0,02 %
0,02 x 11 gram = 0,0022 gram
100
h. Air
bebas ad 100 %
=100 % - ( 10%
+ 4% + 3% + 15 % + 0.18 %)
=100 % - 32,18
%
= 68,82 %
= 68,82 % x 11
ml
= 7,5702 ml
|
3.4 Skema Kerja








































BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Alasan Pemilihan Bahan
Salah satu bentuk sediaan
transdermal adalah krim. Krim merupakan cairan kental atau emulsi setengah
padat, baik tipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim biasanya dipakai
sebagai emulien atau pemakaian obat pada kulit. Istilah krim secara luas
digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik, dan banyak produk dalam
perdagangan lainnya.
Ada 2 tipe
cream, yaitu cream tipe minyak air ( M/A ) dan cream tipe air minyak (
A/M ). Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat cream
yang dikehendaki. Untuk ceam tipe a/m digunakan sabun polivalen, span, adeps
lanae, dan cera. Sedangkan cream tipe m/a digunakan sabun monovalen seperti
trietanolamin, natrium stearat, kalium stearat, dan ammonium stearat. Pembuatan krim
dalam praktikum ini menggunakan tipe Minyak dalam Air yang mempunyai kelebihan
yaitu lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air dan tidak lengket.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum semi
solid ini adalah:
1)
Bahan
aktif
Metil salisilat merupakan hablur ringan, tidak
berwarna atau serbuk berwarna putih, dan hampir tidak berbau, rasa agak manis
dan tajam dan mempunyai kelarutan yaitu larut dalam 550 bagian air dan dalam 4
bagian etanol 95 % P, kemudian larut dalam klorofom P dan dalam eter P. larut
dalam larutan amonium asetat P, dinatrium dihidrogen phospat P, kalium sitrat P
dan natrium sitrat P dan mempunyai titik lebur 158,5 – 161 oC.
Metil
salisilat merupakan bahan aktif dalam krim ini. Memiliki mekanisme memberikan
efek analgesic sehingga dapat menyembuhkan kekakuan dan nyeri otot. Merupakan
golongan analgesic dan antiinflamasi topical. Cara pemberiannya, dioleskan pada
daerah yang sakit 3 – 4 kali sehari sambil diurut lemah sehingga terserap ke
dalam kulit. Pada proses pembuatan krim ini, metal salisilat sebanyak 10%
ditambahkan terakhir pada basis krim, karena metil salisilat bersifat mudah
menguap. Krim ini dibuat dengan formulasi vanishing krim. Vanishing krim
umumnya emulsi minyak dalam air, mengandung air dalam persentase yang besar dan
asam stearat. Setelah pemakaian krim, air menguap meninggalkan sisa berupa
selaput asam stearat yang tipis. Banyak dokter dan pasien lebih menyukai krim
dibandingkan dengan salep, untuk satu hal, umumnya mudah
menyebar rata dan dalam hal krim dari emulsi jenis minyak dalam air
lebih mudah dibersihkan daripada kebanyakan salep.
2)
Bahan Tambahan
a.
Chremophor
Emulsifier non ionik diproduksi dengan mereaksikan alkohol lemak
jenuh yang lebih tinggi dengan etilen oksida . Cremophor A 6 juga mengandung
stearil alkohol bebas. Cremophor digunakan sebagai antigumpal. Antigumpal
digunakan agar pada hidrogel tidak terjadi penggumpalan-penggumpalan yang
menyebabkan fisik dari sediaan hidrogel jelek. selain digunakan sebagai
antigumpal, cremophor juga berfungsi sebagai peningkat penetrasi dan pembasah.
Cremophor larut dalam pelarut etanol, sehingga digunakan etanol sebagai
pelarut. Etanol digunakan sebagai pelarut karena selain etanol dapat melarutkan
cremophor, etanol dapat larut dalam aquades, sehingga dapat dibentuk gel yang
homogen.
b.
Nipagin dan Nipasol
Nipagin berfungsi sebagai antifungi. Nipagin
merupakan senyawa fenolik, stabil di udara, sensitif terhadap pemaparan cahaya,
tahan terhadap panas dan dingin termasuk uap sterilisasi, stabilitas menurun
dengan meningkatnya pH yang menyebabkan hidrolisis. Mekanisme kerja senyawa
fenolik adalah dengan menghilangkan peremeabelitas membran sehingga isi
sitoplasma keluar dan menghambat sistem transport elektrolit yang lebih efektif
untuyk bakteri gram positif.
Nipagin
dan nipasol mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai pengawet pada sediaan.
Dalam formulasi ini kelompok kami menggunakan kombinasi kedua bahan ini karena
dapat berfungsi sebagai antioksidan dalam sediaan. Rentang masing-masing bahan
yaitu nipagin digunakan rentang maksimal yaitu 0,18% sedangkan nipasol digunakan
kadar sebesar 0,02%. Kombinasi keduanya sebagai antioksidan dapat menghindari
sediaan dari mikroba yang dapat menyebabkan sediaan menjadi mudah berbau
tengik.
c. Gliserin
Pada
formulasi ini kami menggunakan Gliserin sebesar
10% dari rentangan 5% - 15% digunakan sebagai emollient, yang juga sebagai
humektan, yang sering ditambahkan pada vanishing cream untuk menimbulkan
sensasi melembutkan kulit.
Gliserin bersifat higroskopis. Gliserin murni tidak
mudah dioksidasi oleh udara selama disimpan di tempat yang terlindung, tapi
mudah terurai dengan pemanasan dengan perkembangan dari racun akrolein. Campuran dari gliserin dengan air, etanol 95% dan propilenglikol
stabil secara kimia
d.
Menthol
Menthol
merupakan bahan aktif pula yang sekaligus sebagai corigen dalam krim ini.
Menthol sebanyak 4% dilarutkan terlebih dahulu dalam etanol 96% secukupnya,
yang kemudian dimasukkan ke dalam basis krim yang dilelehkan pada suhu 700C.
e. CetylStearil alkohol
Dalam formulasi
ini sebanyak
1 % digunakan dalam kosmetik, krim topikal
dan salep farmasi sebagai agen peningkat viskositas. Dengan meningkatkan
viskositas emulsi, stearil alkohol meningkatkan stabilitas. Stearil alkohol
juga memiliki beberapa sifat pengemulsi emolien dan lemah. Ini juga telah
diteliti untuk digunakan sebagai penambah penetrasi transdermal.
f.
Aquadest
Berfungsi sebagai medium pendispers
4.2 Metode
pembuatan Sediaan Krim yang Digunakan
1.
Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi
2.
komponen tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin
dicairkan bersama-sama di penangas air pada suhu 70-75 °C
a. semua larutan berair
yang tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama
dengan komponen lemak
b. larutan berair secara
perlahan-lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk secara
konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah kristalisasi
dari lilin/lemak
c. campuran perlahan-lahan
didinginkan dengan pengadukan yang terus-menerus sampai campuran mengental
d. Bila larutan berair
tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan
menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan fase cair (Munson, 1991).
Pada proses pembuatan krim ini,
metil salisilat sebanyak 10% ditambahkan terakhir pada basis krim. Pada formulasi
sediaan krim ini menggunakan basis vanishing krim, yaitu umumnya merupakan
emulsi lemak dalam air, mengandung air dalam penetrasi yang besar dalam Cremophor. Setelah
pemakaian krim, air akan menguap meninggalkan sisa berupa selaput asam stearat
yang tipis. Banyak dokter dan pasien lebih
menyukai krim daripada salep karena, krim jenis ini mudah dibersihkan.
Formulasi untuk vanishing krim dengan tipe minyak dalam air ini adalah cremophor, stearyl
alkohol, Menthol dan metil salisilat untuk fase minyaknya. Dan untuk
fase air, terdiri dari gliserin, metyl paraben, propyl paraben, dan air bebas
CO2.
Proses pembuatan krim yang pertama yaitu
ditimbang masing-masing bahan sesuai dengan perhitungan bahan yang telah
dilakukan. Penimbangan pertama dilakukan untuk fase minyak dan penimbangan
kedua untuk fase air. Fase minyak dalam sediaan ini yaitu meliputi cremophor,
nipasol, menthol dan metil salisilat. Sedangkan fase air yang digunakan yaitu
gliseril, cetylstearil alkohol, nipagin dan aquades. Setelah dilakukan
penimbangan semua bahan maka dilakukan pencampuran I untuk fase minyak
dicampurkan dalam beaker glass dan diaduk sampai homogen. Pencampuran II untuk
fase air dengan perlakuan sama seperti fase air, semua bahan dicampurkan lalu
dihomogenkan. Setelah itu dilakukan pemanasan tiap fase dengan suhu ± 700
C. Dalam praktikum yang dilakukan bunsen yang digunakan dalam praktikum hanya
ada satu buah maka dari itu harus bergantian memanaskan tiap fase. Hal ini
tidak sesuai dengan literatur yang menganjurkan bahwa tiap fase harus dalam
suhu yang sama atau hampir sama. Pemanasan I dilakukan untuk memanaskan fase
minyak dan pemanasan II dilakukan untuk memanaskan fase air dalam sediaan krim.
Setelah itu fase minyak dan fase air dicampurkan, berdasarkan prosedur kerja
krim seharusnya fase minyak dicampurkan perlahan-lahan dalam fase air agar
sediaan yang dibuat tidak pecah dan tidak berpisah antara kedua fase. Namun,
dalam praktikum ini prosedur yang dilakukan tidak sesuai dengan prosedur kerja
yang seharusnya. Setelah dilakukan pencampuran maka sediaan dimasukkan dalam
wadah sediaan (tube seberat 10 gram). Cara pembuatan tersebut berdasarkan
praktikum yang telah dilaksanakan.
Sedangkan skema kerja berdasarkan literatur
yang diperoleh yaitu Cara pembuatan dari sediaan krim
ini adalah, dengan menggabungkan masing-masing bahan ke dalam fasenya
masing-masing, yaitu fase air dan fase minyak. Kemudian dipanaskan dengan
menggunakan hotplate dengan suhu 700C. Setelah semua bahan tercampur
merata pada masing-masing fase, dicampurkan fase minyak ke dalam fase air
dengan menggunakan stirrer dengan kekuatan 400 rpm selama 10 menit dan tetap
dijaga pada suhu 700C. setelah tercampur merata, sediaan krim
tersebut dipindahkan ke dalam mortir untuk diaduk sehingga membentuk masa
semisolid. Dari perbandingan cara kerja yang dilaksanakan dalam
praktikum dan cara kerja berdasarkan literatur maka diperoleh perbedaan yang
signifikan yaitu cara pengadukan. Berdasarkan literatur dilaksanakan dengan
menggunakan hotplate yang didalamnya dimasukkan stirer dengan kecepatan 400 rpm
sedangkan dalam praktikum ini hanya menggunakan pengadukan biasa.
Masalah yang muncul dalam formulasi yang kami
buat yaitu terjadi kesalahan pada pencampuran yang dilakukan yaitu suhu antara
fase minyak dan fase air sangat berbeda. Suhu pada fase minyak sekitar 700
C sedangkan fase air dalam suhu jauh lebih rendah. Disebabkan adanya perbedaan
suhu yang signifikan maka sediaan yang dibuat tidak berhasil. Bentuk sediaan
yang didapat yaitu terlalu cair, karena sebab lainnya yaitu terlalu banyaknya
fase air yang terkandung dalam sediaan. Dapat disimpulkan dalam formulasi
sedian krim Metil Salisilat ini gagal. Kemudiana
dikemas dan dilakukan evaluasi.
4.3 Uji Evaluasi Sediaan
a.
Uji Evaluasi Organoleptis
Evaluasi organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau,
warna, tekstur sedian, konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek responden (
dengan kriteria tertentu ) dengan menetapkan kriterianya pengujianya ( macam
dan item ), menghitung prosentase masing- masing kriteria yang di peroleh,
pengambilan keputusan dengan analisa statistik.
Prinsip: Diamati apakah sediaan yang dibuat
sesuai dengan standar krim
Tujuan
: Untuk dapat mengevaluasi organoleptis sediaan
Metode
:
a)
Bau
: mengenali aroma atau bau sediaan sirup dengan mencium aroma sediaan.
b)
Warna : melihat warna dari sediaan sirup
c)
Bentuk
: mengenali bentuk dari sediaan.
d)
Konsistensi : dirasakan konsistensi dari
krim
Hasil :
-
Bau
: aroma yang ditimbulkan adalah sangat baik (khas methyl salisilat dan asam
salisilat.
-
Warna
: warna sediaan krim ini putih
-
Bentuk : bentuk sediaan krim Sangat
encer (menyerupai larutan)
b.
Evaluasi pH
Prinsip:Pengukuran
pH sediaan dengan menggunakan potensiometri
Tujuan
:Uji ini dilakukan karena sediaan krim metil salisilat ini
untuk penggunaan topikal, maka sediaan harus mempunyai tingkat keasaman atau pH
dalam rentang pH dari permukaan kulit. Hal ini dikarenakan sediaan yang terlalu
asam akan menyebabkan iritasi pada kulit, sedangkan sediaan yang terlalu basa,
akan membuat kulit menjadi kering.
Alat :
pH meter
Cara
Kerja :
a.
Kalibrasi
pH meter dengan larutan dapar standard pH tertentu ( sekitar pH yang akan
diukur )
b.
Timbang
5 gram sediaan + aqua bebas CO2 ad 50 ml, aduk ad homogen.
c.
Electrode
dicuci dengan air ad bersih lalu dikeringkan,
d.
Ukur pH sediaan dan
koreksi dengan temperature percobaan
e.
Bersihkan electrode, bilas
dengan air dan dikeringkan.
f.
Replikasi 3x
Hasil :
Uji pH
dengan menggunakan kertas indikator pH didapatkan pH sediaan sebesar 5-6. pH
ini termasuk dalam rentang persyaratan pH kulit. Sehingga jika sediaan ini
digunakan, maka pH dalam rentang ini termasuk pH yang baik jika digunakan dalam
kulit dan tidak menyebabkan iritasi pada kulit jika digunakan.
c.
Uji Aseptabilitas Sediaan
Dilakukan
pada kulit, dengan berbagai orang yang di kasih suatu quisioner di buat suatu
kriteria
1.
Menentukan
kriteria aseptabilitas yang akan diuji
a.
Kemudahan
dioleskan
b.
Kelembutan
sediaan
c.
Sensasi
yang timbul / kesan saat pemakaian sediaan
d.
Kemudahan
pencucian
e.
Kelengketan
f.
Bau
2.
Lakukan
skoring angka pada masing-masing kriteria
3.
Gunakan
subjek dengan kriteria tertentu
4.
Responden
harus mengisi / menandatangani persyaratan kesediaan menjadi subjek (form
informed consent)
5.
Jelaskan
hal-hal yang harus dilakukan subjek supaya hasil tidak bias
6.
Lakukan
perhitungan data hasil uji untuk setiap kriteria, kalikan dengan skor
masing-masing
7.
Data
ditampilkan dalam bentuk grafik / gambar.
Evaluasi yang dilakukan untuk menguji spesifikasi dari
dari sediaan krim adalah uji evaluasi organoleptis, didapatkan hasil, bau sediaan krim harum, yaitu harum khas metil salisilat. Sediaan krim
berwarna putih, dengan bentuk
sediaan krim Sangat
encer (menyerupai larutan). Hasil pengujian ini dilakukan dari hari 1 sampai hari ke 7, dan didapatkan hasil yang
sama disetiap harinya. Hasil ini Didapatkan hasil
bahwa krim tidak memenuhi spesifikasi berdasarkan literatur, jadi dapat dikatakan krim ini mengalami perubahan secara
organoleptis.
Pada uji selanjutnya yaitu Uji Aseptabilitas Sediaan Krim Methyl Salisilat
yaitu diuji dengan beberapa kriteria yaitu kemudahan dioleskan, kelembutan
sediaan, sensasi yang ditimbulkan atau kesan pada pemakaian sediaan, kemudahan
pencucian, kelengketan dan bau. Dilakukan dengan menyebarkan angket pada 20 koresponden.
Berdasarkan
respon dari beberapa koresponden tentang kelembutan sediaan krim asam salisilat
dan metil salisilat yang telah dibuat, didapatkan hasil yaitu 60 % orang
berpendapat jelek, 20 % orang menyatakan kurang baik, dan 20% orang menyatakan baik.
Sedangkan untuk respon sangat jelek dan
sangat baik adalah 0 %. Jadi dapat
disimpulkan bahwa kelembutan sediaan krim ini jelek.
Pada uji kemudahan
dalam pengolesan sediaan krim asam salisilat dan metil salisilat yang telah
dibuat respon dari beberapa koresponden, didapatkan hasil yaitu 50
% orang berpendapat jelek, 45 % orang
menyatakan kurang baik, dan 5% orang menyatakan baik. Sedangkan untuk respon sangat jelek dan sangat baik
adalah 0 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa
kemudahan dalam pengolesan sediaan krim Ini sangat jelek.
Pada uji Sensasi yang timbul pada sediaan krim asam salisilat dan
metil salisilat yang telah dibuat respon dari beberapa koresponden, didapatkan
hasil yaitu 40 % orang berpendapat jelek, 45
% orang menyatakan kurang baik, dan 15%
orang menyatakan baik. Sedangkan untuk
respon sangat jelek dan sangat baik adalah 0 %.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kemudahan dalam pengolesan sediaan krim ini kurang baik

Pada uji Kemudahan pencucian pada sediaan krim asam salisilat dan
metil salisilat yang telah dibuat respon dari beberapa koresponden, didapatkan
hasil yaitu 53 % orang berpendapat jelek, 37 % orang
menyatakan kurang baik, dan 10% orang
menyatakan baik. Sedangkan untuk respon
sangat jelek dan sangat baik adalah 0 %.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kemudahan dalam pengolesan sediaan krim ini kurang baik
Pada uji Kelengketan pada sediaan krim asam salisilat dan metil
salisilat yang telah dibuat respon dari beberapa koresponden, didapatkan hasil
yaitu 50 % orang berpendapat jelek, 35
% orang menyatakan kurang baik, dan 15%
orang menyatakan baik. Sedangkan untuk
respon sangat jelek dan sangat baik adalah 0 %.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kemudahan dalam pengolesan sediaan krim ini jelek.


Pada uji Bau pada sediaan krim asam salisilat dan metil salisilat yang
telah dibuat respon dari beberapa koresponden, didapatkan hasil yaitu 55
% orang berpendapat jelek, 25 % orang
menyatakan kurang baik, dan 20% orang
menyatakan baik. Sedangkan untuk respon
sangat jelek dan sangat baik adalah 0 %.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kemudahan dalam pengolesan sediaan krim ini jelek.
Berdasarkan Uji aseptabilitas yang telah dilakukan pada sediaan krim Metil
Salisilat, dari 20 koresponden diperoleh hasil sebagai berikut:
1.
Kemudahan
dioleskan : Sangat jelek
2.
Kelembutan
sediaan : Jelek
3.
Sensasi
yang ditimbulkan : Kurang baik
4.
Kemudahan
pencucian : Kurang baik
5.
Kelengketan
sediaan : Jelek
6.
Bau/aroma
sediaan : Jelek
Dari hasil tersebut maka sediaan krim Metil Salisilat
tidak layaj untuk digunakan sebagai sediaan transdermal, karena berdasarkan
pengujian diatas sediaan tidak memenuhi standar.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan
formulasi yang telah dilakukan dalm praktikum semi solid, maka dipeoleh hasil
yaitu dari bentuk sediaan dan hasil uji yang sudah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa krim memiliki hasil
rentang dari kurang baik sampai sangat jelek. Dari hasil ini sediaan tidak
layak digunakan dan tidak bisa mencapai fungsi sebagai analgesik seperti yang
direncanakan pada preformulasi banyak responden yang menyatakan sediaan
kurang baik dan kurang layak.
5.2 Saran
Diharapkan
agar bahan
yang disediakan di laboratorium lebih banyak dan lengkap untuk memaksimalkan
praktikum dan
praktikan diharapkan hadir tepat waktu pada pelaksanaan praktikum.
DAFTAR
PUSTAKA
Anief,
M. 1994. Ilmu Meracik Obat Cetakan 6.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Anonim,
1973. FARMAKOPE INDONESIA EDISI III.
Jakarta ; Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Anonim,
1995. FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV.
Jakarta ; Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Ansel,
H. C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi Edisi 4. Jakarta : UI Press.
Raymond,
Paul J., dan Marian., 2009. Handbook of
Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. London : Royal Pharmaceutical
Society of Great Britain.
Rowe,
R.C., PJ. Sheshky, dan ME. Quinn, 2009. Pharmaceutical
Design. London : Pharmaceutical Press.
Sumardjo,
Damin, 2006. Pengantar Kimia : Buku
Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksata.
Jakarta : EGC.
izin copas
BalasHapus